Keamanan Diperketat di Laga Inggris vs Argentina: Kenangan Perang Malvinas Membayangi
Baca dalam 60 detik
- Polisi Atlanta meningkatkan pengamanan untuk semifinal Piala Dunia antara Inggris dan Argentina, menyusul rivalitas historis yang dipicu Perang Falklands 1982.
- Federasi veteran perang Argentina meminta suporter fokus pada sepak bola, bukan politik, setelah pemain Argentina menyanyikan chant soal Kepulauan Malvinas.
- Lebih dari 500 insiden terkait sepak bola terjadi di Inggris akhir pekan lalu, mendorong polisi mengimbau fans untuk meniru perilaku suporter di AS.

Polisi Atlanta, Amerika Serikat, mengumumkan peningkatan pengamanan untuk laga semifinal Piala Dunia antara Inggris dan Argentina yang akan berlangsung Rabu mendatang. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi ketegangan yang berakar dari rivalitas panjang kedua negara, termasuk konflik Perang Falklands pada 1982 yang masih menyisakan luka.
Pertemuan di Atlanta Stadium ini menjadi duel pertama Inggris dan Argentina di Piala Dunia sejak 2002. Inggris berambisi mengalahkan juara bertahan Argentina untuk melaju ke final pertama mereka sejak 1966. Namun, di luar aspek olahraga, sejarah kelam antara kedua negara ikut membayangi.
Perang Falklands—yang berlangsung 74 hari pada 1982—menewaskan 649 tentara Argentina, 255 personel militer Inggris, dan tiga warga sipil. Wilayah seberang laut Inggris yang dikenal sebagai Las Malvinas di Argentina itu masih menjadi sengketa kedaulatan hingga kini. Ketegangan kembali mencuat setelah pemain Argentina menyanyikan chant yang merujuk pada kepulauan tersebut usai kemenangan dramatis 3-2 atas Mesir di babak 16 besar.
Federasi Veteran Perang 2 April Argentina mengeluarkan pernyataan yang meminta para pendukung untuk tidak mencampuradukkan olahraga dengan politik. “Kedaulatan dipertahankan di forum internasional melalui diplomasi, kebenaran sejarah, dan klaim damai yang diamanatkan konstitusi kami,” bunyi pernyataan tersebut. Mereka menegaskan pentingnya memisahkan “gairah olahraga” dari “perjuangan nasional”.
Di sisi lain, kiper Inggris Jordan Pickford berusaha meredam ketegangan dengan menyebut laga ini “hanya pertandingan sepak bola” dan yakin “sepak bola akan berbicara sendiri”. Namun, catatan buruk suporter Inggris di dalam negeri menjadi perhatian. Polisi Inggris melaporkan lebih dari 500 insiden terkait sepak bola selama akhir pekan, termasuk lebih dari 100 penangkapan, menyusul kemenangan Inggris atas Norwegia di babak perpanjangan waktu.
Polisi Atlanta telah menyiagakan personel dan sumber daya tambahan di sekitar venue, distrik hiburan, dan area padat lalu lintas. “Langkah proaktif ini dirancang untuk melindungi publik, mencegah aktivitas kriminal, dan memastikan pengalaman yang aman bagi semua,” ujar juru bicara kepolisian setempat.
Bagi Indonesia, rivalitas Inggris-Argentina mungkin tidak memiliki bobot historis langsung, tetapi pertandingan ini tetap relevan sebagai tontonan global yang menyatukan penggemar sepak bola di Tanah Air. Momentum ini juga mengingatkan bahwa sepak bola kerap menjadi cermin dinamika geopolitik—sebuah fenomena yang juga terlihat dalam rivalitas Indonesia-Malaysia di level regional. Pertanyaannya, akankah semangat sportivitas mampu meredam sentimen politik di lapangan?



