Nobar Final Piala Dunia 2026: Tito Karnavian Sorot Dampak Ekonomi dan Kebersamaan
Baca dalam 60 detik
- Mendagri Tito Karnavian menghadiri nobar final Piala Dunia 2026 di Jakarta, menyebut kegiatan ini sebagai sarana hiburan sekaligus penggerak ekonomi lokal.
- Acara yang dihadiri Menteri PKP dan Kepala BPS ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo untuk memperkuat kebersamaan masyarakat.
- Tito menekankan bahwa semangat kebersamaan dan dampak ekonomi dari nobar diharapkan terus berlanjut meski turnamen telah usai.

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menilai nonton bareng (nobar) final Piala Dunia 2026 bukan sekadar hiburan, melainkan juga instrumen untuk mempererat solidaritas warga dan menggerakkan perekonomian di tingkat akar rumput. Ia menyampaikan hal itu saat menyaksikan laga Argentina kontra Spanyol bersama ratusan warga di Menteng Tenggulun, Jakarta, Senin (20/7) dini hari.
Tito hadir bersama Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait serta Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti. Kehadiran para pejabat tinggi negara itu, menurut Tito, merupakan wujud nyata dari arahan Presiden Prabowo Subianto agar masyarakat di berbagai daerah bisa menikmati pertandingan final secara kolektif. Dukungan stasiun televisi nasional dan pemerintah daerah menjadi kunci sukses penyelenggaraan nobar di sejumlah titik.
"Di daerah-daerah, saya dapat laporan dari kepala daerah, nobarnya ramai. Ini untuk menunjukkan kebersamaan, hiburan, kekompakan, sekaligus mendorong ekonomi," ujar Tito di sela acara. Ia menambahkan bahwa aktivitas ekonomi di sekitar lokasi nobar—seperti pedagang kaki lima dan warung makan—mengalami peningkatan transaksi selama acara berlangsung.
Mengomentari jalannya pertandingan, Tito mengakui Spanyol tampil dominan dan pantas menang. Namun, ia menegaskan bahwa hasil akhir bukanlah hal terpenting. "Yang lebih penting bagi saya, acara ini dilaksanakan di Menteng Tenggulun, bersama-sama masyarakat. Kemudian oleh Pak Ara Sirait dan Kepala BPS, itu menunjukkan kebersamaan kita," katanya. Pernyataan ini menggarisbawahi prioritas pemerintah pada aspek sosial-ekonomi ketimbang sekadar euforia olahraga.
Konteks Indonesia: Kegiatan nobar berskala besar seperti ini memiliki implikasi langsung terhadap pemulihan ekonomi pasca-pandemi. Dengan melibatkan pedagang lokal dan UMKM, setiap gelaran nobar mampu menyuntikkan likuiditas ke dalam sirkulasi ekonomi warga. Kepala BPS yang turut hadir menandakan bahwa pemerintah serius memantau dampak ekonomi dari setiap kebijakan, termasuk kegiatan hiburan publik.
Tito berharap semangat kebersamaan yang terbangun selama Piala Dunia tidak luntur begitu turnamen berakhir. "Piala Dunia berakhir, kita harapkan ekonomi kita tetap berjalan dengan bagus," pungkasnya. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah model nobar ini akan diadopsi untuk ajang olahraga lain, atau hanya menjadi momentum sesaat?



