Jepang Terpanggang: Suhu 40 Derajat Celsius Tembus Rekor Sembilan Tahun Berturut-turut
Baca dalam 60 detik
- Jepang mencatat suhu 40 derajat Celsius untuk tahun kesembilan beruntun, dengan puncak 40,3 derajat di Gifu pada 21 Juli.
- Badan Meteorologi Jepang memperkenalkan istilah 'kokushobi' untuk hari-hari ekstrem, seiring 255 titik observasi menembus 35 derajat.
- Peringatan sengatan panas dikeluarkan untuk 42 prefektur, tertinggi tahun ini, mendorong kewaspadaan penggunaan AC dan hidrasi.

Jepang kembali mengalami gelombang panas ekstrem pada 21 Juli, ketika suhu di sejumlah wilayah mencapai 40 derajat Celsius untuk pertama kalinya sejak badan meteorologi setempat memperkenalkan istilah 'kokushobi' atau 'hari yang sangat panas' pada April lalu. Fenomena ini menandai tahun kesembilan berturut-turut Negeri Sakura mencatat suhu setinggi itu, memperkuat kekhawatiran akan dampak perubahan iklim yang semakin nyata.
Berdasarkan data Badan Meteorologi Jepang (JMA), suhu tertinggi tercatat di Tajimi, Prefektur Gifu, yang mencapai 40,3 derajat Celsius pada pukul 14.09 waktu setempat. Kota Gujo di prefektur yang sama juga menembus angka 40 derajat, sementara Toyota di Prefektur Aichi mencatat 40,1 derajat pada pukul 14.22. Dari total 914 titik observasi nasional, sebanyak 255 titik melaporkan suhu di atas 35 derajat Celsius pada pukul 14.00.
Kementerian Lingkungan Hidup dan JMA mengeluarkan peringatan sengatan panas (heatstroke) untuk 42 prefektur, jumlah tertinggi sepanjang tahun ini. Masyarakat diimbau untuk menggunakan pendingin ruangan secara bijak serta rutin mengonsumsi cairan dan garam guna mencegah dehidrasi. Langkah ini menjadi krusial mengingat Jepang memiliki populasi lansia yang rentan terhadap dampak cuaca ekstrem.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat bahwa gelombang panas bukan lagi ancaman eksklusif negara subtropis. Dalam beberapa tahun terakhir, suhu di sejumlah kota besar Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya kerap menyentuh 36โ37 derajat Celsius, mendekati ambang bahaya. Meski belum ada istilah resmi seperti 'kokushobi', Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem yang perlu direspons serius oleh pemerintah daerah dan masyarakat.
Menurut analis iklim dari Universitas Tokyo, Prof. Hiroshi Takahashi, tren pemanasan global membuat kejadian suhu ekstrem seperti ini semakin sering terjadi. "Jika emisi karbon tidak segera ditekan, Jepang dan negara-negara lain akan menghadapi 'hari-hari kejam' yang lebih panjang dan lebih intens," ujarnya dalam sebuah wawancara dengan media lokal. Pernyataan ini selaras dengan laporan IPCC yang memproyeksikan peningkatan frekuensi gelombang panas di Asia Timur.
Ke depan, Jepang perlu memperkuat infrastruktur adaptasi iklim, seperti taman kota dengan kanopi pohon yang lebih rimbun dan sistem peringatan dini yang lebih terintegrasi. Pertanyaan yang muncul: apakah Indonesia, dengan kerentanan geografisnya, sudah memiliki rencana serupa untuk melindungi warganya dari ancaman panas ekstrem yang kian dekat?



