Kane Akui Timnas Inggris Kehilangan "Potongan Terakhir Puzzle" Usai Tersingkir di Semifinal Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Harry Kane menyebut Inggris masih kekurangan elemen kunci untuk menjadi juara setelah dikalahkan Argentina 2-1 di semifinal Piala Dunia 2026.
- Kritik tajam dialamatkan pada pelatih Thomas Tuchel yang dinilai terlalu defensif setelah unggul, dengan penguasaan bola hanya 12% sejak gol pertama hingga kebobolan.
- Ketua Eksekutif FA optimistis Inggris bisa memanfaatkan pengalaman ini untuk bersaing di Euro 2028 yang akan mereka gelar bersama tiga negara lain.

Kapten Timnas Inggris, Harry Kane, secara blak-blakan mengakui bahwa skuad The Three Lions masih kehilangan "potongan terakhir puzzle" untuk menjadi juara dunia, setelah mereka dipulangkan Argentina pada babak semifinal Piala Dunia 2026 dengan skor 2-1 di Atlanta. Kekalahan ini memperpanjang puasa gelar Inggris yang sudah berlangsung sejak 1966, dan memicu pertanyaan besar tentang mentalitas tim saat berada dalam tekanan.
Sempat unggul lebih dulu lewat gol Anthony Gordon pada menit ke-55, Inggris justru tampil pasif dan mengundang tekanan lawan. Dua gol Argentina dari Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez di menit-menit akhir membalikkan keadaan. Legenda Inggris, Wayne Rooney, menilai tim "runtuh" dan "terlalu pasif" setelah unggul. Statistik menunjukkan Inggris hanya memiliki 12% penguasaan bola sejak unggul hingga kebobolan gol kedua pada menit ke-92, sebuah angka yang sangat kontras dengan ambisi juara mereka.
Kane, yang mencetak enam gol selama turnamen, menulis di media sosial bahwa perasaan hampa ini sulit diungkapkan dengan kata-kata. "Kami sudah mengetuk pintu selama delapan tahun, tapi lagi-lagi kehilangan potongan terakhir puzzle. Kami harus pergi, memproses, dan mencari cara untuk menjadi lebih baik," ujarnya. Ini bukan pertama kalinya Inggris dituding bermain defensif di laga krusialโpola serupa terjadi saat final Euro 2021 di bawah Gareth Southgate, ketika mereka kalah adu penalti dari Italia setelah unggul 1-0.
Pelatih Thomas Tuchel membela diri dengan mengatakan bahwa tidak pernah ada rencana untuk bertahan dalam. "Mungkin memang bukan DNA kami untuk mengontrol permainan dan bola," ujarnya. Namun, sejumlah sumber internal mengindikasikan bahwa beberapa pemain kunci kecewa dengan pendekatan tim di akhir pertandingan. Keputusan Tuchel melakukan pergantian pemain defensif dinilai menjadi biang keladi kekalahan ini.
Bagi Indonesia, kegagalan Inggris ini menjadi pengingat bahwa sepak bola modern tidak hanya membutuhkan bakat individu, tetapi juga kecerdasan taktis dan mentalitas pantang menyerah. Pelajaran ini relevan bagi perkembangan sepak bola nasional yang tengah gencar membangun tim muda. Kegagalan Inggris yang berulang kali di ambang pintu final menunjukkan bahwa transisi dari tim "hampir juara" menjadi juara sejati membutuhkan lebih dari sekadar talentaโperlu perubahan budaya bermain dan keberanian mengambil risiko.
Jude Bellingham, yang tampil gemilang dengan enam gol, membagikan puisi berjudul "The Lions Way" yang ditulis sopir tim, Michael Chandler, sebagai bentuk refleksi. Ia menyerukan persatuan: "Jangan biarkan persatuan dan cinta yang kita lihat di negara ini berakhir dengan kampanye ini. Saat kita bersama, kita bisa mencapai hal-hal besar." Sementara itu, Ketua Eksekutif FA, Mark Bullingham, yakin Inggris bisa mengambil pelajaran berharga dan bersaing di Euro 2028 yang akan mereka gelar bersama Wales, Skotlandia, dan Irlandia. "Thomas dan para pelatih akan membangkitkan semua orang untuk itu," katanya.
Kini, Inggris harus bangkit untuk laga perebutan tempat ketiga melawan Prancis. Pertanyaan besarnya: mampukah Tuchel memperbaiki kelemahan fundamental ini sebelum Euro 2028, atau akankah sejarah kembali terulang?



