Pangeran William Mewakili Raja Charles di Pemakaman Raja Harald V: Simbol Eratnya Ikatan Dua Kerajaan
Baca dalam 60 detik
- Pangeran William akan hadir mewakili Raja Charles III pada pemakaman Raja Harald V di Oslo, Rabu (9/9/2026), sebuah langkah yang mengikuti protokol kerajaan Inggris.
- Putri Anne juga akan hadir secara pribadi karena menjadi ibu baptis Raja Haakon, putra Harald V yang baru naik takhta.
- Kehadiran William menegaskan hubungan historis Inggris-Norwegia, yang diperkuat sejak Norwegia merdeka pada 1905 dan masa Perang Dunia II.

Pangeran William, Putra Mahkota Inggris, dijadwalkan terbang ke Oslo pada Rabu (9/9/2026) untuk menghadiri pemakaman Raja Harald V di Katedral Oslo. Kehadirannya bukan sekadar formalitas diplomatik, melainkan simbol nyata dari hubungan historis yang mengikat Kerajaan Inggris dan Norwegia, dua monarki yang telah bersahabat selama lebih dari satu abad.
Dalam tradisi kerajaan Inggris, seorang raja yang berkuasa tidak menghadiri pemakaman kepala negara asing. Oleh karena itu, Raja Charles III menunjuk putra sulungnya, Pangeran William, sebagai perwakilan resmi. Keputusan ini sejalan dengan preseden yang telah berlangsung lama, sebagaimana terlihat saat William mewakili ayahnya pada pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan pada April tahun lalu. Sementara itu, Putri Anne, saudara perempuan Raja Charles, akan hadir dalam kapasitas pribadi karena ia adalah ibu baptis dari Raja Haakon, putra Harald V yang kini naik takhta.
Raja Harald V meninggal dunia pada 28 Agustus lalu di usia 89 tahun setelah memimpin Norwegia selama 35 tahun. Selama masa pemerintahannya, ia dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan dekat dengan rakyatnya, membawa Norwegia melalui berbagai perubahan besar dengan kehangatan yang khas. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi warga Norwegia, tetapi juga bagi keluarga kerajaan Inggris yang memiliki ikatan darah dengannya.
Hubungan antara dua keluarga kerajaan ini memang sangat erat. Raja Charles dan Raja Harald adalah sepupu kedua, karena keduanya memiliki kakek buyut yang sama, yaitu Raja Edward VII dan Ratu Alexandra. Dalam pernyataan resminya, Raja Charles menyampaikan belasungkawa yang tulus, menyebut Harald sebagai "sepupu tersayang" dan mengenang pengabdiannya yang tak tergoyahkan selama tiga dekade lebih. Ia juga menyinggung sejarah panjang persahabatan kedua negara, yang dimulai ketika Inggris menjadi salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Norwegia pada 1905 dan menjalin hubungan diplomatik. Ikatan ini semakin kuat saat kedua negara bersekutu melawan Nazi Jerman pada Perang Dunia II.
Bagi Indonesia, berita ini mungkin tampak jauh dari keseharian, tetapi memiliki relevansi dalam konteks hubungan diplomatik dan monarki di era modern. Indonesia, sebagai negara dengan beragam kerajaan tradisional, dapat memetik pelajaran tentang bagaimana simbol-simbol kerajaan digunakan untuk memperkuat diplomasi dan persahabatan antarnegara. Kunjungan Pangeran William juga menjadi pengingat bahwa di tengah dunia yang semakin republik, institusi monarki masih memainkan peran penting dalam menjaga kontinuitas hubungan bilateral.
Pangeran William sendiri harus mengatur jadwalnya dengan cermat. Perjalanan ke Norwegia ini dilakukan di sela-sela agenda publiknya yang padat, termasuk persiapan putra sulungnya, Pangeran George yang berusia 13 tahun, untuk memulai pendidikan di Eton College. Meski demikian, kehadirannya di Oslo menunjukkan prioritas tinggi yang diberikan keluarga kerajaan Inggris pada hubungan dengan Norwegia. Sebelumnya, pada 2018, William dan istrinya, Catherine, sempat berdialog dengan Raja Harald dan Ratu Sonja di Istana Kerajaan Oslo saat melakukan kunjungan resmi.
Pemakaman Raja Harald V akan menjadi momen bersejarah bagi Norwegia, sekaligus menjadi ajang pertemuan para pemimpin dunia dan keluarga kerajaan Eropa. Kehadiran Pangeran William tidak hanya memperkuat ikatan historis, tetapi juga membuka babak baru hubungan antara Inggris dan Norwegia di bawah kepemimpinan Raja Haakon. Pertanyaannya, bagaimana Raja Haakon akan melanjutkan warisan ayahnya dalam mempererat persahabatan dengan Inggris, terutama di tengah dinamika politik Eropa yang terus berubah? Semua mata akan tertuju pada Oslo, menyaksikan perpaduan antara tradisi dan perubahan di panggung kerajaan Eropa.



