Spanyol Kampiun Piala Dunia: Kejayaan La Roja di Amerika, Messi Tersisih
Baca dalam 60 detik
- Spanyol menaklukkan Argentina 1-0 di final Piala Dunia berkat gol Ferran Torres di perpanjangan waktu, sekaligus mengukuhkan status sebagai raja baru sepak bola dunia.
- Lamine Yamal, 19 tahun, menjadi bintang termuda yang mengangkat trofi, sementara Lionel Messi harus mengakhiri turnamen dengan penampilan paling pasif sepanjang kariernya.
- Kemenangan ini membuka peluang bagi Spanyol untuk mendominasi era sepak bola global, sementara Argentina harus mengevaluasi ulang skuad pasca-Messi.

Spanyol resmi dinobatkan sebagai juara dunia setelah mengalahkan Argentina 1-0 di partai final yang berlangsung di Amerika Serikat, Minggu (9/7) waktu setempat. Gol semata wayang Ferran Torres di babak perpanjangan waktu memastikan La Roja mengangkat trofi untuk kedua kalinya, 16 tahun setelah gelar perdana mereka di Piala Dunia 2010.
Kemenangan ini tidak hanya mengukuhkan supremasi Spanyol di pentas global, tetapi juga menandai peralihan generasi. Lamine Yamal, yang baru berusia 19 tahun, menjadi pemain termuda yang mengangkat trofi Piala Dunia setelah sebelumnya bersinar di Euro 2024. Sementara itu, Lionel Messi harus menerima kenyataan pahit sebagai runner-up dengan penampilan yang disebut media Italia sebagai yang paling anonim sepanjang kariernya. “Messi menutup turnamen tanpa kesalahan sendiri, tetapi ia nyaris tidak mengancam pertahanan Spanyol,” tulis Tuttosport.
Final yang berlangsung di Stadion MetLife, New Jersey, itu menyajikan duel sengit. Argentina harus bermain dengan 10 orang sejak menit ke-80 setelah Enzo Fernández menerima kartu merah langsung. Meski sempat bertahan mati-matian, gawang mereka akhirnya bobol oleh tendangan akurat Torres di menit ke-105. Media Italia menyebut Spanyol sebagai tim yang “cerdas dan tanpa ampun” (intelligent and ruthless), pantas menjadi juara.
Kemenangan ini juga menjadi sorotan utama di media cetak Italia. La Gazzetta dello Sport memberi judul “Mondo Rosso” (Dunia Merah), merayakan dominasi Spanyol di Amerika. Corriere dello Sport menyebutnya “Il Nuovo Mondo” (Dunia Baru) dengan tag “Gold Generation”. Sementara Tuttosport, yang berbasis di Turin, membagi halaman depannya antara kemenangan Spanyol dan berita transfer pemain.
Bagi Indonesia, kemenangan Spanyol ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya regenerasi dan pengembangan pemain muda. Lamine Yamal, yang lahir di Spanyol dari orang tua Maroko, menjadi simbol keberhasilan program akademi La Masia. Sementara Argentina, yang selama ini bergantung pada Messi, harus segera mencari figur baru untuk memimpin tim. Di level Asia, persaingan menuju Piala Dunia 2026 semakin ketat, dan Indonesia perlu belajar dari konsistensi Spanyol dalam memadukan pengalaman dengan talenta muda.
Di luar lapangan, berita transfer juga mewarnai halaman olahraga Italia. Tuttosport melaporkan bahwa striker Parma, Pellegrino, semakin dekat dengan Juventus. Kesepakatan disebut sudah hampir rampung, hanya tertunda oleh situasi Jhon Lucumí. Juventus dikabarkan akan mengumumkan transfer tersebut dalam waktu dekat.
Dengan berakhirnya Piala Dunia ini, pertanyaan besar muncul: mampukah Spanyol mempertahankan dominasi mereka di turnamen-turnamen mendatang? Atau justru Argentina yang akan bangkit dengan generasi baru? Satu hal yang pasti, sepak bola dunia telah menyaksikan lahirnya era baru yang dipimpin oleh La Roja.



