Piala Dunia 2026: Masjid dan Gereja di Singapore Gelar Nobar Final, Ada Pelajaran untuk Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Sejumlah masjid dan satu gereja di Singapore menggelar nonton bareng laga final dan perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026, menarik minat ratusan jemaat.
- Program ini dirancang untuk menarik generasi muda datang ke tempat ibadah, memadukan sepak bola dengan kegiatan spiritual dan sosial.
- Inisiatif serupa bisa menjadi contoh bagi Indonesia untuk memanfaatkan momentum olahraga global demi mempererat komunitas lintas iman.

Piala Dunia 2026 memasuki babak puncak, dan sejumlah tempat ibadah di Singapore memanfaatkan momen ini untuk mendekatkan diri dengan komunitas. Beberapa masjid dan sebuah gereja di negara kota itu akan menggelar pemutaran langsung laga perebutan tempat ketiga serta partai final, yang berlangsung pada dini hari waktu setempat.
Laga perebutan tempat ketiga antara Prancis dan Inggris akan digelar pada 19 Juli pukul 05.00 waktu Singapore, sementara final antara Spanyol dan Argentina akan berlangsung pada 20 Juli pukul 03.00. Sejumlah masjid seperti Masjid Khalid di Joo Chiat dan Masjid An-Nur di Admiralty telah menyiapkan acara khusus yang menyasar anak muda. Masjid Khalid, misalnya, membuka acara untuk 30 peserta pria usia 15โ25 tahun, yang dimulai dengan kelas agama dan doa sebelum pertandingan.
Masjid An-Nur menggelar acara bertajuk "Beyond 90 Minutes" yang terbuka untuk remaja usia 13โ20 tahun, baik laki-laki maupun perempuan. Sejauh ini, 20 orang telah mendaftar. Menurut juru bicara masjid, ajang empat tahunan ini dilihat sebagai peluang bermakna untuk melibatkan generasi muda melalui minat bersama terhadap sepak bola. "Lebih dari sekadar menonton pertandingan, program ini bertujuan mendorong lebih banyak anak muda datang ke masjid dan melihatnya sebagai ruang yang ramah dan nyaman untuk berkumpul, membangun persahabatan, serta memperkuat hubungan mereka dengan komunitas Muslim," ujarnya.
Sementara itu, Masjid Sultan di Kampong Gelam akan menggelar "Beyond The Final" mulai pukul 02.00 pada 20 Juli, diawali dengan salat, lalu pemutaran final hingga pukul 05.44, dan ditutup dengan salat Subuh. Lebih dari 100 orang telah mendaftar untuk acara yang terbuka untuk umum ini. Ini adalah kali pertama masjid bersejarah tersebut menyelenggarakan acara serupa.
Di sisi lain, Gereja Church of The Immaculate Heart of Mary di Serangoon akan memutar final sambil mengadakan potluck komunitas pada 20 Juli. Kepala komunikasi paroki, Henry Ramas, mengatakan sekitar 70 orangโcampuran dewasa dan anak-anakโtelah mendaftar, dan pihaknya memperkirakan 100โ130 orang akan hadir. Gagasan ini berasal dari Pastor Timothy Yeo, penggemar sepak bola, yang menilai acara ini sebagai cara yang indah untuk merayakan kebersamaan. "Ini adalah kesempatan berbiaya rendah untuk memulai percakapan, serta alternatif yang aman dan ramah keluarga dibandingkan pergi ke pub," kata Ramas.
Inisiatif ini bergabung dengan berbagai pemutaran yang diadakan oleh entitas komersial dan komunitas, bahkan sebuah sekolah, seiring Piala Dunia yang dimulai 11 Juni mencapai puncaknya. Argentina, juara bertahan yang diperkuat Lionel Messi, berusaha menjadi tim ketiga dalam sejarah yang mempertahankan gelar juara dunia. Sementara Spanyol, yang menjuarai turnamen pada 2010, tampil di final untuk pertama kalinya sejak kemenangan mereka di Afrika Selatan.
Fenomena ini menarik untuk dicermati di Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan antusiasme sepak bola yang tinggi. Di banyak kota, tradisi nobar Piala Dunia sudah lazim, namun biasanya digelar di kafe atau mal. Inisiatif masjid dan gereja di Singapore menunjukkan bahwa sepak bola bisa menjadi jembatan untuk memperkuat ikatan komunitas lintas iman, sekaligus menjadi sarana dakwah dan pembinaan generasi muda. Pertanyaannya, mampukah Indonesia meniru langkah serupa, terutama di tengah potensi polarisasi yang kerap muncul saat perhelatan olahraga besar?



