Kembalinya Williams Bersaudara: Kekalahan Manis yang Menyisakan Tanda Tanya
Baca dalam 60 detik
- Serena dan Venus Williams menyerah di babak pertama ganda US Open setelah duel tiga set yang menegangkan.
- Penampilan gemilang di usia senja memicu spekulasi tentang masa depan karier keduanya di pentas tenis.
- Keputusan keduanya bungkam usai laga menambah ketidakpastian apakah ini penampilan terakhir mereka di Flushing Meadows.

Flushing Meadows, New York โ Sorak sorai puluhan ribu penonton di Arthur Ashe Stadium menggema saat Serena dan Venus Williams melangkah ke lapangan, Jumat (29/8) malam waktu setempat. Namun, keajaiban yang dinanti tak kunjung tiba; duet legendaris berusia gabungan 90 tahun itu harus mengakui keunggulan unggulan ke-14 asal Taiwan-Australia, Chan Hao-ching dan Maya Joint, dengan skor 6-3, 6-7 (6-8), 6-7 (7-10) di babak pertama ganda putri US Open. Kekalahan ini menjadi yang kedua bagi keduanya sejak memutuskan kembali berkompetisi bersama pada musim panas ini.
Pertandingan yang berlangsung sengit ini bukan sekadar laga ganda biasa. Ini adalah panggung bagi dua ikon yang telah mengubah wajah tenis dunia. Meski kalah, performa mereka jauh dari kata mengecewakan. Setelah tertinggal 1-4 di set penentuan, semangat juang khas keluarga Williams hampir membawa mereka membalikkan keadaan. Mereka bahkan sempat unggul 5-0 dalam tie-break 10 poin, sebelum akhirnya dua double fault berturut-turut membuyarkan konsentrasi dan membuka jalan bagi lawan untuk merebut kemenangan.
Kekalahan ini menyisakan banyak pertanyaan, terutama mengenai masa depan kedua petenis yang telah mengoleksi total 30 gelar Grand Slam tunggal dan 14 gelar ganda bersama ini. Sebelumnya, Serena sempat menyiratkan keinginan untuk kembali tampil di nomor tunggal dalam wawancara dengan Good Morning America. Sementara Venus, setelah tersingkir di tunggal pada Senin lalu, menyatakan tak ingin "dipaksa" memikirkan rencana setelah turnamen ganda ini. Namun, setelah laga Jumat malam, keduanya memilih bungkam; panitia US Open mengonfirmasi bahwa mereka menolak untuk berbicara dengan media.
Kembalinya Williams bersaudara ke Grand Slam untuk pertama kalinya sejak 2022 ini memang telah dinanti. Rencana mereka untuk tampil di Wimbledon batal akibat cedera lutut yang dialami Serena di nomor tunggal โ ironisnya, kekalahan itu dipetik dari Maya Joint yang kini menjadi lawan mereka. Setelah itu, mereka baru kembali berduet di turnamen WTA Cincinnati, namun lagi-lagi harus mengakui keunggulan lawan dalam tie-break penentu. Nasib serupa kembali menimpa mereka di New York, mengulang kegagalan empat tahun lalu saat mereka juga tersingkir di babak pertama.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kehadiran Williams bersaudara selalu menjadi tontonan istimewa. Mereka adalah inspirasi bagi banyak petenis Asia, termasuk Indonesia, untuk berani bermimpi menembus level tertinggi. Meski usia bukan lagi pendukung, semangat dan kelas mereka tetap menjadi tontonan yang layak dinikmati. Pertanyaan besarnya kini: apakah ini benar-benar akhir dari sebuah era? Atau mungkinkah publik akan kembali disuguhi aksi mereka di ajang lain, seperti yang pernah dilakukan Serena saat comeback di Wimbledon tahun lalu?
"Suasananya tidak nyata. Ini pengalaman yang belum pernah kami rasakan sebelumnya, dan bisa bermain melawan legenda seperti mereka adalah sesuatu yang sangat istimewa," ujar Maya Joint, yang tahun ini juga mengalahkan Serena di nomor tunggal Wimbledon.
Terlepas dari hasil akhir, penampilan Williams bersaudara malam itu membuktikan bahwa daya tarik mereka belum pudar. Mereka masih mampu bermain kompetitif melawan pasangan yang jauh lebih muda. Namun, dunia tenis kini menanti keputusan selanjutnya. Apakah Serena akan benar-benar kembali ke tunggal, atau apakah Venus akan terus bermain dengan wildcard? Satu hal yang pasti, gairah dan aura yang mereka bawa ke lapangan akan selalu dirindukan. Kini, pertanyaan yang menggantung: apakah ini benar-benar perpisahan terakhir yang kita saksikan di Flushing Meadows?



