Scaloni Tolak Tawaran Melatih Lazio Demi Komitmen ke Timnas Argentina
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Argentina Lionel Scaloni menolak pinangan Lazio pada 2024 karena ingin fokus menuntaskan tugasnya bersama tim nasional.
- Edoardo Reja, mantan pelatih Lazio, mengungkapkan bahwa Scaloni memiliki visi futuristik dan kepemimpinan karismatik yang diakui para pemain.
- Lazio terus berganti pelatih dalam tiga musim terakhir, dan kini menunjuk Gennaro Gattuso untuk musim 2026-27.

Lionel Scaloni, pelatih yang membawa Argentina juara Piala Dunia 2022, pernah mendapat tawaran menangani Lazio pada 2024. Namun, ia menolak mentah-mentah karena merasa terikat janji dengan timnas Argentina. Pengakuan ini disampaikan oleh mantan pelatih Lazio, Edoardo Reja, dalam wawancara dengan Il Messaggero.
Reja, yang pernah melatih Scaloni saat masih menjadi pemain di Lazio dan Atalanta, mengungkapkan bahwa ia menjadi perantara antara Scaloni dan presiden Lazio, Claudio Lotito. โSaya bertanya apakah dia ingin kembali ke Lazio sebagai pelatih. Dia menjawab, โTidak, pelatih. Saya tetap bersama Argentina, saya punya komitmen dan tidak akan mundurโ,โ kenang Reja.
Bagi Reja, Scaloni bukan sekadar pemain biasa. Ia melihat kualitas kepemimpinan yang luar biasa sejak masih aktif bermain. โDia adalah pemimpin karismatik dan sangat cerdas. Tim-tim yang saya latih menganggapnya sebagai pemimpin karena karakter dan kepribadiannya. Semua orang mengikutinya saat dia berbicara,โ ujar Reja. Ia juga memuji visi taktis Scaloni yang dinilainya futuristik dan kemampuannya membaca permainan dari bangku cadangan.
Scaloni sendiri memiliki pengalaman bermain di Serie A bersama Lazio dan Atalanta pada akhir kariernya. Ia tampil dalam 40 pertandingan di bawah asuhan Reja, mencetak satu gol dan tiga assist. Secara keseluruhan, mantan bek ini mencatatkan 67 penampilan di Serie A dengan satu gol.
Keputusan Scaloni bertahan di Argentina menunjukkan loyalitas yang langka di era sepak bola modern, di mana tawaran klub sering kali lebih menggiurkan secara finansial. Bagi Lazio, penolakan ini menambah daftar panjang ketidakstabilan di kursi pelatih. Dalam tiga musim terakhir, klub ibu kota itu telah memecat Marco Baroni setelah gagal membawa tim ke Eropa, lalu Maurizio Sarri hengkang dengan kesepakatan bersama setelah juga gagal lolos ke kompetisi Eropa. Kini, Lazio mempercayakan kursi pelatih kepada Gennaro Gattuso, yang baru saja gagal membawa Italia lolos ke Piala Dunia.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah ini mengingatkan pada pentingnya komitmen terhadap tim nasional. Scaloni memilih jalan yang sama dengan pelatih-pelatih top dunia yang lebih memprioritaskan tugas negara ketimbang godaan klub. Di tengah maraknya pelatih asing yang melatih tim nasional, kesetiaan Scaloni menjadi contoh bagaimana seorang arsitek permainan bisa membangun warisan jangka panjang.
Ke depan, tantangan Scaloni adalah mempertahankan performa Argentina di level tertinggi, sementara Lazio harus berharap Gattuso mampu mengembalikan kejayaan klub. Pertanyaan besarnya: akankah Scaloni suatu hari nanti melatih di Eropa, atau ia akan menghabiskan seluruh karier kepelatihannya bersama Argentina?



