Infantino Buka Peluang Piala Dunia 64 Tim: Demi Sepak Bola atau Uang?
Baca dalam 60 detik
- Presiden FIFA Gianni Infantino kembali mendorong perluasan Piala Dunia menjadi 64 tim, berdalih memberi kesempatan bagi negara-negara kecil.
- Wacana ini menuai penolakan dari konfederasi sepak bola Eropa, Asia, dan Amerika Utara karena dinilai merusak keseimbangan kompetisi.
- Di balik alasan pengembangan sepak bola, perluasan ini diproyeksikan meningkatkan pendapatan FIFA hingga miliaran dolar dari hak siar dan sponsor.

Gianni Infantino kembali menggulirkan wacana yang bisa mengubah wajah Piala Dunia selamanya: memperbesar jumlah peserta dari 48 menjadi 64 tim. Presiden FIFA itu berdalih bahwa langkah ini diperlukan agar negara-negara kecil tidak kehilangan motivasi untuk terus berkembang. Namun, di balik retorika mulia itu, tersimpan agenda finansial yang tak bisa diabaikan.
Infantino, yang terpilih sepuluh tahun lalu dengan janji memperluas turnamen, kini melihat peluang emas di Piala Dunia 2030 yang akan menandai satu abad perhelatan pertama di Uruguay. Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (Conmebol) bahkan telah mengajukan permintaan resmi pada April 2025 agar turnamen edisi tersebut diikuti 64 tim. Presiden Conmebol Alejandro Dominguez menyebutnya sebagai cara agar "tak ada satu pun negara di planet ini yang terlewat dari pesta."
Namun, dukungan dari benua lain nyaris tidak ada. Presiden UEFA Aleksander Ceferin menolak mentah-mentah, menyebutnya sebagai "gagasan buruk" bagi turnamen dan proses kualifikasi. Victor Montagliani, presiden Concacaf, menilai perluasan lebih lanjut akan merusak ekosistem sepak bola secara keseluruhan. Sementara itu, Presiden AFC Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa memperingatkan bahwa langkah ini bisa membawa "kekacauan." Meski demikian, keputusan akhir berada di tangan 37 anggota Dewan FIFA, yang selama ini cenderung mendukung Infantino.
Dari sisi format, perluasan menjadi 64 tim memang menawarkan solusi yang lebih rapi: dua tim teratas dari masing-masing 16 grup langsung melaju ke fase gugur, tanpa perlu melibatkan tim peringkat ketiga. Namun, pertanyaan mendasar adalah apakah tambahan peserta benar-benar akan meningkatkan kualitas kompetisi. Pada Piala Dunia 2026, enam dari 48 tim—termasuk Haiti, Irak, dan Tunisia—pulang tanpa satu poin pun. Menambah jumlah peserta hanya akan memperbanyak tim yang tidak kompetitif, terutama dari Asia dan Concacaf, yang performanya di turnamen terakhir jauh di bawah Afrika dan Eropa.
Di sisi lain, kisah sukses Cape Verde—yang mampu menahan imbang Spanyol dan Uruguay serta nyaris mengalahkan Argentina—menjadi senjata utama Infantino. FIFA berargumen bahwa lebih banyak partisipasi akan mendorong perkembangan sepak bola di negara-negara tersebut. Namun, kritikus menilai bahwa fase grup berisiko menjadi sekadar kualifikasi antar-konfederasi yang mewah, di mana tim-tim besar tidak lagi merasakan tekanan seperti saat Belgia (2022) atau Jerman (2018) tersingkir di babak awal.
Bagi Indonesia, wacana ini memiliki implikasi langsung. Dengan peringkat FIFA yang masih berkutat di angka 118, Indonesia akan menjadi salah satu peserta jika Piala Dunia diperluas. Ini tentu menjadi peluang emas bagi Garuda untuk merasakan panggung terbesar sepak bola dunia. Namun, tanpa pembenahan infrastruktur dan kualitas pemain yang signifikan, kehadiran Indonesia hanya akan menjadi pelengkap. Di sisi lain, biaya penyelenggaraan turnamen sebesar ini hampir mustahil ditanggung oleh satu negara. Pola multi-host seperti yang akan terjadi pada 2030 (Maroko, Portugal, Spanyol, plus Uruguay, Argentina, Paraguay) kemungkinan akan menjadi keniscayaan.
FIFA di bawah Infantino telah menunjukkan bahwa "lebih banyak" selalu berarti "lebih besar"—lebih banyak turnamen, lebih banyak pertandingan, dan lebih banyak uang. Pendapatan dari Piala Dunia 2026 yang diperkirakan mencapai $9 miliar menjadi bukti bahwa ekspansi adalah mesin uang yang tak pernah berhenti. Setiap asosiasi sepak bola nasional kini menerima dana $8 juta per siklus empat tahun, dan konfederasi mendapat $60 juta untuk pengembangan. Infantino, yang hampir pasti akan terpilih kembali tanpa lawan tahun depan, tampaknya tak akan berhenti sebelum semua negara FIFA—211 anggota—merasakan Piala Dunia.
Pertanyaan yang tersisa: di titik mana perluasan berhenti menjadi baik untuk sepak bola? Ataukah FIFA akan terus menambah peserta hingga Piala Dunia kehilangan esensi kompetitifnya, berubah menjadi festival global yang menguntungkan secara finansial namun hampa gengsi?



