Bos La Liga Serukan Infantino Lengser: FIFA Dinilai Hancurkan Industri Sepak Bola
Baca dalam 60 detik
- Presiden La Liga Javier Tebas secara terbuka mendesak Gianni Infantino mundur dari kursi presiden FIFA, menuding organisasi itu merusak ekosistem sepak bola global.
- Tebas mengkritik kebijakan kontroversial Piala Dunia 2026 seperti jeda hidrasi wajib, perpanjangan waktu istirahat final, dan wacana turnamen 64 tim yang dinilai mengabaikan kepentingan liga domestik.
- Meski Infantino diprediksi kembali terpilih pada Kongres FIFA Maret mendatang, kritik Tebas menyoroti sistem pemilihan yang dianggap cacat dan minim oposisi.

Presiden La Liga, Javier Tebas, secara terbuka menuntut Gianni Infantino meninggalkan jabatan presiden FIFA. Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, Tebas menilai organisasi sepak bola dunia itu tengah menghancurkan industri yang menopang ribuan lapangan kerja. Kritik ini muncul di tengah sorotan terhadap sejumlah kebijakan kontroversial FIFA selama Piala Dunia 2026 yang baru saja berlangsung di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Tebas, yang hadir langsung di Amerika Serikat menyaksikan Spanyol menjuarai turnamen, mengaku mendengar banyak keluhan dari berbagai pihak. Namun, ia menyayangkan tidak ada tindakan nyata untuk mengimbangi kekuasaan Infantino. “Saya tidak tahu mana yang lebih buruk, diam atau bersekongkol, karena mereka yang diam sadar betul kerusakan yang diderita sepak bola,” ujarnya.
Menurut Tebas, Infantino seharusnya sudah lengser akibat keterlibatannya dalam kasus penundaan sanksi terhadap striker AS, Folarin Balogun. Pemain berusia 25 tahun itu lolos dari skorsing sebelum laga 16 besar melawan Belgia setelah intervensi Presiden AS Donald Trump. Tebas menilai keberuntungan Belgia yang mengeliminasi AS membuat kasus itu terkubur. “Jika Belgia kalah, mungkin Infantino sudah kehilangan pekerjaannya,” tegasnya.
Kritik Tebas tidak berhenti di situ. Ia mengecam kebijakan jeda hidrasi yang menurut FIFA demi kesejahteraan pemain, tetapi dianggap sebagai dalih untuk menambah slot iklan. “Di Dallas, Los Angeles, Atlanta, stadion berpendingin udara. Saya harus pakai sweter di tribun. Itu kebohongan, jeda untuk iklan,” sindirnya. La Liga sendiri hanya menerapkan jeda hidrasi saat suhu benar-benar panas.
Durasi pertunjukan paruh waktu final yang mencapai 27 menit juga menjadi sasaran kritik. Madonna, BTS, Shakira, dan Justin Bieber menjadi pengisi acara, memperpanjang waktu istirahat yang biasanya 15 menit. Tebas menilai FIFA hanya mengikuti kepentingannya sendiri, bukan demi sepak bola. “Jika mereka butuh jeda 27 menit, mereka akan lakukan. Itu bukti kita diperintah lembaga yang bertindak sesuka hati,” katanya.
Bagi Indonesia, kritik Tebas relevan mengingat PSSI dan klub-klub Liga Indonesia kerap menghadapi tekanan jadwal internasional. Wacana penambahan jumlah tim Piala Dunia menjadi 64 berpotensi memperparah bentrok kalender dengan kompetisi domestik. Selain itu, praktik jeda iklan yang mengatasnamakan kesejahteraan pemain patut diwaspadai jika FIFA menerapkannya secara global. Sepak bola Indonesia, yang masih bergulat dengan profesionalisme, bisa menjadi korban kebijakan yang tidak berpihak pada liga lokal.
UEFA sebelumnya mengecam keputusan FIFA dalam kasus Balogun sebagai “belum pernah terjadi, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat dibenarkan”. Presiden UEFA Aleksander Ceferin bahkan memboikot final Piala Dunia sebagai bentuk protes. Tebas menambahkan bahwa sistem pemilihan FIFA sudah “busuk sampai ke akar”, tanpa kandidat oposisi yang berani maju. “Tidak ada yang mau mencalonkan diri hanya untuk kalah,” ujarnya.
Dengan Kongres FIFA yang akan memutuskan masa depan Infantino pada Maret mendatang, pertanyaan besarnya: akankah kritik dari tokoh sekelas Tebas mampu menggoyahkan kursi presiden yang sudah bertahan hampir satu dekade? Atau justru akan kembali tenggelam dalam diam yang dikecamnya sendiri?



