Tepung Singkong Jadi Senjata Baru Padamkan Bara Gambut di Kalteng
Baca dalam 60 detik
- Korbrimob Polri memperkenalkan serbuk pemadam berbasis tepung singkong untuk menangani kebakaran lahan gambut di Kalimantan Tengah.
- Inovasi ini menargetkan bara api di bawah permukaan tanah yang kerap memicu kebakaran berulang dan kabut asap.
- Penggunaan drone thermal dan efisiensi air menjadi nilai tambah, menjanjikan penanganan karhutla yang lebih cepat dan hemat sumber daya.

Kebakaran lahan gambut di Kalimantan Tengah mendapat penanganan baru yang tak lazim: serbuk pemadam berbahan dasar tepung singkong yang disuntikkan langsung ke titik bara di bawah tanah. Inovasi dari Korps Brimob Polri ini mulai diuji di Jalan Dulin Kandang, Palangka Raya, Jumat (4/9/2026), dan diharapkan menjadi terobosan dalam memutus rantai kebakaran yang kerap memicu kabut asap lintas batas.
Kapolda Kalimantan Tengah, Irjen Pol Iwan Kurniawan, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam memadamkan karhutla di lahan gambut bukanlah api di permukaan, melainkan bara yang masih menyala di kedalaman tanah. Bara ini dapat bertahan lama dan kembali menyulut api saat angin bertiup, menyebabkan asap tebal yang mengganggu kesehatan dan aktivitas warga. Metode konvensional seperti penyiraman dari udara kerap gagal menjangkau titik api bawah tanah.
Bahan pemadam bernama Hertindo AF31 ini bekerja dengan cara dicampur air lalu diinjeksikan ke titik bara. Setiap kantong berisi 25 kilogram serbuk dicampur 100 liter air, dan untuk tangki berkapasitas 1.200 liter dibutuhkan 12 kantong. Campuran ini berfungsi menyekat oksigen dan memadamkan bara secara efektif. Proses pendeteksian titik api dibantu drone thermal, sehingga penyemprotan lebih akurat dan penggunaan air bisa ditekan โ sebuah keuntungan besar di tengah keterbatasan sumber air saat musim kemarau.
Bantuan serbuk ini telah didistribusikan dari Markas Besar Polri melalui Korbrimob ke sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah. Polda setempat berharap inovasi ini tidak hanya mempercepat pemadaman, tetapi juga menghemat biaya operasional dan mengurangi risiko kebakaran berulang. Jika terbukti efektif, teknologi ini berpotensi direplikasi di daerah rawan karhutla lain seperti Sumatera dan Kalimantan Barat.
Bagi Indonesia, inovasi ini memiliki arti strategis. Kebakaran gambut tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga menghasilkan emisi karbon yang besar dan mengancam kesehatan masyarakat. Teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan sangat dibutuhkan, terutama di tengah ancaman El Nino yang kerap memperparah kekeringan. Keberhasilan uji coba ini dapat menjadi model penanganan karhutla yang lebih berkelanjutan.
Kendati demikian, efektivitas jangka panjang dan dampak lingkungan dari penggunaan tepung singkong dalam skala besar masih perlu dikaji lebih lanjut. Apakah inovasi ini akan menjadi solusi permanen atau hanya alternatif sementara? Yang jelas, langkah ini menunjukkan adanya kreativitas dalam menghadapi masalah klasik yang selama ini sulit diatasi. Jika berhasil, bukan tidak mungkin tepung singkong akan menjadi komoditas strategis baru dalam upaya mitigasi bencana di tanah air.



