Hisayama Perluas Program Cek Kesehatan Gratis ke Anak SD: Cegah Penyakit Gaya Hidup Sejak Dini
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah kota Hisayama, Jepang, meluncurkan pemeriksaan kesehatan gratis untuk siswa kelas 6 SD guna mendeteksi risiko penyakit gaya hidup sejak anak-anak.
- Program yang telah berjalan sejak 1961 untuk orang dewasa ini diperluas ke anak-anak agar data kesehatan dapat dibandingkan saat mereka dewasa, memungkinkan intervensi dini.
- Inisiatif ini dinilai sebagai langkah preventif yang belum pernah ada di prefektur Fukuoka, dengan harapan dapat mengubah kebiasaan hidup sebelum sulit diubah saat dewasa.

Pemerintah kota Hisayama di Prefektur Fukuoka, Jepang, memulai program pemeriksaan kesehatan gratis bagi siswa kelas 6 sekolah dasar mulai pertengahan Juli lalu. Langkah ini merupakan perluasan dari program cek kesehatan dewasa yang sudah berjalan sejak 1961, dengan tujuan membangun kesadaran akan penyakit gaya hidup sejak usia dini.
Program yang dikenal dengan sebutan "Hisayama health checkup" ini selama puluhan tahun menjadi rujukan nasional dan internasional dalam pencegahan penyakit tidak menular. Kini, anak-anak usia 11-12 tahun menjadi sasaran baru melalui "children's Hisayama health checkup" yang digarap bersama Universitas Kyushu. Pemeriksaan meliputi tes urine, tekanan darah, dan kuesioner gaya hidup, berbeda dari cek kesehatan rutin tahunan yang hanya mengukur tinggi dan berat badan.
Menurut data pemerintah setempat, sejak 1961 lebih dari 100.000 orang telah mengikuti program ini โ jumlah itu sepuluh kali lipat dari total populasi Hisayama. Keunikan Hisayama terletak pada komposisi demografisnya yang stabil, memungkinkan studi jangka panjang. Universitas Kyushu memilih kota ini pada 1960-an saat meneliti stroke, yang kala itu menjadi penyebab kematian utama di Jepang. Hasilnya, lahirlah "Metode Hisayama" yang mengintegrasikan pemerintah kota, universitas, dan dokter swasta dalam satu sistem skrining terpadu.
Pada pelaksanaan perdana 15 Juli lalu, sebanyak 50 anak dari dua kelas di SD Yamada โ satu dari dua SD di Hisayama โ mengikuti rangkaian tes. Selain pemeriksaan fisik, mereka mendapat edukasi gizi interaktif, termasuk tes kadar garam dan kuis tentang kandungan natrium dalam mi instan. "Penyakit gaya hidup sangat dipengaruhi kebiasaan makan, olahraga, dan tidur sejak kecil. Begitu dewasa, sulit mengubah kebiasaan. Maka penting menanamkan kesadaran sejak anak-anak," ujar Toshiharu Ninomiya, profesor bidang higiene dan kesehatan masyarakat Universitas Kyushu yang mengepalai kantor studi Hisayama.
Bagi Indonesia, pendekatan Hisayama menawarkan pelajaran berharga. Angka penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan stroke terus meningkat di Tanah Air. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi diabetes pada penduduk usia โฅ15 tahun mencapai 2%, sementara hipertensi 34,1%. Program skrining terintegrasi sejak usia sekolah, seperti yang dilakukan Hisayama, bisa menjadi model bagi daerah dengan mobilitas penduduk rendah dan data kesehatan yang kontinu. Namun, tantangan besar terletak pada koordinasi lintas sektor dan pendanaan berkelanjutan.
Ke depan, Hisayama berencana memperluas cakupan anak-anak dan terus membandingkan data jangka panjang. Pertanyaan yang muncul: mampukah model ini direplikasi di negara berkembang seperti Indonesia, di mana beban penyakit gaya hidup kian berat namun infrastruktur kesehatan preventif masih terbatas?



