Keributan Pasca Final Piala Dunia: Argentina Terancam Sanksi FIFA
Baca dalam 60 detik
- FIFA menyelidiki insiden kericuhan yang melibatkan pemain dan staf Argentina usai kekalahan 1-0 dari Spanyol di final Piala Dunia.
- Leandro Paredes, Nahuel Molina, dan asisten pelatih Roberto Ayala terlibat dalam bentrokan fisik yang terekam kamera.
- Sanksi potensial berupa larangan bertanding dan denda, dengan keputusan diperkirakan baru keluar dalam beberapa bulan.

Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) dipastikan akan membuka penyelidikan terhadap Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) menyusul keributan yang mewarnai akhir laga final Piala Dunia di MetLife Stadium, New Jersey, Minggu (19/1) waktu setempat. Kekalahan 1-0 dari Spanyol tidak hanya memupus harapan Argentina mempertahankan gelar, tetapi juga memicu serangkaian insiden kekerasan yang melibatkan pemain dan ofisial tim Tango.
Kericuhan dipicu oleh aksi bek Argentina, Nahuel Molina, yang terlihat memukul lengan gelandang Spanyol, Rodri, saat pemain Manchester City itu berlari merayakan kemenangan. Molina kemudian terlibat adu mulut dengan Rodri sebelum bek Spanyol, Eric Garcia, ikut campur. Saat itulah gelandang Argentina, Leandro Paredes, mendorong leher Garcia dengan kasar. Situasi semakin panas ketika pemain pengganti Spanyol, Gavi, yang mencoba melerai, malah didorong ke tanah oleh Thiago Almada dan Paredes. Asisten pelatih Argentina, Roberto Ayala, juga terlihat mencekik Garcia dan memukul Dani Olmo.
Menariknya, wasit Slavko Vincic sempat melaporkan bahwa Paredes mendapat kartu merah, tetapi catatan tersebut kemudian dihapus tanpa jejak sanksi di lapangan. Padahal, Argentina sudah kehilangan Enzo Fernandez akibat kartu kuning kedua di masa injury time babak kedua. Komite Disiplin FIFA kini menunggu laporan resmi pertandingan sebelum memutuskan langkah selanjutnya.
Mantan pemain Inggris, Alan Shearer, yang menjadi komentator BBC, mengecam keras tindakan para pemain Argentina. "Paredes melayangkan pukulan ke wajah lawan. Tidak ada tempat untuk itu. Kami tahu betapa sakitnya kalah, tetapi ada cara untuk kalah. Terlalu sering kami melihat hal seperti ini dari Argentina," ujarnya. Joe Hart, mantan kiper timnas Inggris, menambahkan, "Pertandingan sudah selesai, mereka tidak punya alasan. Perilaku menjijikkan."
Di sisi lain, pelatih Argentina Lionel Scaloni mencoba meredam situasi. Dalam wawancara usai laga, ia menyatakan, "Kami tahu bagaimana menang dengan anggun, dan kami harus tahu bagaimana kalah dengan anggun. Hari ini kami menunjukkan bahwa kami bisa menerima kekalahan." Namun, pernyataan itu bertolak belakang dengan aksi para pemainnya di lapangan.
FIFA memiliki preseden untuk menjatuhkan sanksi berat. Pada 2014, Luis Suarez dilarang bermain selama empat bulan karena menggigit Giorgio Chiellini. Kasus terdekat adalah larangan tiga tahun terhadap mantan presiden federasi Spanyol, Luis Rubiales, atas ciuman tanpa persetujuan. Meski demikian, hukuman untuk Paredes, Molina, dan Ayala diperkirakan tidak selama itu. Namun, AFA memiliki catatan buruk: setelah final 2022, Emiliano Martinez dilarang dua pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2024 karena perilaku ofensif.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, insiden ini menjadi pengingat bahwa tekanan di panggung tertinggi kerap memicu emosi yang meluap. Meski tidak ada pemain Indonesia yang terlibat, keputusan FIFA nantinya akan menjadi tolok ukur penegakan disiplin di level global. Apakah FIFA akan memberikan sanksi tegas seperti kasus Suarez, atau sekadar denda ringan seperti setelah final 2022? Keputusan diperkirakan baru akan diumumkan dalam beberapa bulan ke depan, mengingat proses penyelidikan dan banding yang panjang.



