Padatnya Kalender Tenis: Sinner dan Djokovic Mundur dari Kanada, Direktur Turnamen Minta Perubahan
Baca dalam 60 detik
- Jannik Sinner dan Novak Djokovic memutuskan mundur dari Canadian Open Masters 1000, menyusul Carlos Alcaraz yang masih dalam pemulihan cedera pergelangan tangan.
- Direktur turnamen Valerie Tetreault menilai jadwal kompetisi yang terlalu padat menjadi penyebab utama dan mendesak ATP melakukan evaluasi menyeluruh.
- Seruan reformasi kalender semakin menguat seiring meningkatnya angka cedera pemain top, termasuk Jack Draper dan Emma Raducanu yang mundur dari Wimbledon.

Dua bintang tenis dunia, Jannik Sinner dan Novak Djokovic, secara mengejutkan mengumumkan pengunduran diri dari Canadian Open yang akan berlangsung di Montreal pada 2–13 Agustus mendatang. Keputusan ini menambah daftar panjang absensi pemain papan atas di turnamen Masters 1000, memicu kekhawatiran serius tentang kepadatan kalender tenis profesional.
Direktur turnamen, Valerie Tetreault, mengungkapkan kekecewaannya dan menekankan bahwa masalah ini sudah berulang. “Kami sangat kecewa karena tahun lalu mereka juga absen di Toronto. Kami menghormati keputusan pemain, tetapi frekuensi pengunduran diri mendadak ini menjadi isu besar bagi olahraga kami,” ujarnya dalam pernyataan resmi. Tetreault menambahkan bahwa pihaknya telah berdiskusi dengan ATP untuk mencari solusi jangka panjang.
Pengunduran diri Sinner beralasan ingin menjaga kondisi fisiknya setelah memenangi Wimbledon, sementara Djokovic tidak memberikan detail spesifik. Sementara itu, Carlos Alcaraz masih menjalani pemulihan cedera pergelangan tangan yang membuatnya absen sejak April. Absennya tiga pemain top ini menjadi pukulan bagi penyelenggara dan penggemar yang menantikan aksi mereka.
Kalender tenis yang padat memang menjadi sorotan. Tujuh dari sembilan turnamen Masters 1000—level tertinggi di bawah Grand Slam—kini digelar dalam 12 hari. Musim kompetisi bagi pemain papan atas bahkan membentang hingga 11 bulan. Petenis asal Inggris, Jack Draper, yang mundur dari Wimbledon karena cedera lengan, menyebut tingkat cedera saat ini “cukup mengkhawatirkan”. Pendapat senada pernah dilontarkan Alcaraz pada September 2024: “Mereka akan membunuh kami.”
Tak hanya ATP, sirkuit WTA juga mengalami masalah serupa. Aryna Sabalenka dan Iga Swiatek mundur dari Dubai Championships pada awal tahun ini, hanya dua hari sebelum turnamen dimulai. Direktur turnamen Dubai, Salah Tahlak, bahkan mengusulkan pemotongan poin bagi pemain yang sering mundur mendadak. Sabalenka menanggapi kritik tersebut dengan menyebutnya “konyol” dan mengancam tidak akan kembali ke turnamen itu.
Bagi penonton di Indonesia, absennya sederet bintang ini tentu mengecewakan. Namun, di balik kekecewaan, isu ini menjadi pengingat bahwa reformasi kalender tenis sudah mendesak. Jika ATP dan WTA tidak segera bertindak, risiko cedera dan kelelahan pemain akan semakin parah, mengancam kualitas pertandingan yang dinanti jutaan penggemar di Asia dan seluruh dunia.
Pertanyaan besarnya: akankah ATP dan WTA mampu menyeimbangkan kepentingan komersial turnamen dengan kesehatan atlet? Atau justru pemain top akan terus memilih mundur demi memperpanjang karier mereka?



