Kolaborasi Media Asia-Pasifik Jadi Kunci Lawan Disinformasi di Era AI
Baca dalam 60 detik
- Ketua Asosiasi Jurnalis Thai-China menyerukan penguatan kerja sama media Asia-Pasifik untuk menghadapi tantangan AI dan disinformasi.
- Forum Media Asia-Pasifik di Shenzhen menjadi ajang berbagi pengalaman dan membahas pemanfaatan AI dalam produksi berita.
- Media arus utama dinilai tetap relevan karena memiliki mekanisme verifikasi dan akuntabilitas yang tidak dimiliki kreator konten online.

Ketua Asosiasi Jurnalis Thai-China, Kamphol Mahanukul, menegaskan bahwa penguatan kolaborasi antarmedia di kawasan Asia-Pasifik menjadi langkah krusial untuk membangun konsensus dan saling pengertian di tengah derasnya arus disinformasi yang dipicu oleh kecerdasan buatan (AI). Pernyataan ini disampaikannya menjelang keikutsertaannya dalam Forum Media Asia-Pasifik yang digelar di Shenzhen, China, pada Sabtu (5/9).
Menurut Kamphol, kerja sama media tidak bisa dipisahkan dari semangat integrasi regional yang digaungkan dalam kerangka Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC). Institusi pers, sebagai garda depan penyebaran informasi, dinilainya perlu memperluas pertukaran langsung dan kolaborasi praktis. Hal ini menjadi semakin mendesak mengingat lanskap media yang berubah drastis dalam satu dekade terakhir.
Kamphol menyoroti fenomena menjamurnya kreator konten independen yang tidak lagi memerlukan modal besar untuk memproduksi dan mendistribusikan berita. "Saat ini, siapa pun dengan genggaman ponsel bisa menjadi 'jurnalis'. Namun, kami tetap berharap publik mempercayai media arus utama," ujarnya. Ia menambahkan bahwa media konvensional beroperasi dalam kerangka kelembagaan yang jelas, sehingga setiap informasi yang dipublikasikan dapat dipertanggungjawabkan.
Proses produksi berita di media arus utama, mulai dari peliputan, penulisan, hingga melewati tahap editorial, verifikasi, dan persetujuan akhir, menjadi pembeda utama dengan konten daring yang kerap mengutamakan kecepatan demi mengejar trafik dan pendapatan. "Dulu radio adalah medium tercepat, lalu televisi, dan kini internet. Semua berlomba menjadi yang pertama, dan itu meningkatkan risiko kesalahan," tegas Kamphol.
Di sisi lain, Kamphol mengakui bahwa AI menawarkan efisiensi bagi ruang redaksi, seperti membantu memantau peristiwa terkini, menulis, menyunting, dan memeriksa fakta. Namun, ia menggarisbawahi bahwa verifikasi fakta, penilaian profesional, dan tanggung jawab atas laporan tetap menjadi tugas fundamental yang tidak bisa didelegasikan kepada mesin.
Sejak berdiri lebih dari satu dekade lalu, Asosiasi Jurnalis Thai-China telah aktif memfasilitasi pertukaran berita, kunjungan timbal balik jurnalis, dan pelatihan profesional. Jurnalis Thailand telah mengikuti pelatihan di China terkait pemanfaatan AI dan produksi konten media baru. Kini, kedua pihak tengah memperluas berbagi sumber daya berita, termasuk materi visual seperti foto dan video, dengan tetap menghormati hak cipta dan otorisasi.
Forum Media Asia-Pasifik di Shenzhen, menurut Kamphol yang telah berkarier lebih dari 20 tahun, menjadi wadah strategis untuk berbagi pengalaman dalam peliputan dan penyuntingan, sekaligus mendiskusikan penggunaan AI dalam produksi berita. Ia berharap forum ini dapat melahirkan platform kerja sama yang lebih stabil dan permanen bagi organisasi media dan asosiasi jurnalis di Thailand, China, dan seluruh kawasan.
Bagi Indonesia, wacana ini relevan dengan upaya Dewan Pers dan perusahaan media nasional dalam memerangi berita bohong. Kolaborasi serupa di tingkat ASEAN, misalnya melalui Konfederasi Jurnalis ASEAN, dapat menjadi model untuk memperkuat ketahanan informasi di kawasan. Pertanyaannya, mampukah media Indonesia mengambil peran lebih aktif dalam mendorong tata kelola informasi yang sehat di tengah gempuran algoritma dan konten buatan AI?



