Bandara Soetta Ditutup Sementara hingga Siang Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau
Baca dalam 60 detik
- Operasional Bandara Soetta dihentikan hingga pukul 13.30 WIB menyusul peningkatan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
- Penutupan ini berpotensi mengganggu jadwal penerbangan domestik dan internasional, memicu penumpukan penumpang di terminal.
- Otoritas bandara meminta calon penumpang memantau informasi resmi maskapai sebelum berangkat ke bandara.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) kembali memperpanjang penghentian operasional penerbangan hingga pukul 13.30 WIB, Minggu (6/9/2026), menyusul meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebarkan abu vulkanik ke wilayah udara Jakarta dan sekitarnya. Keputusan ini diumumkan melalui kanal resmi otoritas bandara, memaksa ribuan calon penumpang menunda perjalanan mereka.
Penutupan yang semula dijadwalkan hanya hingga pukul 05.30 WIB ini diperpanjang secara bertahap, pertama hingga 09.30 WIB, lalu akhirnya menjadi 13.30 WIB. Langkah tersebut diambil setelah pemantauan menunjukkan kolom abu yang masih membahayakan keselamatan penerbangan. Bagi maskapai, penundaan ini berarti penyesuaian jadwal yang rumit, sementara penumpang harus bersabar di tengah ketidakpastian.
Dampak langsung terasa pada lalu lintas penerbangan domestik dan internasional yang melayani Jakarta. Sejumlah maskapai dilaporkan mulai mengumumkan pembatalan atau penundaan penerbangan. Penutupan bandara akibat abu vulkanik memang bukan hal baru di Indonesia, tetapi setiap kejadian menguji kesiapan koordinasi antara otoritas bandara, maskapai, dan penumpang.
Bagi Indonesia, kejadian ini menggarisbawahi kerentanan infrastruktur penerbangan terhadap bencana geologis. Anak Krakatau, yang terletak di Selat Sunda, memiliki sejarah erupsi yang signifikan, termasuk letusan yang memicu tsunami pada 2018. Meski erupsi kali ini tidak sampai menimbulkan tsunami, dampaknya terhadap operasional bandara menunjukkan bagaimana satu peristiwa alam dapat memengaruhi mobilitas jutaan orang dan roda ekonomi nasional.
Otoritas bandara, melalui pernyataan resminya, menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Mereka mengimbau para pengguna jasa untuk memeriksa kembali status penerbangan sebelum berangkat ke bandara. "Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang mungkin terjadi. Terima kasih atas pengertian dan kerja sama seluruh pengguna jasa," demikian bunyi pernyataan yang dikutip dari akun Instagram resmi Bandara Soetta.
Para analis penerbangan memperkirakan gangguan ini akan berlangsung hingga kondisi abu vulkanik benar-benar reda. Mereka menyarankan penumpang yang terdampak untuk segera menghubungi maskapai masing-masing guna mendapatkan opsi pengubahan jadwal atau pengembalian tiket. Sementara itu, otoritas kebandaraan terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk memantau perkembangan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah seberapa cepat bandara dapat kembali beroperasi penuh dan apakah maskapai mampu memulihkan jadwal yang kacau. Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa pemulihan pasca-penutupan bisa memakan waktu hingga beberapa jam setelah operasional dibuka. Bagi para pelancong, kesabaran dan fleksibilitas menjadi kunci, sementara bagi industri penerbangan, kejadian ini kembali mengingatkan pentingnya manajemen risiko bencana yang lebih adaptif.



