Skrining Kanker Serviks di Nepal: 90 Wanita Positif HPV Tanpa Gejala
Baca dalam 60 detik
- Skrining massal di Kathmandu menemukan 90 dari 2.975 wanita terinfeksi HPV, mayoritas tanpa gejala.
- Sebanyak 12 wanita terpapar HPV-16 dan 13 terpapar HPV-18, dua tipe penyebab 70% kasus kanker serviks.
- Temuan ini menekankan pentingnya deteksi dini dan vaksinasi HPV, terutama di negara dengan akses terbatas seperti Nepal.

Sebanyak 90 wanita di Kathmandu, Nepal, dinyatakan positif terinfeksi human papillomavirus (HPV) setelah menjalani skrining kanker serviks secara acak yang digelar oleh pemerintah kota setempat. Yang mengejutkan, seluruh wanita tersebut tidak menunjukkan gejala apa pun dan sama sekali tidak menyadari kondisi mereka sebelum pemeriksaan dilakukan.
Program skrining yang berlangsung dari 30 Maret hingga 4 Mei itu memeriksa 2.975 wanita. Dari jumlah tersebut, 2.779 di antaranya menjalani tes DNA HPV, sementara 1.450 menjalani pengujian genotipe untuk mengidentifikasi tipe virus secara spesifik. Keterbatasan jumlah perangkat tes membuat hanya 1.329 wanita yang bisa diperiksa untuk tipe HPV-16 dan HPV-18—dua varian yang bertanggung jawab atas sekitar 70 persen kasus kanker serviks di dunia.
Chandra Bhatta, penanggung jawab program skrining kanker serviks di Kathmandu, mengungkapkan bahwa dari 90 kasus positif, 12 wanita terinfeksi HPV-16 dan 13 lainnya terinfeksi HPV-18. “65 wanita sisanya terinfeksi tipe HPV lain,” ujarnya. Temuan ini menunjukkan bahwa banyak perempuan yang menganggap dirinya sehat ternyata membawa virus penyebab kanker.
HPV adalah infeksi virus yang menular melalui kontak kulit dan merupakan penyebab utama kanker serviks—kanker kedua paling umum di negara berkembang. Di Nepal, kanker serviks menjadi momok bagi perempuan, dengan ratusan kasus baru setiap tahunnya. Meski data pasti belum tersedia, diperkirakan setidaknya empat perempuan Nepal meninggal akibat penyakit ini setiap hari.
Seluruh 90 wanita yang positif HPV menjalani kolposkopi, prosedur pemeriksaan serviks dengan alat pembesar. Sebanyak 24 wanita menjalani biopsi serviks, dan 6 lainnya menjalani polipektomi untuk mengangkat polip rahim. Hasil lanjutan menunjukkan 11 wanita mengalami neoplasia intraepitel serviks (CIN)—perubahan prakanker pada sel-sel leher rahim. Empat di antaranya tergolong CIN derajat tinggi yang jika tidak ditangani berpotensi berkembang menjadi kanker invasif.
Dr. Ujjwal Chalise, direktur eksekutif Bhaktapur Cancer Hospital, menyoroti kebiasaan buruk pasien kanker di Nepal yang baru mencari pertolongan setelah gejala muncul. “Gejala sering tidak tampak pada tahap awal, dan ketika sudah muncul, sering kali sudah terlambat sehingga hasil pengobatan buruk,” katanya. Ia mendorong pemerintah daerah untuk menyediakan layanan skrining kanker dasar di fasilitas kesehatan setempat.
Nepal telah memasukkan vaksin HPV ke dalam program imunisasi rutin, diberikan satu dosis kepada anak perempuan usia 10 tahun. Vaksin ini menargetkan tipe 16 dan 18. Namun, temuan skrining menunjukkan masih banyak perempuan terinfeksi tipe HPV lain yang juga berisiko. HPV memiliki lebih dari 200 tipe, dengan sekitar 14 tipe berisiko tinggi menyebabkan kanker.
Bagi Indonesia, pelajaran dari Nepal sangat relevan. Angka kejadian kanker serviks di Indonesia masih tinggi, dengan estimasi lebih dari 36.000 kasus baru per tahun. Program vaksinasi HPV nasional Indonesia baru dimulai secara bertahap pada 2023, dan cakupan skrining masih rendah. Temuan di Kathmandu menegaskan bahwa deteksi dini melalui skrining rutin dan perluasan akses vaksinasi adalah kunci menekan angka kematian akibat kanker serviks. Pertanyaannya, seberapa siap sistem kesehatan Indonesia menjangkau perempuan tanpa gejala sebelum semuanya terlambat?



