Abu Vulkanik Anak Krakatau Mengancam Kesehatan: Pakar Desak Penggunaan Masker N95 dan KN95
Baca dalam 60 detik
- Paparan abu vulkanik Anak Krakatau dapat memicu ISPA, iritasi, hingga silikosis karena kandungan silika dan asam korosif.
- Pakar kebencanaan Dr. Daryono mengimbau warga di area terdampak untuk membatasi aktivitas luar dan menggunakan masker N95/KN95 serta goggles.
- Status Siaga Level III dengan radius aman 3 km masih berlaku, sementara sebaran abu telah mencapai Banten, Lampung, Jakarta, dan Bogor.

Hujan abu vulkanik yang menyelimuti kawasan Lampung Selatan dan sebagian Jawa Barat sejak Minggu (6/9/2026) dini hari bukan sekadar gangguan visual โ di balik lapisan abu tersebut mengintai ancaman kesehatan serius yang kerap disepelekan masyarakat. Partikel halus hasil letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda itu memiliki karakteristik fisik yang tajam dan mengandung senyawa kimia korosif yang mampu menembus pertahanan alami tubuh manusia.
Pakar kebencanaan yang juga anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Dr. Daryono, dalam keterangan tertulisnya, Minggu, mengingatkan bahwa abu vulkanik tidak bisa disamakan dengan debu tanah atau pasir biasa. Abu letusan gunung api pada dasarnya adalah pecahan kaca silika dan fragmen batuan berukuran mikroskopis di bawah 2 milimeter. "Ukuran yang sangat halus ini memungkinkan abu menembus sistem penyaringan alami di hidung dan meluncur langsung menuju saluran pernapasan bagian dalam hingga ke alveolus paru-paru," ujarnya.
Yang lebih mencemaskan, setiap partikel abu tersebut diselimuti senyawa kimia asam agresif seperti asam sulfat dan asam klorida, serta residu mineral dan logam berat. Ketika bersentuhan dengan membran jaringan tubuh yang lembap โ seperti saluran pernapasan, mata, atau kulit โ reaksi kimia berbahaya pun terjadi. "Dampaknya tidak hanya memicu peradangan pada saluran pernapasan, tetapi juga dapat menyebabkan iritasi parah, rasa terbakar pada mata, serta gangguan pada kulit," jelas Daryono.
Daryono memaparkan dampak kesehatan yang muncul dalam dua fase. Dalam jangka pendek, warga rentan mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), batuk kering, iritasi mata, hingga sesak napas akut โ terutama bagi penderita asma atau alergi. Sementara dalam jangka panjang, endapan silika bebas yang tertahan di organ dalam dapat memicu penyakit paru obstruktif menahun. "Endapan silika bebas yang tertimbun di dalam paru-paru dapat menyebabkan pembentukan jaringan parut permanen atau silikosis, yang berisiko menurunkan fungsi paru-paru secara drastis," tegasnya.
Untuk meminimalkan risiko, ia mengimbau warga di area terdampak โ yang menurut laporan mencakup Banten, Lampung, Jakarta, Depok, hingga Bogor โ untuk membatasi aktivitas di luar ruangan sampai intensitas abu mereda. Bagi yang terpaksa keluar rumah, penggunaan alat pelindung diri standar menjadi keharusan. Masker N95 atau KN95 disebut sebagai pilihan yang efektif untuk menyaring partikel halus, berbeda dengan masker bedah biasa yang hanya mampu menahan partikel lebih besar. Selain itu, kacamata pelindung atau goggles direkomendasikan untuk mencegah iritasi mata akibat paparan langsung.
Bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di sekitar kawasan rawan erupsi, imbauan ini bukan sekadar formalitas. Dengan sejarah letusan dahsyat Krakatau pada 1883 yang memengaruhi iklim global, fenomena abu vulkanik adalah pengingat bahwa kesiapsiagaan individu adalah garis pertahanan pertama. Pemerintah daerah dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pun terus memantau perkembangan status gunung yang masih berada di Level III (Siaga) dengan rekomendasi jarak aman radius 3 kilometer dari pusat kawah.
Pertanyaannya kini: akankah masyarakat di wilayah terdampak โ yang kerap menganggap abu vulkanik sebagai gangguan musiman โ benar-benar mematuhi imbauan untuk mengenakan masker berstandar tinggi? Atau justru diperlukan edukasi yang lebih masif dan pembagian masker gratis oleh pemerintah agar kesadaran kolektif terbentuk sebelum dampak kesehatan yang lebih serius muncul?



