Gelombang Jersey Palsu Senilai Rp340 Miliar Disita Polisi Inggris, Picu Peringatan Bahaya Kebakaran
Baca dalam 60 detik
- Polisi Inggris menyita lebih dari 220.000 kaus sepak bola palsu senilai ยฃ18 juta (sekitar Rp340 miliar) selama Piala Dunia 2022, dengan satu penggerebekan di Birmingham menemukan 1.618 kaus tiruan pemain bintang.
- Uji nyala oleh pemadam kebakaran menunjukkan kaus palsu meleleh seketika terkena api, sementara kaus asli sulit terbakar, menimbulkan risiko luka bakar parah terutama pada anak-anak.
- Jaringan kriminal membanjiri pasar dengan kaus murah (mulai ยฃ12) menjelang turnamen besar, dan pembeli tidak tahu bahwa uang mereka bisa mendanai kejahatan terorganisir.

Polisi Inggris menyita lebih dari 220.000 kaus sepak bola palsu senilai ยฃ18 juta (sekitar Rp340 miliar) selama perhelatan Piala Dunia 2022, menyusul kekhawatiran akan keselamatan konsumen akibat bahan yang mudah terbakar dan mengandung zat kimia berbahaya.
Operasi Bloxwich, yang digelar Kepolisian Kekayaan Intelektual Inggris, mengungkap lonjakan penjualan kaus palsu selama turnamen. Dalam satu penggerebekan di gudang Birmingham, petugas menemukan 1.618 kaus tiruan yang mencantumkan nama pemain top seperti Kylian Mbappe (Prancis) dan Erling Haaland (Norwegia).
Detektif Sersan Jamie Kirk, yang terlibat dalam operasi tersebut, mengungkapkan bahwa kaus palsu tidak melalui pengawasan mutu. "Saya paham orang ingin membeli kaus ini karena cinta sepak bola dan harganya murah, tapi kaus ini tidak diatur dan bisa sangat mudah terbakar," ujarnya. Ia menambahkan bahwa pewarna pada kaus palsu berpotensi mengiritasi kulit, terutama pada anak-anak.
Peringatan paling keras datang dari Dinas Pemadam Kebakaran Cheshire. Petugas Dave Jackson melakukan uji nyala dengan menggantung kaus asli dan palsu pada batang besi, lalu menyulutnya dengan obor. "Kaus palsu meleleh begitu obor menyentuhnya. Saya benar-benar harus berusaha keras untuk membuat kaus asli terbakar," katanya. Jackson menekankan bahwa risiko luka bakar sangat nyata, terutama bagi anak-anak yang mungkin mengenakan kaus tersebut saat bermain atau menonton pertandingan.
Kate Caffrey, kepala intelijen Kantor Kekayaan Intelektual, menegaskan bahwa kaus palsu tidak tunduk pada standar kesehatan dan keselamatan Inggris maupun Uni Eropa. "Kami punya bukti bahwa barang palsu diproduksi dalam kondisi memprihatinkan. Anda tidak tahu apa yang terkandung di dalamnya atau bagaimana pembuatannya," ujarnya. Caffrey juga memperingatkan bahwa penjualan kaus palsu mendanai jaringan kriminal terorganisir yang dengan cerdik menyasar pasar saat permintaan tinggi, seperti Piala Dunia atau musim Premier League.
Fenomena ini relevan bagi Indonesia, di mana maraknya kaus sepak bola palsu juga menjadi masalah. Harga kaus asli klub Eropa yang bisa mencapai jutaan rupiah mendorong konsumen beralih ke tiruan murah. Namun, tanpa regulasi ketat seperti di Inggris, risiko kesehatan dan keselamatan justru lebih besar. Belum lagi aspek etis: uang yang dibelanjakan bisa masuk ke jaringan ilegal. Otoritas Indonesia perlu waspada terhadap lonjakan serupa menjelang Piala Dunia 2026 atau musim liga mendatang.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya bagaimana menekan peredaran kaus palsu, tetapi juga apakah kesadaran konsumen akan bahaya tersembunyi di balik harga murah cukup kuat untuk mengubah kebiasaan belanja. Atau, akankah godaan diskon tetap mengalahkan risiko?



