Mbappe Ukir Sejarah: Top Skor Piala Dunia Dua Edisi Beruntun
Baca dalam 60 detik
- Kylian Mbappe menjadi pemain pertama yang meraih Sepatu Emas Piala Dunia dua kali berturut-turut setelah mencetak 10 gol di edisi 2026.
- Penyerang Prancis itu kini menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia putra dengan 22 gol, unggul satu dari Lionel Messi.
- Pencapaian Mbappe menegaskan dominasinya di panggung global, namun Prancis harus puas di posisi keempat setelah kalah dari Inggris di perebutan perunggu.

Kylian Mbappe menorehkan namanya dalam buku sejarah sepak bola dunia dengan menjadi pemain pertama yang memenangkan Sepatu Emas Piala Dunia dua kali secara beruntun. Penyerang timnas Prancis itu memastikan gelar top skor turnamen edisi 2026 setelah mengoleksi 10 gol dalam delapan pertandingan, mengungguli Lionel Messi yang harus puas dengan delapan gol.
Pencapaian ini melengkapi catatan gemilang Mbappe yang sebelumnya juga menjadi top skor Piala Dunia 2022 di Qatar dengan delapan gol. Kini, pemain berusia 27 tahun itu telah mengoleksi total 22 gol di ajang Piala Dunia, menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang masa untuk kategori putra, unggul satu gol dari Messi yang berada di posisi kedua.
Sepanjang turnamen, Mbappe menunjukkan konsistensi luar biasa. Ia mencetak dua gol melawan Senegal dan Irak di fase grup, serta satu gol ke gawang Swedia di babak 32 besar. Di babak 16 besar, gol penalti pada menit ke-70 memastikan kemenangan atas Paraguay, disusul gol ke gawang Maroko di perempat final. Dua gol tambahan ia sumbangkan saat Prancis menghadapi Inggris di perebutan tempat ketiga, meski akhirnya Les Bleus kalah 4-6 dan finis di posisi keempat.
Di sisi lain, Messi yang berusia 39 tahun gagal menambah pundi-pundi golnya di final. Argentina takluk 0-1 dari Spanyol di New Jersey, membuat La Pulga mengakhiri turnamen dengan delapan gol. Seandainya Messi mencetak hat-trick di final, ia bisa saja merebut kembali gelar top skor. Namun, penampilan gemilang kiper Spanyol Unai Simon menjadi tembok kokoh yang tak tertembus.
Unai Simon sendiri layak mendapat sorotan. Kiper Athletic Club itu hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen, yaitu dari Charles de Ketelaere (Belgia) di perempat final. Dengan tujuh clean sheet dari delapan laga, ia berhak menyandang Sarung Tangan Emas sebagai kiper terbaik. Simon berhasil menggeser David Raya yang merupakan kiper utama Arsenal dan juara Premier League, membuktikan bahwa keputusan pelatih Luis de la Fuente tepat.
Bagi Indonesia, prestasi Mbappe menjadi pengingat akan pentingnya pembinaan pemain muda dan konsistensi di level tertinggi. Di tengah euforia sepak bola nasional yang tengah berbenah, kisah Mbappe bisa menjadi inspirasi bagi para pesepak bola muda Tanah Air untuk bermimpi besar dan bekerja keras. Namun, jalan menuju panggung dunia masih panjang, mengingat infrastruktur dan kompetisi domestik yang perlu terus ditingkatkan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Mbappe mempertahankan dominasinya di Piala Dunia 2030? Dengan usia yang masih 31 tahun saat itu, bukan tidak mungkin ia akan kembali memecahkan rekor-rekor lain. Sementara bagi Messi, kegagalan di final 2026 mungkin menjadi penutup karier Piala Dunianya. Persaingan dua generasi ini telah memberikan tontonan kelas dunia yang akan dikenang lama.



