Kembali ke Queensland, Izaia Perese Bidik Tiket Piala Dunia 2027
Baca dalam 60 detik
- Pemain tengah Australia Izaia Perese menandatangani kontrak dua tahun dengan Queensland Reds setelah meninggalkan Leicester Tigers.
- Perese, 29 tahun, berambisi merebut tempat di skuad Piala Dunia 2027 di bawah pelatih Les Kiss, memanfaatkan peluang di posisi outside centre.
- Kembalinya Perese ke Super Rugby memperkuat opsi timnas Australia dan menambah daya saing di lini belakang Reds.

Izaia Perese, pemain tengah berusia 29 tahun yang sempat membela Australia di Piala Dunia 2023, resmi kembali ke Queensland Reds dengan kontrak dua musim mulai 2025/26. Langkah ini menjadi upaya serius untuk menghidupkan kembali karier internasionalnya dan mengamankan tempat di skuad Piala Dunia 2027 yang akan dilatih Les Kiss.
Perese meninggalkan Leicester Tigers setelah musim 2025/26 berakhir, menutup petualangannya di Inggris yang hanya berlangsung dua tahun. Sebelumnya, ia sempat menjajal karier di rugby league bersama Brisbane Broncos, namun kini kembali ke akar rugby union-nya di Queensland. Debut Super Rugby bersama Reds pada 2016 menjadi awal perjalanannya, dan ia kini memasuki masa kedua bersama tim tersebut.
Dikenal sebagai pemain tengah bertipe kuat dengan kemampuan fisik dan pertahanan yang solid, Perese hanya mengoleksi tujuh caps bersama Wallabies. Caps terakhirnya diraih saat Australia tersingkir di fase grup Piala Dunia 2023 di Prancisโsebuah kegagalan yang masih membekas. Kini, ia melihat peluang untuk kembali ke tim nasional, terutama karena performa Joseph Suaalii di posisi outside centre belum memenuhi ekspektasi tinggi setelah kontrak besarnya senilai A$5 juta (sekitar Rp50 miliar) dari NRL pada 2024.
"Ini saat yang menarik bagi rugby Australia secara keseluruhan. Piala Dunia tahun depan jelas menjadi target, tetapi yang utama adalah bermain bagus di Reds," ujar Perese dalam pernyataan resmi. Ia menambahkan, "Bermain untuk negara adalah puncak karier. Satu-satunya cara untuk kembali ke sana adalah melakukan tugas saya sebaik mungkin untuk Queensland."
Kepulangan Perese ke Super Rugby tidak hanya berdampak pada persaingan internal Reds, tetapi juga memperkuat kedalaman skuad Wallabies menjelang Piala Dunia 2027. Dengan gaya bermain fisik yang khas, ia bisa menjadi opsi alternatif di lini belakang Australia yang selama ini mengandalkan pemain seperti Len Ikitau dan Hunter Paisami. Pelatih Les Kiss, yang baru mengambil alih timnas, tentu akan memantau perkembangan Perese di kompetisi domestik.
Bagi penggemar rugby di Indonesia, berita ini mungkin terasa jauh, namun perkembangan rugby di kawasan Asia Pasifik selalu menarik untuk diikuti. Australia, sebagai salah satu kekuatan tradisional, terus berbenah setelah kegagalan di Piala Dunia 2023. Kehadiran pemain berpengalaman seperti Perese bisa menjadi katalis kebangkitan mereka. Sementara itu, persaingan di Super Rugby Pacific musim depan dipastikan semakin ketat dengan kembalinya pemain-pemain berkaliber internasional.
Pertanyaan besarnya: mampukah Perese merebut tempat di starting XV Wallabies dan menjadi bagian dari skuad yang akan berlaga di Piala Dunia 2027? Ataukah kegagalan di masa lalu akan kembali menghantuinya? Semua akan terjawab di lapangan hijau.



