Tenis Inggris: Tradisi Besar, Hasil Pahit di US Open, dan Biaya yang Menggerus Generasi Muda
Baca dalam 60 detik
- Untuk keempat kalinya dalam lima turnamen Grand Slam terakhir, tak ada wakil Inggris di pekan kedua US Open 2025, memunculkan pertanyaan tentang efektivitas pembinaan tenis di negara tersebut.
- Meski jumlah pemain Inggris di babak utama US Open tahun ini mencapai rekor (9 orang) dan Arthur Fery menembus semifinal Wimbledon, kekhawatiran tetap muncul karena minimnya petenis yang konsisten menembus pekan kedua.
- Biaya pembinaan yang tinggi (hingga £1.000 per bulan untuk anak usia 12 tahun) menjadi hambatan struktural yang mengancam regenerasi petenis Inggris, sementara negara-negara seperti Spanyol dan Italia terus unggul dalam hal produksi talenta.

Untuk keempat kalinya dalam lima turnamen Grand Slam terakhir, sorotan utama tenis Inggris justru berakhir lebih cepat dari harapan: tak ada satu pun wakilnya yang tampil di pekan kedua US Open 2025. Kekalahan Katie Boulter dari Karolina Muchova di babak kedua menjadi penutup pahit bagi kontingen Inggris di Flushing Meadows, sekaligus memicu perdebatan tentang arah pembinaan tenis di negara yang mengklaim diri sebagai salah satu kiblat olahraga ini.
Namun, berbeda dengan musim-musim sebelumnya yang diwarnai nada pesimistis, kali ini para pejabat Lawn Tennis Association (LTA) justru mencoba menyorot sisi positif. Mereka menunjuk pada pencapaian Arthur Fery, yang melaju hingga semifinal Wimbledon tahun ini meski berstatus wildcard dan berada di peringkat 114 dunia. Fery menjadi satu-satunya petenis Inggris yang mencapai pekan kedua Grand Slam sepanjang musim ini, sebuah capaian yang oleh LTA dianggap sebagai bukti bahwa sistem pembinaan mereka mulai menunjukkan hasil.
Selain itu, sembilan petenis Inggris yang tampil di babak utama US Open tahun ini merupakan jumlah terbanyak sejak 1981. Angka itu bahkan belum termasuk Emma Raducanu dan Jack Draper yang absen karena cedera jangka panjang. "Kami jelas ingin lebih banyak lagi pemain yang tampil di pekan kedua Grand Slam, seperti halnya publik Inggris," ujar Scott Lloyd, CEO LTA. "Fakta bahwa sejak 2021 kami memiliki empat pemain berbeda yang mencapai semifinal Grand Slam—sesuatu yang terakhir terjadi 30 tahun sebelum era Andy Murray—menunjukkan arah perbaikan yang jelas."
Di balik optimisme tersebut, data menunjukkan bahwa Inggris masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain. Setelah US Open, lima petenis pria Inggris dipastikan berada di peringkat 100 besar dunia—jumlah tertinggi sejak Februari 2024—sementara di sektor putri hanya Katie Boulter dan Raducanu yang bertahan di kelompok tersebut. Michael Bourne, direktur performa LTA, mengklaim bahwa dalam delapan tahun terakhir, 12 pemain Inggris berhasil menembus 100 besar, dan empat di antaranya mencapai semifinal Grand Slam. "Saya tidak yakin ada periode lain di era modern yang mencapai produktivitas seperti ini," katanya.
Namun, kritik tetap datang dari berbagai pihak. Inggris, dengan tradisi dan daya beli yang kuat sebagai tuan rumah Grand Slam, dinilai masih "bermain di bawah kapasitas". Dibandingkan dengan Amerika Serikat, Australia, dan Prancis—yang juga diuntungkan pendapatan dari turnamen Grand Slam—jumlah pemain Inggris di 100 besar masih lebih sedikit. Negara seperti Spanyol, Italia, Ceko, dan Argentina juga dianggap lebih unggul dalam hal produksi talenta. Chris Marshall, pelatih senior dengan pengalaman lebih dari 25 tahun, menyoroti masalah biaya yang menjadi penghalang utama. "Untuk membiayai anak usia 12 tahun di level kabupaten, dibutuhkan sekitar £500 hingga £1.000 per bulan untuk pelatihan, perjalanan, dan biaya turnamen," katanya. "Ini hambatan finansial yang sangat besar dan membuat olahraga ini tidak terjangkau bagi mayoritas keluarga Inggris. Kita tidak bisa terus meratapi minimnya wakil Inggris di pekan kedua Grand Slam sementara kita sendiri membatasi jalur regenerasi pemain."
Bagi Indonesia, kisah ini menawarkan pelajaran berharga. Meski memiliki populasi besar dan antusiasme terhadap tenis yang tumbuh, Indonesia masih berjuang untuk melahirkan petenis kelas dunia. Masalah biaya pembinaan yang tinggi, kurangnya pelatih berkualitas, dan infrastruktur yang belum merata menjadi tantangan serupa. Keberhasilan Inggris dalam meningkatkan jumlah pemain di 100 besar—meski belum konsisten di panggung Grand Slam—menunjukkan bahwa investasi jangka panjang pada pembinaan usia dini dan peningkatan kualitas pelatih adalah kunci. Namun, tanpa dukungan finansial yang memadai bagi keluarga muda, potensi besar akan terus tersia-siakan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah LTA mampu mengatasi hambatan struktural ini, atau justru akan terus bergantung pada munculnya bakat-bakat langka seperti Raducanu dan Draper? Dengan biaya pembinaan yang semakin mahal dan persaingan global yang semakin ketat, Inggris—dan juga Indonesia—perlu berpikir radikal tentang bagaimana menciptakan ekosistem tenis yang inklusif dan berkelanjutan. Jika tidak, mimpi untuk melihat lebih banyak nama Inggris di pekan kedua Grand Slam mungkin hanya akan menjadi nostalgia belaka.



