Kebakaran Hutan Indonesia Kembali Menjadi Sorotan: Asap Menembus Batas hingga Filipina
Baca dalam 60 detik
- Media internasional ABC menyoroti kebakaran hutan di Indonesia yang asapnya mencapai Filipina, menandakan krisis lingkungan yang melintasi batas negara.
- Data resmi menunjukkan lebih dari 202 ribu hektar lahan terbakar hingga Juni 2026, dengan lonjakan kasus asma di Malaysia sebesar 259%.
- Faktor manusia, seperti pembakaran lahan untuk perkebunan, dinilai sebagai pemicu utama di tengah kekeringan akibat El Nino.

Krisis kebakaran hutan di Indonesia kembali menarik perhatian dunia internasional. Liputan ABC News edisi Jumat (4/9/2026) mengangkat judul "Indonesia battling wildfires as smoke haze spreads as far as the Philippines", menyoroti bagaimana kabut asap dari kebakaran di tanah air telah menembus batas teritorial hingga mencapai Filipina. Peristiwa ini bukan sekadar bencana domestik, melainkan telah menjadi isu lingkungan regional yang memicu kekhawatiran kesehatan publik di beberapa negara Asia Tenggara.
Pemerintah Indonesia, melalui pernyataan resmi yang dikutip ABC, menyatakan bahwa upaya pemadaman terkonsentrasi di enam provinsi di Sumatra dan Kalimantan. Namun, titik api juga terdeteksi di Jawa, Sulawesi, dan Papua Barat. Luasnya sebaran ini menunjukkan bahwa kebakaran tidak hanya terjadi di area gambut yang biasa terbakar, tetapi juga merambah wilayah lain, mengindikasikan pola yang lebih kompleks dari sekadar musim kemarau.
Dampak kabut asap telah dirasakan oleh negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Brunei, dan Filipina. ABC bahkan menampilkan peta sebaran asap yang mengkategorikan tingkat bahaya menjadi tiga level: tidak sehat untuk kelompok sensitif, tidak sehat, dan sangat tidak sehat. Beberapa wilayah di negara tetangga, seperti Sarawak yang berbatasan langsung dengan Kalimantan, mencatat kualitas udara masuk kategori tidak sehat. Kementerian Kesehatan Malaysia melaporkan lonjakan kasus asma hingga 259% pada pekan terakhir Agustus, sebuah angka yang mengkhawatirkan dan menjadi bukti nyata dampak kesehatan lintas batas.
Lebih jauh lagi, laporan dari ASMPH Center for Research and Innovation (ACRI) dan jaringan Breathe Metro Manila (BMM) menyebutkan bahwa kualitas udara di Manila mencapai level 'sangat tidak sehat' pada 30 Agustus hingga 2 September 2026. Tingkat polusi udara di ibu kota Filipina tersebut dilaporkan lebih dari empat kali lipat dari ambang batas yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Data ini menggarisbawahi bahwa kebakaran hutan di Indonesia bukan hanya masalah domestik, tetapi telah menjadi krisis kesehatan masyarakat di kawasan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut El Nino sebagai pemicu kekeringan yang memperparah kondisi. Namun, faktor alam saja tidak cukup; aktivitas manusia tetap menjadi kunci penyulut api. Kementerian Kehutanan Indonesia telah mengidentifikasi dugaan penyebab, termasuk praktik penjualan tanah ilegal yang kemudian dibakar untuk perkebunan kelapa sawit, serta pembakaran lahan untuk pembangunan jalan yang seharusnya memiliki izin. Pola ini menunjukkan lemahnya penegakan hukum dan pengawasan lahan, yang berulang setiap musim kemarau.
Bagi Indonesia, krisis ini memiliki implikasi ganda. Di satu sisi, negara menghadapi tekanan diplomatik dari tetangga yang terdampak, seperti yang terjadi pada kabut asap 2015 lalu. Di sisi lain, kebakaran hutan merusak ekosistem, mengancam keanekaragaman hayati, dan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar, baik dari sektor perkebunan, pariwisata, maupun kesehatan masyarakat. Investor asing pun mulai mempertanyakan komitmen Indonesia terhadap praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), yang dapat mempengaruhi arus modal masuk.
Ke depan, pertanyaan krusial yang menggantung adalah: apakah pemerintah akan mampu memperkuat pencegahan dan penegakan hukum untuk memutus siklus tahunan ini? Teknologi pemantauan seperti satelit dan sistem peringatan dini memang telah membantu, tetapi tanpa perubahan fundamental dalam pengelolaan lahan dan sanksi yang tegas bagi pelaku pembakaran, Indonesia berisiko terus menghadapi krisis serupa. Respons regional yang terkoordinasi, termasuk berbagi data kualitas udara dan kerja sama pemadaman, juga menjadi keniscayaan untuk melindungi kesehatan warga Asia Tenggara secara kolektif.



