Alphabet Terbakar Arus Kas: Belanja AI Raksasa Teknologi Kian Mengkhawatirkan
Baca dalam 60 detik
- Alphabet mencatat defisit arus kas pertama dalam sejarahnya pada kuartal II-2025, mencapai US$5,9 miliar, akibat investasi besar-besaran di infrastruktur AI.
- Rasio belanja modal terhadap pendapatan raksasa teknologi diperkirakan hampir dua kali lipat tahun ini, dengan Meta menembus 54,9% dan Alphabet 41%, menekan profitabilitas.
- Investor kini fokus pada apakah pendapatan AI dapat tumbuh lebih cepat dari biaya modal dan operasional, seiring kekhawatiran belanja hanya untuk bertahan kompetitif.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Alphabet—induk perusahaan Google—mengalami defisit arus kas pada kuartal kedua tahun ini, mencapai US$5,9 miliar. Fenomena ini menjadi sinyal peringatan bagi investor yang tengah menanti laporan keuangan raksasa teknologi lainnya, karena belanja besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI) mulai menggerogoti profitabilitas perusahaan yang selama ini dikenal sebagai mesin uang.
Meskipun unit Google Cloud mencatat pertumbuhan 82 persen—tertinggi sepanjang masa—arus kas justru negatif. Alphabet memperkirakan pengeluaran akan bertambah US$15 miliar pada 2026 dan kembali meningkat tahun depan. Kondisi ini mencerminkan transformasi besar di industri teknologi: dari yang semula mengandalkan margin tinggi dan arus kas melimpah, kini perusahaan-perusahaan besar mulai bergantung pada utang dan penjualan saham untuk mendanai belanja yang diperkirakan menembus US$700 miliar tahun ini.
Kekhawatiran serupa membayangi Microsoft, Meta Platforms, dan Amazon yang akan merilis laporan keuangan pekan depan. Saham Alphabet langsung terpangkas 6 persen dalam perdagangan awal, sementara Meta dan Amazon masing-masing turun sekitar 3,5 persen. Investor cemas bahwa ketiga perusahaan tersebut akan mengikuti jejak Alphabet dengan menaikkan proyeksi belanja, meskipun imbal hasil dari investasi AI belum sebanding dengan pengeluarannya.
Charu Chanana, kepala strategi investasi di Saxo Markets, menilai risiko masih condong ke arah kenaikan belanja lebih lanjut, terutama karena Microsoft dan lainnya masih terkendala kapasitas. "Investor akan semakin fokus pada seberapa besar uang tunai yang harus diinvestasikan ulang hanya untuk tetap kompetitif—dan apakah pendapatan AI bisa tumbuh lebih cepat dari belanja modal, depresiasi, dan biaya operasional," ujarnya.
Analis memperkirakan Alphabet dan Amazon akan terus membakar uang tunai pada 2026. Arus kas Meta diperkirakan menyusut 95,7 persen menjadi hanya US$1,85 miliar. Sementara Microsoft, yang tahun fiskalnya berakhir Juni mendatang, diperkirakan hanya mengantongi US$25,39 miliar—kurang dari setengah perolehan tahun sebelumnya yang mencapai US$58,74 miliar.
Di sisi lain, kinerja gemilang Google Cloud menjadi tekanan tambahan bagi Amazon Web Services (AWS) dan Microsoft Azure. Alphabet bahkan berencana menyewa kapasitas pusat data dari perusahaan lain untuk melayani kliennya, meskipun langkah itu akan menggerus margin. Setidaknya 20 firma sekuritas menaikkan target harga saham Alphabet setelah laporan tersebut, dengan median US$430—naik 26 persen dari harga penutupan terakhir.
Richard Clode, portofolio manager di Janus Henderson Investors, menyebut Google Cloud sebagai "ledakan absolut" dan menilai Alphabet memiliki keunggulan kompetitif dari chip AI khusus hingga distribusi ke miliaran pengguna. Namun, persaingan kian ketat. Meta dikabarkan tengah bernegosiasi untuk menyewa daya komputasi dari Anthropic, startup AI yang didukungnya, menambah daftar penyedia cloud AI seperti CoreWeave.
Lale Akoner, strategis pasar global di eToro, memperingatkan bahwa semakin banyaknya kapasitas komputasi dan menurunnya biaya model AI bisa membuat kapasitas cloud tampak semakin mudah tergantikan. "Hal itu bisa memaksa penyedia untuk mengeluarkan lebih banyak uang sambil menerima imbal hasil yang lebih rendah," katanya.
Bagi Indonesia, tren ini relevan mengingat investasi pusat data AI di Asia Tenggara terus mengalir deras. Google, Microsoft, dan Amazon telah mengumumkan ekspansi besar di kawasan, termasuk Indonesia. Jika belanja modal terus membengkak tanpa diimbangi pendapatan yang sepadan, ada risiko tekanan biaya akan diteruskan ke konsumen atau menghambat ekspansi layanan cloud di pasar berkembang. Pertanyaannya, akankah raksasa teknologi mampu mempertahankan pertumbuhan tanpa mengorbankan profitabilitas jangka panjang?



