Tim Ilmuwan China Klaim Berhasil Menyedot Uranium dari Air Laut: Terobosan Besar atau Mimpi di Siang Bolong?
Baca dalam 60 detik
- Material anyar bernama PhosCage, dikembangkan oleh akademisi China, diklaim mampu menangkap uranium dari laut dengan kapasitas 22,55 mg per gram, delapan kali lipat target Amerika Serikat.
- Keunggulan utama material ini terletak pada struktur molekulnya yang menyerupai spons dengan gugus fosfat, serta dapat digunakan berulang hingga tujuh siklus, menjanjikan efisiensi biaya.
- Keberhasilan ini membuka peluang bagi China untuk mengamankan pasokan bahan baku nuklir tanpa bergantung pada impor, sekaligus memicu diskusi tentang masa depan energi nuklir global.

Dalam lomba memperebutkan sumber energi masa depan, China kembali menunjukkan taringnya. Sebuah tim peneliti dari Akademi Ilmu Pengetahuan China (CAS) di Qingdao baru saja mengumumkan terobosan yang bisa mengubah peta pasokan uranium dunia: mereka berhasil mengekstraksi uranium dari air laut dengan kecepatan delapan kali lipat lebih tinggi dibandingkan target yang ditetapkan Amerika Serikat. Temuan ini bukan sekadar catatan laboratorium, melainkan sinyal bahwa era pemanfaatan laut sebagai ladang bahan bakar nuklir mungkin semakin dekat.
Kunci dari terobosan ini adalah material bernama PhosCage, sebuah struktur molekuler yang dirancang khusus menyerupai spons dengan gugus fosfat yang berfungsi sebagai jebakan kimia. Tim CAS mengubah PhosCage menjadi butiran kecil seukuran milimeter agar mudah disebar dan diambil kembali di lautan terbuka. Dalam uji coba, butiran ini mampu menangkap uranium sebanyak 22,55 miligram per gram material, dan tetap efektif setelah digunakan berulang hingga tujuh siklus. Angka ini, jika dikonversi, jauh melampaui target yang dicanangkan program penelitian uranium laut Amerika Serikat, yang selama ini menjadi patokan internasional.
Para peneliti menyebut karya ini sebagai 'pendekatan baru' dalam memulihkan bahan bakar nuklir dari lautan. Mereka meyakini PhosCage meletakkan dasar bagi pengembangan adsorben yang lebih efisien dan siap digunakan dalam skala besar. Namun, di balik optimisme itu, ada pertanyaan besar yang menggantung: apakah teknologi ini benar-benar bisa diterapkan secara komersial, atau hanya akan menjadi artefak laboratorium yang menarik untuk dikaji?
Bagi Indonesia, kabar ini memiliki resonansi yang tidak bisa diabaikan. Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia menyimpan potensi besar untuk memanfaatkan teknologi serupa. Namun, hingga saat ini, program nuklir Indonesia masih berkutat pada wacana pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang belum pernah terealisasi. Padahal, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) โ yang kini bertransformasi menjadi ORTN โ telah lama meneliti potensi uranium dari laut. Jika teknologi PhosCage terbukti efektif dan ekonomis, Indonesia bisa belajar dari pengalaman China untuk mempercepat riset serupa, sekaligus mempertimbangkan implikasi geopolitik dan lingkungan.
Para analis energi menilai bahwa kemampuan mengekstraksi uranium dari laut akan mengurangi ketergantungan negara-negara pada tambang uranium darat yang jumlahnya terbatas dan tersebar tidak merata. China, yang saat ini menjadi importir uranium terbesar dunia, jelas memiliki kepentingan strategis untuk menguasai teknologi ini. Dengan cadangan uranium laut yang diperkirakan mencapai 4,5 miliar ton โ jauh lebih besar daripada cadangan darat โ laut bisa menjadi 'sumber daya abadi' bagi energi nuklir. Namun, tantangan teknis dan ekonomi masih menghadang: konsentrasi uranium di laut sangat rendah (sekitar 3,3 bagian per miliar), sehingga proses ekstraksi membutuhkan energi dan biaya yang tidak sedikit.
Para ilmuwan di luar China menyambut temuan ini dengan hati-hati. Seperti diungkapkan seorang ahli kimia material dari universitas terkemuka di Eropa, yang enggan disebut namanya, "Ini memang kemajuan yang menjanjikan, tetapi kami perlu melihat data replikasi dan uji coba lapangan dalam skala yang lebih besar sebelum bisa menarik kesimpulan." Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa perjalanan dari laboratorium ke lautan terbuka masih panjang. Faktor-faktor seperti biofouling (penempelan organisme laut), arus, dan suhu dapat memengaruhi kinerja material secara signifikan.
Ke depan, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah dunia benar-benar membutuhkan uranium dari laut? Dengan meningkatnya investasi pada energi terbarukan seperti surya dan angin, serta munculnya teknologi fusi nuklir yang masih dalam tahap riset, permintaan uranium konvensional mungkin tidak akan melonjak drastis dalam beberapa dekade mendatang. Namun, bagi negara-negara yang berkomitmen memperpanjang umur PLTN mereka โ seperti China, Rusia, dan sejumlah negara Eropa โ pasokan uranium yang stabil dan berdaulat menjadi prioritas. Dalam konteks ini, terobosan PhosCage bisa menjadi katalis bagi perlombaan teknologi baru, sekaligus memicu pertanyaan etis tentang pemanfaatan sumber daya laut secara besar-besaran. Apakah kita sedang menyaksikan awal dari 'demam uranium' di lautan, atau hanya secercah harapan yang akan meredup oleh realitas ekonomi? Waktu yang akan menjawab.



