IBM Pangkas Proyeksi Pendapatan 2026: Belanja AI Menggerus Bisnis Mainframe
Baca dalam 60 detik
- IBM merevisi turun proyeksi pertumbuhan pendapatan tahun 2026 menjadi 4-5%, lebih rendah dari ekspektasi analis, karena pergeseran belanja pelanggan ke infrastruktur AI.
- Pendapatan kuartal II-2025 IBM senilai $17,16 miliar meleset dari target, dengan penjualan mainframe Z ambles 42% akibat prioritas AI yang menggeser pengeluaran modal.
- CEO Arvind Krishna menyebut permintaan hanya tertunda, bukan hilang, namun sinyal ini memicu kekhawatiran bahwa investasi AI dapat mengorbankan sektor perangkat lunak secara lebih luas.

IBM secara resmi memangkas proyeksi pertumbuhan pendapatan tahunannya untuk 2026, menyusul peringatan pekan lalu bahwa belanja korporasi mulai bergeser ke perangkat keras pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) dan mengorbankan divisi perangkat lunak serta komputer mainframe. Langkah ini menambah kekhawatiran investor bahwa gelombang investasi AI justru menggerus bisnis tradisional raksasa teknologi berusia lebih dari satu abad itu.
Dalam laporan keuangan kuartal kedua yang berakhir 30 Juni 2025, IBM mencatat pendapatan hanya naik 1% menjadi $17,16 miliar—di bawah perkiraan analis sebesar $17,58 miliar. Laba bersih turun menjadi $2,17 miliar, sementara laba per saham disesuaikan sebesar $2,93 juga meleset dari ekspektasi $2,97. Saham IBM sempat naik 2% di perdagangan reguler, namun berbalik melemah tipis setelah jam bursa.
Pemicu utama keterpurukan ini adalah penjualan mainframe Z yang merosot 42% secara tahunan, menyeret pendapatan infrastruktur turun 7% menjadi $3,84 miliar. Padahal, mainframe Z selama ini menjadi tulang punggung transaksi perbankan dan maskapai penerbangan global. Kepala Keuangan IBM, James Kavanaugh, mengakui bahwa perlambatan mainframe menekan pertumbuhan perusahaan lebih dari lima poin persentase—jauh lebih besar dari perkiraan awal yang hanya satu hingga dua poin.
CEO Arvind Krishna, dalam konferensi pers hasil earnings, menegaskan bahwa sebagian besar permintaan yang gagal terealisasi di kuartal kedua berasal dari kesepakatan belanja modal (capex) bernilai besar di kalangan klien korporasi. Namun, ia optimistis sekitar sepertiga dari kesepakatan tersebut telah ditutup pada kuartal ketiga. "Banyak permintaan yang tertunda, bukan hilang," ujar Krishna, seraya menambahkan bahwa IBM tidak melihat bukti pelanggan meninggalkan mainframe dalam jangka panjang.
Analis CFRA, Brooks Idlet, menilai bahwa masalah IBM lebih bersifat spesifik pada hardware, bukan cerminan pelemahan sektor perangkat lunak secara keseluruhan. "Bagi sektor software yang lebih luas, ini seharusnya menjadi kabar positif," katanya. Namun, kekhawatiran tetap mengemuka: apakah perusahaan lain akan mengikuti pola yang sama—mengorbankan belanja software demi mengamankan pasokan server dan chip AI yang langka?
Bagi Indonesia, fenomena ini memberikan pelajaran berharga. Di tengah gencarnya investasi AI oleh korporasi dan pemerintah, termasuk pembangunan pusat data dan adopsi solusi AI generatif, risiko kanibalisasi terhadap infrastruktur TI konvensional perlu diantisipasi. Perusahaan lokal yang bergantung pada sistem mainframe atau perangkat lunak tradisional mungkin menghadapi tekanan serupa jika anggaran TI diprioritaskan ulang. Regulator dan pelaku industri di Indonesia dapat memanfaatkan momen ini untuk mendorong keseimbangan antara adopsi AI dan keberlanjutan sistem warisan (legacy systems).
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah IBM mampu membalikkan tren dengan strategi hybrid cloud dan AI-nya, atau justru akan terus tergerus oleh pesaing seperti Amazon Web Services dan Microsoft Azure yang lebih agresif di ranah AI. Satu hal yang pasti: pergeseran belanja korporasi ke AI bukanlah siklus sementara, melainkan transformasi struktural yang akan membentuk ulang peta persaingan teknologi global.



