Spanyol Samai Rekor Italia, Satu Kemenangan Lagi untuk Catatan Sempurna
Baca dalam 60 detik
- La Roja mencatat 37 laga tanpa kekalahan beruntun, menyamai rekor yang diukir Italia di bawah Roberto Mancini.
- Jika mampu memenangi final Piala Dunia 2026, Spanyol akan memecahkan rekor tersebut sekaligus menambah piala dunia keempat.
- Penampilan impresif Spanyol di turnamen ini ditopang pertahanan kokoh yang baru kebobolan satu gol sepanjang turnamen.

Spanyol resmi menjadi finalis pertama Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Prancis 2-0 pada laga semifinal, Selasa (13/7) waktu setempat. Kemenangan itu sekaligus mengantarkan La Roja menyamai rekor tak terkalahkan beruntun milik Italia—37 pertandingan di semua kompetisi—yang dicatatkan era Roberto Mancini (2018-2021). Kini, satu langkah lagi Spanyol bisa memecahkan rekor tersebut: memenangi partai puncak.
Di partai final yang akan digelar Minggu depan, Spanyol akan menghadapi pemenang antara Argentina dan Inggris. Jika mampu mengangkat trofi, catatan tak terkalahkan mereka akan menjadi 38 laga, melampaui rekor Italia. Prestasi ini kian istimewa mengingat skuad asuhan Luis De La Fuente tidak diperkuat satu pun pemain yang bermain di Serie A, liga yang selama ini identik dengan ketangguhan pertahanan.
Sepanjang turnamen, Spanyol tampil dominan dengan mencetak 13 gol dan hanya kebobolan satu gol—tercipta dari penalti Charles De Ketelaere (Atalanta) saat perempat final melawan Belgia. Ketajaman lini depan dan solidnya pertahanan menjadi kunci perjalanan mereka ke final. Sebelumnya, kiper Unai Simón juga telah memecahkan rekor Italia lainnya: tidak kebobolan selama 519 menit beruntun, melampaui catatan Walter Zenga yang bertahan 36 tahun.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, pencapaian Spanyol ini menarik untuk dicermati. Tim nasional Indonesia sendiri tengah berbenah menuju Piala Dunia 2026, dan konsistensi seperti yang ditunjukkan Spanyol bisa menjadi tolok ukur. Selain itu, absennya pemain Serie A di skuad Spanyol menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu bergantung pada liga elite Eropa—sebuah pelajaran bagi pengembangan sepak bola domestik.
Menurut analis sepak bola asal Italia yang dikutip Gazzetta dello Sport, rekor tak terkalahkan Mancini dulu diraih dengan gaya bermain pragmatis, sementara Spanyol di bawah De La Fuente lebih eksplosif dan agresif. Perbedaan filosofi ini membuat rekor baru Spanyol berpotensi lebih mengesankan secara statistik dan estetika permainan.
Pertanyaan besarnya: mampukah Spanyol mempertahankan konsistensi di partai puncak? Dengan lawan yang kemungkinan besar Argentina—tim dengan Lionel Messi yang tengah on fire—atau Inggris yang haus gelar, final nanti akan menjadi ujian sesungguhnya. Jika Spanyol menang, mereka tidak hanya memecahkan rekor Italia, tetapi juga mengukuhkan status sebagai salah satu tim terhebat dalam sejarah sepak bola.



