Bedah Janin Terbuka Pertama di Indonesia Berhasil: Harapan Baru bagi Ibu dan Bayi
Baca dalam 60 detik
- RSAB Harapan Kita bersama Rumah Sakit Mater Mothers, Brisbane, berhasil melakukan operasi janin terbuka pertama di Indonesia untuk kasus spina bifida.
- Prosedur ini dilakukan pada usia kehamilan di bawah 27 minggu, bertujuan mencegah kelumpuhan dan komplikasi saraf lainnya pada bayi.
- Keberhasilan ini menandai lompatan besar dalam kapabilitas layanan kesehatan maternal-fetal Indonesia, membuka akses bagi lebih banyak pasien tanpa harus berobat ke luar negeri.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah medis Indonesia, tim dokter Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita berhasil melakukan tindakan bedah janin terbuka, atau yang dikenal dengan istilah open fetal surgery. Prosedur yang berlangsung pada 25 Agustus 2026 ini menjadi tonggak baru dalam upaya penanganan kelainan bawaan pada janin, khususnya kasus myelomeningocele, sebuah kondisi di mana tulang belakang dan sistem saraf janin tidak menutup sempurna.
Keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian prosedural. Di baliknya, terdapat kolaborasi internasional antara RSAB Harapan Kita yang berstatus sebagai National Center for Women and Children's Health dengan tim dari Mater Mothers' Hospital, Brisbane, Australia. Kerja sama ini memungkinkan transfer teknologi dan pengetahuan yang selama ini hanya bisa diakses oleh pasien Indonesia melalui rujukan ke luar negeri, dengan biaya yang sangat tinggi dan akses yang terbatas.
Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, menegaskan bahwa operasi semacam ini sebenarnya bukanlah hal baru dalam dunia medis. Namun, pelaksanaannya di Indonesia merupakan lompatan besar. Menurut Dante, prosedur untuk kasus myelomeningocele idealnya dilakukan sebelum usia kehamilan memasuki 27 minggu. Tujuannya jelas: mencegah risiko kelumpuhan permanen pada bayi, menghindari gangguan fungsi eliminasi, serta meminimalkan kemungkinan terjadinya hydrocephalus atau penumpukan cairan di otak.
Bagi Indonesia, hadirnya layanan ini memiliki arti strategis. Selama ini, pasien dengan kondisi serupa sering kali harus dirujuk ke Singapura, Malaysia, atau Australia untuk mendapatkan penanganan serupa. Selain biaya yang membengkak hingga ratusan juta rupiah, tidak semua keluarga memiliki akses atau kemampuan finansial untuk berobat ke luar negeri. Dengan adanya kemampuan operasi di dalam negeri, diharapkan kesenjangan akses layanan kesehatan maternal-fetal dapat dipersempit secara signifikan.
Dante juga menggarisbawahi bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari kesiapan sumber daya manusia dan peralatan medis di dalam negeri. Pemerintah, melalui Kementerian Kesehatan, terus mendorong pengembangan layanan kesehatan ibu dan anak yang berstandar internasional. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kapasitas untuk melakukan operasi semacam ini masih terbatas pada beberapa rumah sakit rujukan nasional. Oleh karena itu, penguatan ekosistem kesehatan maternal-fetal secara menyeluruh—mulai dari deteksi dini, rujukan, hingga pascaoperasi—menjadi pekerjaan rumah yang tak kalah penting.
Dari sisi medis, keberhasilan ini membuka peluang untuk menangani lebih banyak kasus kelainan bawaan lain yang selama ini dianggap terlalu kompleks untuk ditangani di dalam negeri. Ini juga menjadi sinyal positif bagi para ibu hamil yang terdiagnosis memiliki risiko kelainan janin, bahwa harapan untuk mendapatkan penanganan optimal kini semakin dekat.
Meski demikian, pertanyaan besar yang menggantung adalah: bagaimana memastikan pemerataan akses layanan ini ke seluruh wilayah Indonesia? Dengan jumlah rumah sakit yang mampu melakukan prosedur semacam ini masih sangat sedikit, apakah akan ada kebijakan untuk memperluas jejaring rujukan atau justru membangun pusat-pusat unggulan baru di luar Jawa? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan apakah terobosan medis ini benar-benar menjadi milik seluruh rakyat Indonesia, atau hanya dinikmati segelintir orang di kota besar.



