Dilema Rodri di Manchester City: Operasi, Kontrak, dan Masa Depan di Tangan Maresca
Baca dalam 60 detik
- Rodri akan menjalani operasi punggung dengan kontrak tersisa satu tahun, memicu spekulasi kepindahan ke Real Madrid.
- Pelatih anyar Enzo Maresca ingin mempertahankan sang gelandang, namun sudah menyiapkan Elliot Anderson sebagai suksesor potensial.
- Fleksibilitas taktik Maresca—mirip catur—menjadi kunci adaptasi City, dengan atau tanpa Rodri, untuk tetap kompetitif musim depan.

Manchester City harus menghadapi kenyataan pahit: kapten Spanyol yang baru saja memenangkan Piala Dunia, Rodri, akan menjalani operasi punggung pada Senin mendatang, dengan kontrak yang hanya tersisa satu tahun dan rumor kepindahan ke Real Madrid kian menguat. Situasi ini menjadi ujian pertama bagi pelatih anyar Enzo Maresca, yang mewarisi skuad yang tengah bertransformasi.
Kepergian empat pemain inti—Manuel Akanji, Nathan Ake, Bernardo Silva, dan John Stones—pada musim panas ini menambah kompleksitas perombakan skuad di Etihad Stadium. Maresca, yang menggantikan Pep Guardiola, mengakui keinginannya mempertahankan Rodri. “Setiap pelatih ingin memiliki Rodri karena dia pemain top,” ujarnya dalam konferensi pers. Namun, dengan operasi yang akan dijalani dan masa depan yang belum jelas, rencana cadangan mutlak diperlukan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, situasi ini menjadi sorotan tersendiri. Premier League memiliki basis penggemar besar di Tanah Air, dan masa depan Rodri bisa mengubah peta persaingan di liga. Kehilangan pemain sekaliber Ballon d'Or tersebut akan mengurangi dominasi City di lini tengah, yang selama ini menjadi fondasi permainan mereka. Tim-tim pesaing seperti Arsenal atau Liverpool tentu akan memanfaatkan celah ini.
Maresca, yang dikenal sebagai pengagum sepak bola posisional dan sering menyamakan taktiknya dengan catur, telah menyiapkan antisipasi. Rekrutan termahal City, Elliot Anderson (£116 juta), menjadi kunci. Menurut data Transfermarkt, Anderson telah bermain di 44% kariernya sebagai gelandang tengah, 22% sebagai gelandang serang, dan 19% sebagai gelandang bertahan. Fleksibilitasnya memungkinkan ia berduet dengan Rodri atau menggantikannya secara langsung, dengan kemampuan turun ke lini belakang saat diperlukan.
City juga memantau Ayyoub Bouaddi, gelandang Lille berusia 18 tahun yang tampil apik bersama Maroko di Piala Dunia. Bouaddi bisa beroperasi sebagai gelandang bertahan, bek kanan, atau bek tengah—mirip peran yang dimainkan Stones di masa kejayaan City. Kombinasi Anderson dan Bouaddi diharapkan memberikan variasi dalam formasi 3-2-2-3 andalan Maresca, yang mengandalkan rotasi pemain antar posisi untuk menciptakan kebingungan bagi lawan.
Maresca sebelumnya sukses memosisikan ulang pemain seperti Stones (dari bek ke gelandang), Caicedo (dari gelandang ke bek kanan), dan Cucurella (dari bek ke gelandang serang). Kemampuan ini menjadi modal penting untuk mengelola situasi Rodri. Jika Rodri bertahan, ia akan menjadi poros yang memungkinkan Anderson dan Bouaddi berkembang. Jika hengkang, Maresca telah membuktikan diri mampu menemukan solusi kreatif.
Pertanyaan besar kini: akankah City nekat menjual Rodri saat nilainya masih tinggi, atau mempertahankannya dengan risiko kehilangan gratis? Keputusan ini tidak hanya menentukan nasib City musim depan, tetapi juga menjadi tolak ukur kemampuan Maresca dalam membangun tim pasca-Guardiola. Dengan pendekatan catur yang ia usung, langkah selanjutnya akan dinanti dengan penuh antisipasi.
