Mariska Hargitay Raih Dua Emmy dalam Satu Malam, Siap Pimpin Acara Puncak
Baca dalam 60 detik
- Aktris Mariska Hargitay memenangi dua piala Emmy untuk film dokumenter tentang ibunya, Jayne Mansfield, sekaligus mencatatkan namanya sebagai pembawa acara Emmy Awards mendatang.
- Kemenangan Octavia Spencer di kategori narator menghentikan rekor Sir David Attenborough sebagai pemenang Emmy tertua, menandai pergeseran apresiasi industri terhadap suara-suara baru.
- The Late Show with Stephen Colbert memutus dominasi Last Week Tonight di kategori penulisan variety series, menimbulkan pertanyaan tentang arah kompetisi di masa depan.

Malam pertama Primetime Emmy Awards 2026 di Peacock Theater, Los Angeles, menjadi saksi pencapaian ganda Mariska Hargitay. Bintang Law & Order: Special Victims Unit itu membawa pulang dua piala untuk film dokumenter garapannya, My Mom Jayne, sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu figur paling berpengaruh di industri televisi Amerika saat ini.
Kemenangan tersebut terasa istimewa karena datang hanya beberapa hari setelah kepergian Gloria Steinem, ikon feminisme yang juga sahabat dekat Hargitay. Dalam pidato penerimaannya, Hargitay menyampaikan pesan Steinem tentang pentingnya berbagi kisah pribadi. Ia mengaku baru menyadari selama pandemi bahwa kisah ibunya, mendiang aktris Jayne Mansfield, adalah cerita yang harus ia sampaikan sendiriโbaik di depan maupun di belakang kamera.
Film My Mom Jayne berhasil mengungguli sejumlah nomine berat seperti dokumenter tentang Mel Brooks dan John Candy. Di kategori penyutradaraan, Hargitay mengalahkan nama-nama seperti Judd Apatow dan Lawrence Kasdan. Ini bukan sekadar kemenangan simbolis; ini menegaskan bahwa dokumenter personal dengan sentuhan emosional masih punya tempat di tengah gempuran produksi berskala besar.
Sementara itu, kejutan datang dari Octavia Spencer. Aktris berusia 56 tahun itu meraih Emmy pertamanya untuk narasi dalam serial Lost Women of Alaska, mengalahkan Sir David Attenborough yang dua kali masuk nominasi. Kekalahan Attenborough, yang genap berusia 100 tahun, sekaligus menggagalkan rekor pemenang tertua dalam sejarah Emmyโsebuah ironi yang menarik untuk dicermati.
Di kategori lain, The Late Show with Stephen Colbert mencatatkan kemenangan penting meski sempat dihantam isu pembatalan. Acara ini mengakhiri dominasi Last Week Tonight with John Oliver yang bertahan satu dekade di kategori Outstanding Writing for a Variety Series. Produser eksekutif Tom Purcell menyampaikan apresiasi kepada Oliver dan Jimmy Kimmel sebagai pilar industri late-night yang terus menjaga tradisi.
Bagi penonton Indonesia, ajang Emmy kerap menjadi barometer kualitas produksi televisi global. Meski tidak ada nominasi dari Asia Tenggara tahun ini, tren dokumenter personal dan narasi beragam bisa menjadi pelajaran bagi sineas lokal. Platform streaming yang semakin mudah diakses membuka peluang bagi pembuat film Indonesia untuk menembus panggung internasional, seperti yang dilakukan Hargitay dengan kisah keluarganya.
Malam kedua Emmy yang digelar Minggu (6/9) akan menjadi penentu bagi kategori-kategori utama lainnya. Namun yang paling dinantikan adalah peran ganda Hargitay sebagai pembawa acara pada 14 September nanti. Mampukah ia menjaga ritme setelah sapu bersih di malam pertama? Atau justru tekanan sebagai tuan rumah akan memengaruhi penampilannya? Publik menanti.



