Final Piala Dunia 2026: Antara Kekacauan Argentina dan Ketenangan Spanyol
Baca dalam 60 detik
- Spanyol belum pernah tertinggal dalam tujuh pertandingan dan tampil dominan sepanjang turnamen.
- Argentina mengandalkan agresivitas dan momen magis Messi untuk mengimbangi superioritas Spanyol.
- Perebutan tempat ketiga antara Prancis dan Inggris diprediksi berlangsung tanpa gairah karena kedua tim kecewa.

Final Piala Dunia 2026 akan mempertemukan dua kekuatan berbeda: Spanyol yang tenang dan terstruktur melawan Argentina yang agresif dan penuh kekacauan. Pertandingan di MetLife Stadium, New Jersey, Minggu (19/7) dinihari WIB, tidak hanya menentukan juara dunia tetapi juga menguji mana yang lebih unggul antara penguasaan bola dan semangat juang.
Spanyol datang dengan rekor sempurna: belum pernah tertinggal dalam tujuh laga. Performa mereka saat menghancurkan Prancis di semifinal (3-0) disebut sebagai pertandingan nyaris sempurna. Lini belakang yang diragukan mampu membendung serangan Prancis justru tampil gemilang, sementara Rodri kembali ke performa terbaiknya setelah cedera ACL yang mengancam kariernya. Lamine Yamal, meski belum bersinar penuh, tetap menjadi ancaman laten.
Argentina, di sisi lain, dianggap kurang impresif secara teknis dibanding edisi sebelumnya. Namun, seperti diakui pengamat Chris Sutton, tim asuhan Lionel Scaloni memiliki agresivitas dan kegigihan yang luar biasa. "Mereka bertarung seperti tidak ada tim lain untuk bertahan dalam pertandingan dan menang dengan cara apa pun," ujar Sutton. Kehadiran Lionel Messi selalu menjadi faktor X yang bisa mengubah jalannya laga.
Pertarungan taktik menjadi sorotan. Spanyol diperkirakan akan mendominasi penguasaan bola seperti biasa, sementara Argentina kemungkinan besar akan bertahan dalam dan mengandalkan serangan balik cepat, seperti yang mereka lakukan di babak pertama melawan Inggris. Sutton memprediksi bahwa jika Argentina mencoba bermain terbuka, mereka akan mudah dihukum oleh Spanyol. "Ketenangan akan memenangkan hari," katanya, merujuk pada gaya bermain Spanyol yang tidak panik meski dalam tekanan.
Perebutan tempat ketiga antara Prancis dan Inggris, yang berlangsung sehari sebelumnya, diprediksi menjadi laga tanpa gairah. Kedua tim masih diliputi kekecewaan setelah gagal di semifinal. Pelatih Prancis Didier Deschamps akan memainkan skuad lapis kedua pada laga perpisahannya setelah 14 tahun menukangi Les Bleus. Sutton menilai kesalahan taktik Thomas Tuchel yang menarik diri setelah unggul 1-0 atas Argentina menjadi penyebab utama kegagalan Inggris.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, final ini menawarkan tontonan dua filosofi berbeda. Spanyol mewakili sepak bola modern yang berbasis penguasaan dan presisi, sengan Argentina mengingatkan pada semangat garuda yang pantang menyerah. Pertanyaan besarnya: mampukah Argentina mengulang keajaiban seperti yang mereka lakukan di semifinal, atau Spanyol akan menegaskan superioritasnya sebagai tim terbaik turnamen?



