Piala Dunia 2026: Argentina Gagal Back-to-Back, Messi Pamit?
Baca dalam 60 detik
- Argentina takluk 0-1 dari Spanyol di final Piala Dunia 2026, gagal menyamai rekor Italia dan Brasil sebagai juara bertahan.
- Kekalahan ini diperkirakan menjadi akhir perjalanan Lionel Messi di Piala Dunia, mengingat usianya yang sudah 39 tahun.
- Meski kecewa, publik Argentina masih menyisakan kebanggaan atas kemenangan semifinal melawan Inggris yang sarat sejarah.

Pesta juara beruntun yang diimpikan Argentina harus kandas di tangan Spanyol. Dalam laga final Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Minggu (19/7) waktu setempat, La Albiceleste menyerah 0-1 setelah gol tunggal Spanyol tercipta di babak perpanjangan waktu. Kekalahan ini sekaligus memupus harapan Argentina menjadi tim ketiga dalam sejarah yang mampu mempertahankan gelar juara dunia, setelah Italia (1934-1938) dan Brasil (1958-1962).
Jalan Argentina menuju final sejatinya sudah dipenuhi ekspektasi yang menggelembung. Sempat memulai turnamen dengan target rendah, pasukan Lionel Scaloni perlahan membangun kepercayaan diri usai melewati babak gugur yang menegangkan melawan Cape Verde, Mesir, dan Swiss. Puncaknya, kemenangan dramatis 2-1 atas Inggris di semifinal menjadi momen yang membangkitkan kembali euforia nasional. Pertandingan itu bukan sekadar laga biasaโia membawa muatan sejarah panjang, mulai dari kekalahan Argentina di Piala Dunia 1966, kontroversi "Tangan Tuhan" Diego Maradona pada 1986, hingga memori perang Malvinas 1982. Para pemain Argentina bahkan mengibarkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas Son Argentinas" selepas pertandingan, sebuah gestur yang langsung menggema di kalangan pendukung.
Namun, euforia itu tak berlanjut di partai puncak. Spanyol tampil dominan dengan penguasaan bola dan efektivitas serangan, hingga akhirnya memecah kebuntuan di masa tambahan waktu. "Saya akui ketika sebuah tim bermain bagus, dan Spanyol bermain sangat bagus," ujar Fernanda Ramayon, seorang psikolog berusia 39 tahun yang menonton pertandingan bersama keluarganya di sebuah restoran di Buenos Aires. "Saya pikir sudah luar biasa bisa mencapai final. Saya tetap bahagia."
Bagi sebagian besar warga Argentina, kekalahan ini memang pahit, tetapi kebanggaan atas pencapaian tim tetap terasa. "Tentu saja ini sensasi yang sangat pahit, tapi kami tetap mengalahkan Inggris. Messi sebelumnya belum pernah melawan Inggris," kata Ornella Godoy, 24 tahun, seorang pekerja periklanan yang menonton pertandingan bersama teman-temannya di luar bar. Optimisme juga masih tersisa, terutama soal regenerasi tim. "Kami percaya pada pemain-pemain yang tersisa," tambahnya.
Di pusat kota Buenos Aires, ribuan pendukung tetap berkumpul di sekitar Monumen Obelisk, meski suasana jauh berbeda dibandingkan tahun 2022. Saat itu, lebih dari satu juta orang memenuhi jalan-jalan ibu kota untuk merayakan gelar juara. Ketika tim tiba dua hari kemudian, jutaan orang lainnya melumpuhkan kota dalam pesta jalanan terbesar dalam sejarah Argentina, memaksa Messi dan rekan-rekannya diangkut dengan helikopter melintasi kota untuk bergabung dalam perayaan. Kini, yang tersisa hanyalah kembang api yang melesit di langit Buenos Airesโsebuah penutup yang sunyi dari sebuah mimpi yang kandas.
Kekalahan ini juga membawa implikasi besar bagi sepak bola Indonesia. Dengan kemungkinan pensiunnya Messi dari pentas Piala Dunia, generasi baru penggemar Tanah Air yang selama ini mengidolakan sang megabintang harus mulai mencari figur baru. Di sisi lain, keberhasilan Spanyol dengan gaya tiki-taka modernnya bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan sepak bola usia muda di Indonesia, yang kerap kali mengadopsi model permainan Eropa. Pertanyaannya, mampukah Indonesia memanfaatkan momen ini untuk mempercepat transformasi sepak bola nasional, atau justru kembali terjebak dalam euforia sesaat?



