FIFA Dituduh Otoriter Usai Cabut Akreditasi Media Italia Jelang Final Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- FIFA mencabut tiga dari lima akreditasi jurnalis Gazzetta dello Sport untuk final Piala Dunia 2026, menyisakan hanya dua koresponden.
- Pencabutan terjadi setelah media Italia itu mengkritik penyelenggaraan turnamen, termasuk keputusan kontroversial soal kartu merah Balogun.
- Insiden ini memicu kekhawatiran tentang kebebasan pers di bawah kepemimpinan Gianni Infantino, dengan implikasi bagi media global termasuk Indonesia.

FIFA kembali menjadi sorotan setelah mencabut tiga dari lima akreditasi jurnalis Gazzetta dello Sport, media olahraga terkemuka Italia, untuk final Piala Dunia 2026 di New York. Langkah ini memicu tuduhan bahwa badan sepak bola dunia tersebut menghukum kritik media terhadap penyelenggaraan turnamen.
Keputusan FIFA membuat Gazzetta hanya memiliki dua koresponden yang dapat meliput laga puncak, sementara media Italia lain seperti Corriere della Sera dan Repubblica mendapatkan seluruh akreditasi yang mereka ajukan. Salah satu jurnalis yang terkena dampak, Filippo Maria Ricci, mengungkapkan kekecewaannya melalui media sosial setelah tiket liputan, akses zona campuran, dan izin parkirnya dibatalkan hanya beberapa jam sebelum pertandingan.
FIFA beralasan pencabutan akreditasi karena keterbatasan tempat di tribun media. Namun, Davide Chinellato, koresponden Gazzetta di Inggris, mencurigai adanya motif lain. Ia mengaitkan keputusan itu dengan pemberitaan kritis Gazzetta terhadap FIFA, termasuk artikel tentang pencabutan kartu merah Folarin Balogun yang kontroversial dan tajuk utama yang menyebut turnamen ini sebagai "bencana" karena terlalu banyak pertandingan, uang, dan pengaruh politik.
Kritik terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026 sebenarnya bukan hanya datang dari Gazzetta. Beberapa media internasional juga menyoroti masalah logistik, jadwal padat, dan keputusan wasit yang dianggap tidak konsisten. Namun, pencabutan akreditasi secara mendadak ini menimbulkan pertanyaan serius tentang kebebasan pers di bawah kepemimpinan Gianni Infantino. Giovanni Capuano dari Radio 24 menyebut sulit untuk tidak mencurigai adanya kaitan antara kritik dan sanksi yang dijatuhkan FIFA.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya independensi media dalam meliput even olahraga global. Dengan semakin besarnya pengaruh politik dan komersial dalam sepak bola, tekanan terhadap jurnalis yang kritis bisa meningkat. Pengalaman Gazzetta menunjukkan bahwa kritik terhadap penyelenggara dapat berakibat pada pembatasan akses informasi, yang pada akhirnya merugikan publik yang ingin mendapatkan liputan yang berimbang.
Ke depan, langkah FIFA ini berpotensi memicu reaksi dari asosiasi jurnalis dan organisasi kebebasan pers internasional. Pertanyaan yang mengemuka: apakah FIFA akan mempertahankan kebijakan ini atau justru membuka dialog untuk memperbaiki hubungan dengan media? Atau, akankah insiden ini menjadi preseden buruk bagi peliputan Piala Dunia mendatang?



