Sony Pinjamkan Robot Anjing Aibo ke Dua Universitas untuk Riset AI Fisik
Baca dalam 60 detik
- Sony Group meminjamkan prototipe robot Aibo dan perangkat pengembangan ke Universitas Tokyo dan UC Berkeley untuk riset ekspansi kemampuan.
- Langkah ini diambil setelah Sony menghentikan penjualan domestik Aibo pada Juni 2026, namun tetap mengembangkan model generasi berikutnya.
- Kolaborasi ini diharapkan mempercepat riset AI fisik dan membuka peluang aplikasi robotika di Indonesia, terutama di sektor layanan dan pendidikan.

Sony Group Corp meminjamkan prototipe robot anjing pintar Aibo, lengkap dengan perangkat pengembangan versi beta, kepada dua laboratorium universitas ternama. Langkah ini diambil untuk memperluas kemampuan robot ikonis tersebut sekaligus mematangkan riset kecerdasan buatan fisik (physical AI).
Dua institusi yang terlibat adalah Universitas Tokyo dan University of California, Berkeley. Melalui kerja sama ini, Sony berharap mendapatkan umpan balik langsung dari para peneliti untuk menyempurnakan pengembangan produk masa depan. Perusahaan asal Jepang itu juga menegaskan bahwa meski penjualan domestik Aibo telah dihentikan, proyek pengembangan model generasi berikutnya masih berjalan.
Keputusan Sony meminjamkan Aibo ke kampus bukan tanpa alasan. Sejak pertama kali dirilis pada 1999 dengan nama AIBO, robot ini sempat menjadi ikon teknologi konsumen sebelum produksinya dihentikan pada 2006. Sony kemudian meluncurkan model baru pada 2018, namun pada Juni 2026 perusahaan mengumumkan penghentian penjualan domestik untuk model saat ini. Alih-alih mengubur proyek, Sony justru mengalihkan fokus ke riset kolaboratif.
Bagi Indonesia, langkah Sony ini membuka peluang diskusi tentang adopsi robotika di dalam negeri. Meski pasar robot konsumen masih terbatas, sektor layanan seperti perhotelan, ritel, dan pendidikan mulai melirik teknologi serupa. Beberapa universitas di Indonesia, seperti ITB dan UI, telah memiliki laboratorium robotika yang bisa menjadi mitra potensial jika Sony memperluas programnya ke Asia Tenggara.
Menurut pengamat teknologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), kolaborasi semacam ini penting untuk menjembatani riset akademis dengan kebutuhan industri. "Physical AI bukan hanya soal perangkat keras, tapi juga integrasi dengan sistem cerdas yang bisa belajar dari lingkungan," ujarnya. Sony sendiri menyatakan akan menyumbang pada riset terapan di bidang physical AI, yang mencakup interaksi robot dengan manusia dan adaptasi terhadap lingkungan dinamis.
Ke depan, hasil riset dari Universitas Tokyo dan UC Berkeley diharapkan dapat mempercepat lahirnya Aibo generasi baru yang lebih pintar dan adaptif. Pertanyaan yang muncul: akankah Sony membuka akses serupa bagi institusi di negara berkembang seperti Indonesia? Jika ya, ini bisa menjadi momentum bagi ekosistem robotika nasional untuk melompat lebih jauh.



