Gagal Rekrut Zirkzee, Everton Andalkan Tyrique George sebagai Solusi Lini Depan
Baca dalam 60 detik
- Everton gagal mendatangkan Joshua Zirkzee dan Folarin Balogun di bursa transfer, memaksa klub mencari alternatif internal.
- Tyrique George, pemain pinjaman dari Chelsea, tampil impresif di dua laga awal dan diplot sebagai pelapis Thierno Barry.
- Keputusan Moyes mempromosikan George menjadi ujian bagi kedalaman skuat Everton di tengah musim yang penuh tekanan.

Everton memasuki musim baru dengan skuat yang justru lebih tipis dibanding akhir musim lalu, setelah gagal mendatangkan penyerang incaran di bursa transfer. Kini, pelatih David Moyes terpaksa melirik pemain muda pinjaman, Tyrique George, untuk mengisi lini depan yang krisis.
Kegagalan Everton mendatangkan Joshua Zirkzee dari Manchester United dan Folarin Balogun dari AS Monaco pada hari terakhir bursa menjadi pukulan telak. Padahal, kepergian Beto ke Fiorentina membuat klub hanya memiliki Thierno Barry sebagai satu-satunya penyerang murni senior. Situasi ini diperparah dengan hengkangnya Iliman Ndiaye ke Manchester City senilai 65 juta poundsterling, yang mengurangi kreativitas di lini serang.
Di tengah keterbatasan itu, Tyrique George muncul sebagai harapan baru. Pemain berusia 20 tahun yang dipinjam dari Chelsea pada Januari lalu itu telah dipercaya mengisi starting line-up di dua pertandingan pembuka Premier League. Catatannya cukup menjanjikan: 75 persen dribel sukses, tujuh duel dimenangkan, dan tiga peluang diciptakan. Gaya bermainnya yang dinamis dan mampu beroperasi di berbagai posisi serang dinilai mirip dengan profil Zirkzee yang gagal direkrut.
Menurut jurnalis Merseyside, Giulia Bould, George disebut-sebut akan menjadi opsi cadangan utama di belakang Barry. Analis Ben Mattinson bahkan menjulukinya sebagai pemain "eksplosif" yang punya pengalaman bermain sebagai ujung tombak. Sementara Barry sendiri telah mencetak tiga gol dan satu assist dalam empat penampilan perdananya musim ini, menunjukkan bahwa duet keduanya bisa menjadi ancaman bagi pertahanan lawan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, situasi ini menarik untuk dicermati. Everton, klub yang kerap menjadi kiblat bagi pengembangan pemain muda Inggris, kini berada di persimpangan. Keputusan Moyes untuk mempromosikan George bisa menjadi pelajaran berharga bagi klub-klub Indonesia yang kerap bergantung pada pembelian pemain asing ketimbang memaksimalkan potensi lokal. Jika George berhasil bersinar, ini akan membuktikan bahwa solusi internal kerap lebih murah dan efektif daripada belanja mahal yang berisiko.
Namun, tekanan tetap membayangi. Everton nyaris lolos ke Liga Champions setelah mengalahkan Chelsea 3-0 pada Maret lalu, tetapi tujuh laga tanpa kemenangan di akhir musim merusak segalanya. Kegagalan di bursa transfer mempertegas kekurangan manajemen klub, dan kini Moyes harus bekerja ekstra dengan materi yang ada. Akankah Tyrique George menjadi jawaban yang selama ini dicari Everton, atau justru menjadi simbol lain dari ambisi yang kandas? Musim ini akan menjadi ujian nyata bagi kesabaran suporter dan ketajaman mata Moyes dalam meracik strategi.



