Ubur-ubur Raksasa Serbu Perairan Korea Selatan: Peningkatan Lima Kali Lipat dalam Setahun
Baca dalam 60 detik
- Penampakan ubur-ubur Nomura di perairan Korea Selatan melonjak lima kali lipat dibanding tahun lalu, dengan rata-rata 10 ekor per hektar.
- Fenomena ini diduga dipengaruhi oleh perubahan suhu air, ketersediaan makanan, dan arus laut, namun penyebab pasti masih diselidiki.
- Kedatangan lebih awal dan penyebaran ke laut Barat dan Selatan meningkatkan risiko sengatan, mengingatkan pentingnya kewaspadaan wisatawan.

Populasi ubur-ubur raksasa Nomura di perairan Korea Selatan mengalami lonjakan drastis. Lembaga Ilmu Perikanan Nasional Korea Selatan mencatat peningkatan lima kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan rata-rata 10 ekor per hektar ditemukan di sekitar Pulau Jeju dan pesisir selatan.
Ubur-ubur Nomura, yang dapat mencapai diameter dua meter dan menyengat dengan rasa sakit hebat, biasanya terbawa arus dari Laut China Timur saat musim panas. Namun tahun ini, kedatangan mereka terjadi dua minggu lebih awal dan menyebar hingga ke Laut Barat dan Selatan, tidak hanya terbatas di Laut Timur seperti sebelumnya.
Lonjakan ini menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya kasus sengatan, terutama di tengah musim liburan pantai. Pejabat lembaga tersebut mengakui bahwa faktor lingkungan seperti suhu air, ketersediaan makanan, dan arus laut berperan, tetapi penyebab pasti belum dapat dipastikan karena keterbatasan data dari perairan China tempat ubur-ubur berasal.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan potensi serupa di perairan Nusantara. Perubahan suhu laut dan arus global juga dapat mempengaruhi migrasi ubur-ubur beracun ke pantai-pantai wisata Indonesia. Meskipun spesies Nomura belum umum ditemukan di Indonesia, jenis ubur-ubur lain seperti Physalia physalis (man-of-war) kerap muncul dan menyebabkan insiden sengatan.
Pejabat lembaga tersebut menambahkan bahwa fluktuasi tahunan sangat signifikan, sehingga belum bisa dipastikan apakah tren ini akan berlanjut. Masyarakat diimbau untuk meminimalkan paparan kulit saat berenang dan segera membilas sengatan dengan air laut atau saline, serta mencari pertolongan medis jika gejala parah muncul.
Ke depan, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami pola migrasi ubur-ubur dan kaitannya dengan perubahan iklim. Apakah peningkatan ini merupakan anomali sementara atau bagian dari tren jangka panjang? Jawabannya akan menentukan langkah mitigasi yang tepat bagi negara-negara pesisir, termasuk Indonesia.



