Gamuda AI Academy: Membuka Gerbang Karier Teknologi untuk Semua Kalangan di Malaysia
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 350 lulusan dari berbagai latar belakang non-teknis telah mengikuti program Gamuda AI Academy sejak 2024.
- Akademi ini dirancang sebagai katalis mobilitas sosial, memungkinkan peserta dari segala usia untuk beralih ke karier AI dan deep tech.
- Dengan tiga kampus di Malaysia, GAIA berpotensi menjadi model bagi negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, dalam mengatasi kesenjangan talenta digital.

Gamuda Technologies, raksasa konstruksi asal Malaysia, tengah mengubah paradigma perekrutan talenta artificial intelligence (AI) dengan mendirikan Gamuda AI Academy (GAIA). Akademi yang diluncurkan pada 2024 ini secara tegas menolak anggapan bahwa karier di bidang AI hanya milik lulusan baru ilmu komputer dari universitas ternama. Justru, GAIA hadir untuk membuktikan bahwa usia, latar belakang pendidikan, dan lokasi geografis bukanlah penghalang untuk menguasai teknologi masa depan.
Sejak berdiri, GAIA telah meluluskan lebih dari 350 peserta yang tersebar di tiga kampus: Kuala Lumpur, Sabah, dan Sarawak. Kampus terakhir ini merupakan hasil kolaborasi dengan Centre for Technology Excellence Sarawak (CENTEXS). Inisiatif ini merupakan jawaban atas kesenjangan talenta AI yang kian terasa di Malaysia, sekaligus upaya strategis Gamuda untuk menyiapkan tenaga kerja masa depan yang melek teknologi.
Yang menarik, kurikulum GAIA tidak hanya berfokus pada aspek teknis. Mohamed Syafiq Nor Hisham, pelatih utama di kampus Kuala Lumpur, menegaskan bahwa misi akademi ini melampaui sekadar pengajaran koding. Banyak peserta datang dari latar belakang non-teknologi, seperti lulusan humaniora, mantan tenaga penjualan, hingga pekerja pabrik. โBagian paling memuaskan adalah ketika mereka mampu mengembangkan sistem sendiri dan akhirnya beralih karier menjadi insinyur perangkat lunak,โ ujarnya.
Kisah para alumni menjadi bukti nyata keberhasilan pendekatan ini. Wes Lee Wei Fan, kini insinyur perangkat lunak senior di Gamuda Technologies, mengaku bahwa GAIA mengubah cara pandangnya terhadap pekerjaan. Dari sekadar menulis kode dan memperbaiki bug, ia kini terlibat dalam pembangunan produk secara menyeluruh dengan memanfaatkan AI dan model bahasa besar (LLM). โDi GAIA, saya mendapat kursi terdepan untuk melihat gambaran besarnya. Kami membangun sistem, memiliki produk, dan menerima umpan balik dari pengguna langsung,โ katanya.
Kisah James Imran Miller tak kalah inspiratif. Setelah kehilangan pekerjaan di bidang penjualan pada 2024, ia sempat mencoba menjadi pengemudi e-hailing sambil melamar lebih dari 500 pekerjaan. Berbekal tekad, ia mempelajari analitik data secara otodidak dan akhirnya bergabung dengan GAIA. Kini, ia menjabat sebagai manajer unit manajemen pengiriman di MyDigital Corporation. โGAIA menghilangkan mitos bahwa saya harus memilih antara pengembangan perangkat lunak atau manajemen proyek. Saya bisa menggabungkan keduanya,โ ujarnya.
Raina Radzaif, yang sebelumnya berkarier di sektor kemanusiaan, juga merasakan dampak transformatif GAIA. Setelah mengalami pemutusan hubungan kerja, ia memutuskan untuk kembali ke bangku pelatihan. โSaya merasa seperti dinosaurus di antara orang-orang yang 20 tahun lebih muda. Namun, kini saya bisa membuat prototipe solusi sendiri tanpa harus bergantung pada profesional teknis,โ tuturnya. Hal serupa diungkapkan Siti Sarah Dzulkifli, yang beralih dari insinyur pabrik menjadi ibu rumah tangga, lalu merintis bisnis online, dan akhirnya menjadi insinyur data di Cloud Space Sdn Bhd. โGAIA menjadi jembatan yang menghubungkan pengalaman masa lalu saya dengan perangkat data modern,โ katanya.
Kehadiran GAIA tidak hanya relevan bagi Malaysia, tetapi juga bagi Indonesia. Kesenjangan talenta digital menjadi tantangan bersama di kawasan ASEAN. Model GAIA yang inklusif dan berbasis pada pelatihan ulang (reskilling) dapat menjadi inspirasi bagi perusahaan-perusahaan Indonesia yang tengah bertransformasi menuju ekonomi digital. Jika Malaysia mampu membuktikan bahwa AI bukanlah hak istimewa segelintir orang, maka Indonesia pun seharusnya dapat menempuh jalan serupa.
Ke depannya, GAIA berencana memperluas jangkauan dan terus menerima kohort baru. Pertanyaannya, akankah inisiatif serupa muncul di Indonesia? Dengan populasi muda yang besar dan adopsi teknologi yang pesat, Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk melahirkan akademi serupa. Namun, dibutuhkan kemauan politik dan investasi dari sektor swasta untuk mewujudkannya. Mampukah Indonesia meniru jejak Malaysia dalam mendemokratisasi akses terhadap pendidikan AI?



