Keajaiban di Nepal: Perempuan 64 Tahun Ditemukan Hidup Setelah 10 Hari Terkubur Lumpur
Baca dalam 60 detik
- Seorang perempuan lanjut usia di Nepal selamat setelah 10 hari terkubur lumpur akibat bencana glasial yang dipicu runtuhnya es dan bebatuan di perbatasan China-Nepal.
- Tim penyelamat Nepal terus bekerja ekstra keras; total korban tewas gabungan mencapai 1.375 orang dengan lebih dari 5.500 orang masih hilang.
- Peristiwa ini menyoroti kerentanan kawasan Himalaya terhadap perubahan iklim, yang juga relevan bagi Indonesia dalam konteks mitigasi bencana hidrometeorologi.

Nuwakot, Nepal โ Tim penyelamat berhasil mengevakuasi seorang perempuan berusia 64 tahun dalam keadaan hidup dari reruntuhan rumahnya yang tertimbun lumpur tebal, sepuluh hari setelah bencana banjir bandang dahsyat melanda kawasan perbatasan China-Nepal. Perempuan bernama Chandrika Shrestha itu ditarik keluar dari puing-puing oleh personel Pasukan Polisi Bersenjata Nepal pada Sabtu (5/9), disambut sorak sorai para petugas yang telah berjuang tanpa lelah mencari korban selamat.
Shrestha ditemukan saat tim pembersih sedang menyisir area terdampak di Distrik Nuwakot. Wakil Inspektur Polisi Iqbal Hawari mengonfirmasi bahwa perempuan itu segera diterbangkan ke Kathmandu untuk mendapatkan perawatan intensif. Rekaman video yang dirilis otoritas setempat memperlihatkan hanya sebagian atap rumah yang masih terlihat, sementara lantai bawahnya tenggelam dalam lumpur pekat. Keberhasilan ini menjadi secercah harapan di tengah duka mendalam yang menyelimuti Nepal dan wilayah otonom Tibet di China.
Bencana ini dipicu oleh runtuhnya gletser dan bebatuan pada 26 Agustus lalu, yang memicu gelombang air dan lumpur setinggi tsunami menerjang lembah-lembah di sepanjang perbatasan. Sebelumnya, tim penyelamat juga menemukan seorang pria asal China yang selamat di dalam terowongan Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Upper Trishuli-1 di Distrik Rasuwa. Namun, skala kehancuran masih sangat luas; Badan Penanggulangan Bencana Nasional Nepal melaporkan telah menemukan 1.344 jenazah, sementara sekitar 5.000 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Di sisi China, media pemerintah mengonfirmasi 31 orang tewas dan 531 orang hilang, menjadikan total korban tewas gabungan mencapai 1.375 jiwa dengan lebih dari 5.500 orang belum ditemukan.
Peristiwa ini menggarisbawahi dampak nyata perubahan iklim di kawasan Himalaya, yang oleh para ilmuwan disebut sebagai 'menara air' Asia. Mencairnya gletser akibat peningkatan suhu global meningkatkan risiko longsor dan banjir bandang glasial. Bagi Indonesia, bencana serupa mungkin tidak persis sama, tetapi pola kerentanannya relevan: banyak wilayah di tanah air yang rawan terhadap tanah longsor dan banjir bandang, terutama di daerah pegunungan dan perbukitan. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya penguatan sistem peringatan dini dan tata ruang yang memperhitungkan risiko bencana hidrometeorologi.
Operasi pencarian dan pertolongan masih terus berlangsung, dengan tim gabungan mengerahkan alat berat dan anjing pelacak untuk menjangkau area yang sulit diakses. Namun, peluang menemukan korban selamat semakin menipis seiring berjalannya waktu. Para ahli memperkirakan bahwa proses pemulihan akan memakan waktu bertahun-tahun, tidak hanya untuk membangun kembali infrastruktur fisik, tetapi juga untuk memulihkan trauma psikologis para penyintas.
Di tengah upaya penyelamatan, muncul pertanyaan mendasar: apakah negara-negara di kawasan Himalaya, termasuk Indonesia, telah cukup siap menghadapi bencana yang dipicu oleh perubahan iklim yang semakin ekstrem? Kejadian di Nepal ini menjadi pengingat bahwa kolaborasi internasional dan investasi dalam teknologi mitigasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.



