Fury Pilih Berkelahi di Thailand: Sindir Atlet Top yang ‘Lebay’ soal Gengsi
Baca dalam 60 detik
- Tyson Fury akan bertarung di Pattaya, Thailand, di hadapan 1.500 penonton tanpa siaran langsung, sebagai bentuk kritik terhadap atlet modern yang dianggap terlalu mementingkan popularitas.
- Pertarungan melawan Mariusz Wach disiapkan dalam waktu tiga minggu, dengan hasil penjualan tiket disumbangkan untuk anak-anak difabel setempat.
- Kemenangan di laga ini membuka jalan menuju duel yang sudah lama dinanti melawan Anthony Joshua, meski Fury menegaskan fokusnya hanya pada pertarungan Jumat ini.

Tyson Fury, mantan juara dunia kelas berat, memilih tampil di hadapan 1.500 penonton di Pattaya, Thailand, ketimbang mengejar keuntungan finansial yang lebih besar di tempat lain. Keputusan itu ia gunakan untuk menyindir sejumlah atlet top dunia yang menurutnya terlalu membesar-besarkan status mereka.
Pada konferensi pers Rabu (19/6), Fury membandingkan langkahnya dengan figur seperti David Beckham. “Apakah Beckham mau bermain sepak bola profesional di sini? Tidak mungkin. Banyak selebritas dan bintang olahraga merasa diri mereka lebih besar dari kenyataan,” ujar petinju asal Inggris berusia 37 tahun itu.
Pertarungan melawan Mariusz Wach, petinju Polandia berusia 46 tahun, digelar Jumat ini tanpa siaran langsung. Laga itu justru akan menjadi bagian dari musim ketiga serial dokumenter Netflix ‘At Home with the Furys’. Promotor Spencer Brown mengungkapkan bahwa Fury menolak tawaran yang jauh lebih menguntungkan secara finansial demi tampil di Thailand. Seluruh keuntungan tiket akan disumbangkan ke yayasan lokal yang mendukung anak-anak kurang mampu dan penyandang disabilitas.
Fury, yang kerap menjalani kamp pelatihan di Thailand, tampak santai dan bersemangat. “Saya merasa damai. Sebelumnya saya di bawah tekanan besar. Iklim hangat membuat saya segar kembali,” katanya. Namun, ia juga melontarkan kritik tajam terhadap juara kelas berat saat ini—Agit Kabayel (WBC), Murat Gassiev (WBA), dan Daniel Dubois (WBO). Menurut Fury, mereka mendapatkan gelar tanpa benar-benar menghadapi lawan tangguh. “Saya bertarung melawan legenda dan mengalahkan mereka. Mereka ada di kelompok kecil, saya di puncak Empire State Building,” sindirnya.
Wach, yang kalah dalam tujuh dari sepuluh laga terakhirnya, berjanji akan menghancurkan rencana duel Fury-Joshua dengan menciptakan kejutan. Namun, Fury dengan cepat menepis anggapan bahwa ia meremehkan lawannya. “Saya hanya fokus pada Anda. Nol minat pada Joshua,” tegasnya. Keduanya mengakhiri konferensi pers dengan saling berpelukan setelah bertukar candaan.
Bagi penggemar tinju Indonesia, keputusan Fury tampil di Thailand—negara tetangga yang relatif dekat—bisa menjadi angin segar. Meski tidak ada petinju Indonesia yang terlibat, langkah Fury menunjukkan bahwa Asia Tenggara mulai dilirik sebagai tuan rumah pertarungan besar, sekaligus mengingatkan bahwa gengsi dan popularitas bukanlah segalanya dalam olahraga.
Ke depannya, jika Fury berhasil melewati Wach dan Joshua juga menang, duel yang sudah dinanti lebih dari satu dekade itu akhirnya terwujud. Pertanyaannya, mampukah Fury mempertahankan sikap rendah hati dan fokusnya di tengah gemerlap panggung besar?



