Banjir Nepal: Tim Forensik Singapura Berjuang Identifikasi Ribuan Korban, Indonesia Perlu Belajar?
Baca dalam 60 detik
- Hampir 4.900 orang masih hilang pascabanjir dahsyat di Nepal, dengan tim forensik asing termasuk dari Singapura dikerahkan untuk membantu identifikasi.
- Korban yang ditemukan jauh melampaui kapasitas identifikasi setempat; baru 100 dari 1.342 jenazah yang berhasil dipulangkan ke keluarga.
- Pengalaman Nepal menjadi pengingat bagi negara rawan bencana seperti Indonesia akan pentingnya kesiapan sistem identifikasi korban dan manajemen bencana.

Lebih dari seminggu setelah banjir bandang melanda Nepal pada 26 Agustus lalu, duka masih menyelimuti Kathmandu. Di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tribhuvan, dinding-dinding dipenuhi foto dan nama orang hilang, sebuah papan pengumuman darurat yang menjadi simbol keputusasaan ratusan keluarga. Hingga 5 September, setidaknya 1.342 jenazah telah ditemukan, namun kurang dari 100 yang berhasil diidentifikasi dan dikembalikan ke keluarga. Sementara itu, 4.886 orang lainnya masih dinyatakan hilang atau tak dapat dihubungi, membuat skala sebenarnya bencana ini masih belum jelas.
Keterbatasan kapasitas identifikasi korban menjadi masalah krusial. Otoritas Nepal telah mengumpulkan lebih dari 2.200 sampel DNA, termasuk dari 1.260 jenazah dan lebih dari 1.000 kerabat yang mencari orang terkasih. Detail 1.270 jenazah yang belum teridentifikasi juga diunggah secara daring untuk membantu keluarga mencari koneksi. Namun, proses identifikasi berjalan lambat karena kondisi jenazah yang membusuk dan terfragmentasi akibat terjangan air, menyulitkan pengumpulan data forensik.
Untuk mengatasi tekanan ini, tim spesialis dari Kepolisian Singapura (SPF) diterjunkan ke Kathmandu, bergabung dengan ahli forensik dari India, China, dan Korea Selatan. Kontingen berjumlah 35 orang ini mulai berangkat sejak 1 September. Mereka bertugas memeriksa jenazah dan mengumpulkan bukti identitas seperti DNA, sidik jari, dan foto. Asisten Komisaris Polisi Singapura, Eugene Wang, yang memimpin operasi identifikasi korban bencana (DVI), menjelaskan bahwa kondisi jenazah yang membusuk dan rusak akibat air membuat proses identifikasi menjadi jauh lebih sulit. "Kami ingin bekerja menuju identifikasi yang akan membantu rekonsiliasi dan memberikan sedikit kedamaian serta harapan bagi keluarga," ujarnya.
Di Distrik Chitwan, sekitar 150 km dari ibu kota, rumah sakit hanya memiliki ruang penyimpanan jenazah untuk sekitar 50 orang, padahal lebih dari 200 jenazah telah ditemukan. Akibatnya, otoritas setempat mulai menguburkan sementara para korban setelah sampel forensik diambil. Sistem ini dirancang agar jika DNA kemudian cocok, pihak berwenang dapat menemukan dan menggali kembali jenazah untuk diserahkan kepada keluarga. Om Bahadur Rana, Deputi Inspektur Jenderal Kepolisian Nepal, mengakui bahwa menemukan semua jenazah adalah tugas yang sangat menantang, dan berharap bantuan asing dapat mempercepat prosesnya.
Bencana ini juga berdampak pada warga negara asing, termasuk sembilan warga Singapura yang masih hilang. Tim tanggap krisis dari Kementerian Luar Negeri Singapura telah berada di Nepal sejak 27 Agustus, mengumpulkan sampel DNA dari keluarga korban dan bekerja sama dengan otoritas setempat. Joshua Lim, Sekretaris Pertama di Komisi Tinggi Singapura di New Delhi, menegaskan komitmen mereka: "Kami mengejar setiap kemungkinan petunjuk, dan dalam batasan yang ditetapkan oleh otoritas Nepal, kami melakukan segala yang kami bisa untuk membantu pencarian warga Singapura yang hilang."
Bagi Indonesia, bencana Nepal ini menjadi cermin penting. Sebagai negara yang terletak di Cincin Api Pasifik dan memiliki banyak daerah rawan banjir serta gempa, Indonesia perlu mengevaluasi kesiapan sistem identifikasi korban bencana. Pengalaman Nepal menunjukkan bahwa koordinasi internasional dan teknologi forensik sangat vital dalam situasi darurat. Meski Indonesia telah memiliki tim DVI dari Polri, pengembangan kapasitas dan prosedur standar perlu terus diasah, termasuk simulasi berkala dan kerja sama dengan negara lain.
Di tengah duka yang mendalam, kisah Banjyan Tamang, seorang ibu yang kehilangan delapan anggota keluarganya di Distrik Rasuwa, menggambarkan kepedihan yang tak terperi. Tanpa foto dan ponsel, ia hanya bisa berharap dan bertanya, "Tidak ada jejak mereka sampai sekarang. Apa yang harus saya lakukan? Jika mereka selamat dan hidup di suatu tempat, saya siap pergi menyelamatkan mereka sendiri. Tapi pada titik ini, kami tidak tahu apakah kami mencari yang mati atau yang hidup."
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana Nepal dan negara-negara lain dapat memperkuat sistem manajemen bencana mereka agar tragedi serupa tidak berlarut-larut. Apakah identifikasi ribuan korban akan tuntas dalam waktu dekat, atau justru meninggalkan luka panjang bagi keluarga yang tak kunjung mendapat kepastian? Jawabannya masih menggantung, namun kolaborasi internasional yang terjadi saat ini setidaknya memberikan secercah harapan di tengah kelamnya duka.



