Manajer Everton Akui Tak Pernah Bertemu Pemilik Klub, Bagaimana Nasib The Toffees?
Baca dalam 60 detik
- David Moyes mengaku belum pernah bertemu atau berbicara langsung dengan pemilik Everton, Dan Friedkin, sejak kembali menukangi klub pada Januari 2025.
- Ketidakhadiran Friedkin dalam pengambilan keputusan sehari-hari memicu kekhawatiran suporter, terutama setelah bursa transfer musim panas yang kacau dan skuad yang hanya berisi 18 pemain senior.
- Situasi ini menjadi ujian bagi struktur kepemilikan baru Everton, yang dinilai masih mencari ritme, dan bisa berdampak pada performa tim di Premier League musim ini.

Manajer Everton, David Moyes, mengungkapkan fakta mengejutkan: ia belum pernah bertemu atau berbicara langsung dengan pemilik klub, Dan Friedkin, sejak kembali ditunjuk sebagai pelatih pada Januari 2025. Pengakuan ini disampaikan Moyes di hadapan awak media jelang laga melawan Manchester United, Jumat (14/2/2025), dan langsung memicu pertanyaan besar tentang bagaimana klub sebenarnya dikelola di bawah kepemilikan The Friedkin Group (TFG).
Friedkin, yang berbasis di Houston, Amerika Serikat, memang tidak pernah hadir dalam pertandingan kandang Everton sejak resmi mengambil alih klub pada Desember 2024. Padahal, TFG juga menaungi klub Serie A, AS Roma. Dalam praktiknya, Friedkin mendelegasikan urusan operasional sehari-hari kepada menantunya, Rishi Majithia, yang bekerja sama dengan CEO Angus Kinnear. Moyes mengakui bahwa kontak utamanya hanyalah Kinnear, bukan pemilik langsung.
"Kontak saya sebenarnya dengan Angus. Dialah yang biasa saya temui. Rishi berikutnya, lalu kepala keluarga Friedkin di Amerika. Saya tidak punya percakapan langsung dengan mereka, tetapi melalui Rishi," ujar Moyes, seperti dikutip BBC Sport. Pernyataan ini menggarisbawahi adanya jarak yang cukup jauh antara manajer dan pemilik, sesuatu yang jarang terjadi di klub sebesar Everton.
Kekhawatiran suporter semakin memuncak setelah bursa transfer musim panas yang berakhir kacau. Everton sempat menerima tawaran 40 juta poundsterling dari Nottingham Forest untuk gelandang muda Inggris U-19, Harrison Armstrong, yang memicu kemarahan fans saat laga tandang melawan Bournemouth. Kesepakatan itu akhirnya batal, tetapi keputusan manajemen lainnya—seperti menjual Beto ke Fiorentina pada hari terakhir bursa tanpa mendapatkan pengganti yang memadai—membuat frustrasi pendukung. Striker asal Amerika Serikat, Folarin Balogun, bahkan batal pindah dari Monaco di menit-menit akhir.
Akibatnya, Everton mengakhiri bursa transfer dengan hanya 18 pemain senior, termasuk satu striker, satu bek kanan, dan satu bek kiri. Kondisi ini jelas mempersempit opsi taktik Moyes dan meningkatkan risiko cedera. Moyes sendiri sempat membela suporter yang mengkritik rencana penjualan Armstrong, dengan mengatakan bahwa klub "dikelola oleh seorang Evertonian" dan "pendukung tidak selalu salah". Namun, ia juga mengakui bahwa struktur di belakang layar masih perlu dibenahi. "Kami punya pemilik baru yang masih meraba-raba cara kerja klub. Saya pikir jika kami saling mengenal lebih dekat, segalanya akan membaik," katanya.
Moyes menegaskan bahwa ia tidak akan mundur dari tantangan menyatukan klub yang pernah ia bawa ke lima besar Premier League secara beruntun pada periode 2002–2013. "Everton itu berbeda. Saya tidak akan kembali untuk klub lain selain Everton," ujarnya. Ia juga menyerukan dukungan penuh suporter, mengingat skuad yang tipis membutuhkan energi ekstra dari tribun. "Orang-orang melihat wajah Evertonians pekan lalu, dan itu bisa sangat kuat. Saya berharap mereka sekarang benar-benar kuat—kuat untuk tim, kuat untuk pemain. Kami butuh mereka karena kami kekurangan pemain," tambahnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, situasi Everton ini menjadi pelajaran menarik tentang pentingnya komunikasi antara manajer dan pemilik klub. Di tengah gencarnya investasi asing di klub-klub Eropa, kasus Everton menunjukkan bahwa kehadiran pemilik secara langsung—atau setidaknya saluran komunikasi yang jelas—dapat memengaruhi stabilitas dan kepercayaan publik. Ketika pemilik terlalu jauh dan keputusan diambil tanpa melibatkan manajer, risiko kesalahan strategi seperti gagalnya rekrutmen pemain menjadi semakin besar.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah: mampukah TFG beradaptasi dengan kultur sepak bola Inggris yang menuntut keterlibatan langsung? Atau akankah Everton terus berjalan dengan struktur yang timpang, meninggalkan Moyes berjuang sendirian di tengah keterbatasan? Jika tidak ada perbaikan, bukan tidak mungkin musim ini akan menjadi ujian terberat bagi manajer asal Skotlandia itu—dan bagi para pendukung setia yang menaruh harapan besar pada era kepemilikan baru.



