Messi Bawa Argentina ke Final Piala Dunia, Inggris dan Prancis Tersingkir
Baca dalam 60 detik
- Lionel Messi menjadi aktor utama kemenangan Argentina atas Inggris di semifinal lewat dua assist krusial di menit-menit akhir.
- Keputusan taktis Thomas Tuchel yang memasang lima bek justru menjadi sasaran kritik, meski faktanya Inggris tertekan sebelum perubahan itu.
- Spanyol sukses menundukkan Prancis berkat penguasaan bola dan disiplin taktik, mempertemukan mereka dengan Argentina di partai puncak.

Lionel Messi kembali menunjukkan kelasnya sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa dengan dua assist yang membawa Argentina membalikkan keadaan dan mengalahkan Inggris 2-1 di semifinal Piala Dunia, sekaligus mengubur mimpi Inggris untuk meraih gelar juara dunia. Pertandingan yang berlangsung sengit di Stadion MetLife, New Jersey, itu menjadi tontonan dramatis dengan keputusan taktik yang menuai perdebatan.
Inggris unggul lebih dulu melalui gol cepat, namun Argentina mampu menyamakan kedudukan sebelum turun minum. Memasuki babak kedua, Inggris masih memegang kendali hingga sekitar menit ke-70, ketika gelombang serangan Argentina mulai tak terbendung. Manajer Inggris Thomas Tuchel mengambil keputusan kontroversial dengan menarik keluar penyerang Antony Gordon dan memasukkan bek Ezri Konsa, mengubah formasi menjadi lima pemain bertahan. Langkah ini langsung menjadi sasaran kritik dari para pengamat dan suporter.
Namun, analisis lebih mendalam menunjukkan bahwa sebelum perubahan itu, Inggris sudah terdesak hebat. Dalam rentang 17 menit sebelum pergantian, Argentina menciptakan beberapa peluang emas: tekel penyelamatan Djed Spence, tembakan Enzo Fernandez yang melambung tipis di atas mistar, serta penyelamatan gemilang Jordan Pickford dari sundulan jarak dekat. Mantan kiper Inggris Paul Robinson bahkan mengkritik permainan Inggris yang terlalu dalam. Tuchel membela keputusannya, mengatakan bahwa timnya sudah kehilangan kendali dan ia harus mencegah kebobolan.
Di sisi lain, Messi menunjukkan kecerdasannya dalam membaca permainan. Assist pertamanya datang setelah ia dengan sengaja menarik perhatian Elliot Anderson sebelum mengirim bola ke Fernandez yang bebas. Assist kedua bahkan lebih brilian: ia melewati dua bek Inggris yang mengantisipasi gerakan ke kiri, lalu melepaskan umpan silang kaki kanan yang sempurna ke kepala pemain Argentina untuk mencetak gol kemenangan. Rekan setimnya langsung berlari memeluk Messi, bukan pencetak gol, sebagai pengakuan atas kejeniusannya.
Sementara itu, di semifinal lain, Spanyol mengalahkan Prancis 2-0 dengan permainan yang matang secara taktik. Prancis yang tampil impresif sepanjang turnamen justru tampil buruk. Kartu kuning awal Adrien Rabiot membuatnya tidak bisa membantu bek kiri Lucas Digne yang kewalahan menghadapi Lamine Yamal. Digne akhirnya melakukan pelanggaran di kotak penalti yang berujung gol penalti Mikel Oyarzabal. Manajer Prancis Didier Deschamps gagal menemukan solusi, hanya melakukan pergantian pemain yang serupa tanpa perubahan strategi berarti.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pertandingan ini menyajikan tontonan kelas dunia yang langka. Meski tanpa keterlibatan langsung, gaya bermain Spanyol yang mengedepankan penguasaan bola dan disiplin taktik bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan sepak bola nasional. Sementara itu, kegagalan Inggris dan Prancis mengingatkan bahwa keseimbangan antara serangan dan pertahanan sangat krusial di level tertinggi.
Final antara Argentina dan Spanyol dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini. Kedua tim memiliki filosofi berbeda: Argentina mengandalkan momen magis Messi, sementara Spanyol mengandalkan kolektivitas dan kontrol permainan. Pertanyaan besarnya, mampukah Messi menambah satu lagi trofi besar dalam karirnya, atau justru Spanyol yang akan mengukuhkan dominasi taktik mereka?



