Chelsea Borong Lulusan Akademi Man City: Strategi atau Keterpaksaan?
Baca dalam 60 detik
- Chelsea telah mengeluarkan hampir ยฃ300 juta untuk merekrut enam pemain jebolan akademi Manchester City sejak 2023, termasuk rekrutan termahal Morgan Rogers (ยฃ117 juta).
- Fenomena ini dipicu oleh keberhasilan Cole Palmer, jaringan mantan staf City di Chelsea, serta keuntungan akuntansi dari penjualan pemain akademi sendiri.
- Transformasi ini menandai pergeseran identitas Chelsea dari mengandalkan akademi Cobham menjadi bergantung pada produk rival, dengan implikasi jangka panjang bagi pembinaan pemain muda Inggris.

Chelsea tampaknya lebih percaya pada produk akademi Manchester City daripada lulusan mereka sendiri. Dalam skuad utama musim depan, jumlah pemain jebolan akademi City diprediksi dua kali lipat lebih banyak dibandingkan pemain asli binaan Cobham. Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan cerminan strategi transfer yang telah menguras kocek hingga nyaris ยฃ300 juta sejak 2023.
Rekor pembelian termahal klub, Morgan Rogers (ยฃ117 juta), adalah yang terbaru dari enam pemain yang pernah memperkuat tim muda City. Bergabung bersama Cole Palmer, Liam Delap, Romeo Lavia, Jamie Gittens, dan Tosin Adarabioyo, mereka membentuk koloni City di Stamford Bridge. Di sisi lain, pelatih anyar Xabi Alonso hanya memiliki tiga pemain tetap dari akademi sendiri: Levi Colwill, Reece James, dan Josh Acheampong.
Ketergantungan ini bukan tanpa alasan. Keberhasilan Cole Palmer, yang dibeli seharga ยฃ40 juta pada 2023 dan langsung menjadi bintang Premier League, menjadi bukti nyata kualitas produk City. Seperti diungkapkan seorang mantan orang dalam klub kepada BBC Sport, "siapa pun yang datang dari City tahu seperti apa standar tinggi itu." Faktor lain adalah kehadiran Joe Shields, mantan kepala rekrutmen akademi City yang kini memegang peran serupa di Chelsea, serta sejumlah mantan staf City lainnya di berbagai posisi.
Di balik strategi ini, ada motif finansial yang kuat. Menjual pemain akademi memberikan keuntungan murni (pure profit) dalam aturan keuangan Premier League dan UEFA. Chelsea sendiri telah menjual Tyrique George ke Everton musim panas ini. Sementara itu, City di bawah Pep Guardiola kesulitan memberi menit bermain bagi lulusan akademi karena tekanan meraih gelar, sehingga banyak talenta memilih hengkang.
Persaingan kedua akademi sempat memanas. Liam Delap, yang kini berseragam Chelsea, mengenang, "Kami saling benci saat bertanding. Tapi di luar lapangan, kami bisa berteman." Rivalitas ini bahkan melahirkan kesepakatan informal untuk tidak merekrut pemain satu sama lain di level junior, meski kini sudah berakhir. Liverpool, Manchester United, dan Arsenal pun ikut gencar berinvestasi di akademi pasca-Brexit.
Transformasi Chelsea ini mengejutkan banyak kalangan. Akademi Cobham yang pernah berjaya dengan lima gelar FA Youth Cup beruntun dan dua trofi UEFA Youth League kini harus beradaptasi dengan pendekatan ala City. Gareth Taylor, pelatih Liverpool wanita yang pernah sembilan tahun di akademi City, menggambarkan filosofi yang diwariskan: "Kami merancang gaya bermain yang jelas, dari U-11 hingga U-23, semua selaras."
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya pembinaan usia dini yang sistematis. Klub-klub Liga 1 yang mulai mengembangkan akademi bisa mencontoh konsistensi City dalam menciptakan pemain siap pakai, bukan sekadar bergantung pada pembelian pemain jadi. Ke depan, apakah Chelsea akan terus menjadi 'cabang' City, atau justru membangun kembali identitasnya sendiri? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan transfer klub-klub Eropa dalam beberapa tahun ke depan.



