La Roja Tak Terbendung: 16 Gelar dalam Lima Tahun, Dominasi Spanyol Kian Mencekam
Baca dalam 60 detik
- Spanyol menjadi negara pertama yang secara bersamaan memegang gelar juara dunia pria dan wanita, setelah tim putra mengalahkan Argentina di final Piala Dunia 2026.
- Dalam lima tahun terakhir, Spanyol mengoleksi 16 trofi dari level U-17 hingga senior, termasuk Piala Dunia, Piala Eropa, Nations League, dan Olimpiade.
- Keberhasilan ini didorong oleh sistem pembinaan usia muda yang matang, filosofi permainan yang konsisten, serta kepemimpinan pelatih Luis de la Fuente yang sebelumnya dianggap berisiko.

Spanyol kembali menegaskan supremasi sepak bola dunia. Tim Matador menaklukkan Argentina 1-0 di final Piala Dunia 2026 yang digelar di New Jersey, Minggu (19/7), menambah panjang daftar prestasi yang nyaris tak tertandingi dalam satu dekade terakhir. Kemenangan ini bukan sekadar mengulang sukses 2010, melainkan puncak dari sebuah era dominasi yang meliputi sektor putra dan putri.
Dengan hasil ini, Spanyol menjadi negara pertama dalam sejarah yang secara simultan memegang gelar juara dunia untuk tim pria dan wanita. Tim putri La Roja telah lebih dulu merebut Piala Dunia 2023 di Sydney setelah mengalahkan Inggris. Tak berhenti di situ, dalam kurun 2022 hingga 2026, Spanyol mengoleksi total 16 gelar dunia dan Eropa dari berbagai kelompok umur โ mulai dari U-17, U-19, U-23 (Olimpiade), hingga level senior.
Dominasi ini, menurut pengamat sepak bola Spanyol Guillem Balague, adalah buah dari budaya sepak bola yang mengakar. "Ini seperti badai sempurna. Secara kultural, kami melakukan sesuatu dengan cara yang khas. Semua orang percaya pada prosesnya. Yang terpenting, kami tidak berhenti," ujarnya kepada BBC Sport. Balague menyebut pencapaian ini sebagai "Everest lain" setelah sukses serupa pada 2008-2010.
Kunci transformasi ini tak lepas dari tangan dingin Luis de la Fuente. Ketika ditunjuk pada Desember 2022, banyak pihak meragukan kapasitasnya karena ia tak pernah menangani klub besar. Namun, pelatih 65 tahun yang sebelumnya membesut tim U-19, U-21, dan Olimpiade itu justru mampu membangun budaya hormat, kesabaran, dan ketenangan. "Dia mengenal sebagian besar pemain dari akademi. Mereka tumbuh bersama sebagai tim," ujar eks gelandang Spanyol Juan Mata. Hasilnya, dalam waktu kurang dari empat tahun, De la Fuente mempersembahkan tiga trofi bergengsi: Nations League 2023, Piala Eropa 2024, dan kini Piala Dunia 2026.
Kesuksesan ini juga tak lepas dari investasi besar pada sepak bola wanita. Mantan pemain Barcelona Maria Garrido menggambarkan perubahan drastis dalam satu dekade terakhir. "Sepuluh tahun lalu, tidak ada La Masia untuk anak perempuan. Kami menanggung biaya transportasi sendiri. Kini, situasinya berubah drastis โ ada akademi khusus, fasilitas lebih baik, dan rasa hormat yang meningkat," katanya. Transformasi ini melahirkan generasi emas seperti Vicky Lopez (19 tahun, tiga kali juara Liga Champions) dan Salma Paralluelo (23 tahun, 50+ penampilan internasional).
Di sektor putra, munculnya bakat belia seperti Lamine Yamal dan Pau Cubarsi โ keduanya baru 19 tahun โ menjadi simbol keberlanjutan. Yamal menjadi pemain termuda ketiga yang tampil di final Piala Dunia setelah Pele (1958) dan Giuseppe Bergomi (1982). Spanyol juga menjadi tim pertama yang menurunkan dua remaja dalam satu partai puncak Piala Dunia. Mantan kiper Inggris Joe Hart memuji permainan Spanyol yang "tak tersentuh" โ hanya menghadapi 10 tembakan tepat sasaran sepanjang turnamen.
Dampak dominasi ini meluas ke level klub. Meski Pep Guardiola hengkang dari Manchester City, setidaknya seperempat manajer Premier League musim 2026-27 berasal dari Spanyol. Thierry Henry, legenda Prancis, memprediksi era keemasan ini masih panjang. "Saya ingin memberi penghargaan pada sistem yang mereka bangun. Dulu Spanyol tidak pernah menang seperti ini. Kini mereka menang di semua level," ujarnya kepada Fox Sports.
Bagi Indonesia, pencapaian Spanyol menawarkan pelajaran berharga: pentingnya investasi berkelanjutan pada pembinaan usia muda, konsistensi filosofi permainan, dan keberanian memberi kesempatan pada pelatih yang paham ekosistem lokal. Pertanyaannya, mampukah negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, meniru resep kesuksesan La Roja dalam satu atau dua dekade ke depan?



