Polisi Inggris Imbau Suporter Dalam Negeri Tiru Sikap Fans di AS: 500 Insiden Terjadi
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 500 insiden terkait sepak bola terjadi di Inggris selama laga perempat final Piala Dunia, dengan lebih dari 100 penangkapan.
- Kepala Unit Polisi Sepak Bola Inggris membandingkan perilaku buruk suporter domestik dengan sikap tertib 40.000 fans di Miami yang tanpa masalah.
- Jam operasional pub diperpanjang untuk pertandingan semifinal, namun polisi khawatir akan peningkatan insiden alkohol.

Kepolisian Inggris mendesak para pendukung timnas di dalam negeri untuk meniru perilaku tertib rekan mereka di Amerika Serikat, menyusul lebih dari 500 insiden terkait sepak bola yang terjadi selama akhir pekan. Peristiwa itu berlangsung saat Inggris mengalahkan Norwegia 2-1 di perpanjangan waktu pada babak perempat final Piala Dunia, dengan lebih dari 100 orang ditahan.
Kontras dengan suasana di Miami, tempat pertandingan tersebut digelar, Kepala Unit Polisi Sepak Bola Inggris (UKFPU) Mark Roberts menyayangkan tingkah laku suporter di dalam negeri. “Suasana selama pertandingan penuh semangat namun bersahabat, tanpa ada permusuhan antarfans setelah laga usai. Sungguh memalukan bahwa hal yang sama tidak bisa dikatakan untuk perilaku fans di Inggris,” ujarnya.
Perpanjangan jam operasional pub di Inggris dan Wales memungkinkan suporter menonton seluruh pertandingan Norwegia yang dimulai pukul 22.00 BST. Kementerian Dalam Negeri Inggris menyatakan jam buka tambahan juga akan berlaku untuk laga Inggris selanjutnya, termasuk potensi final, sehingga tempat-tempat hiburan bisa tetap buka hingga 30 menit setelah peluit akhir.
Roberts sebelumnya memuji perilaku suporter Inggris di AS dan meminta hal itu ditiru di dalam negeri saat Inggris menghadapi Argentina di semifinal di Atlanta Stadium pada Rabu (20.00 waktu setempat). “Sebagian besar insiden terkait alkohol. Dengan jam operasional yang diperpanjang, kami melihat peningkatan panggilan ke tempat-tempat yang menayangkan pertandingan dan menarik banyak fans. Perilaku ini sungguh mengecewakan. Secara domestik, turnamen ini adalah yang terburuk dalam hal jumlah insiden dan penangkapan,” tegas Roberts.
Ia menambahkan, “Jika 40.000 fans bisa berkumpul di Miami tanpa masalah, mengapa fans di dalam negeri tidak bisa meniru perilaku teladan mereka? Menjelang pertandingan Rabu, saya mendesak fans di rumah untuk mengikuti contoh dari AS—nikmati pertandingan dan atmosfer, bersenang-senanglah tanpa menimbulkan masalah bagi diri sendiri dan orang lain.”
Sementara itu, Kepolisian Atlanta telah meningkatkan postur keamanan dan keselamatan publik di seluruh kota menjelang laga Inggris vs Argentina. Personel dan sumber daya tambahan telah dikerahkan di sekitar venue, distrik hiburan, dan area padat lalu lintas untuk memastikan pengalaman yang aman dan menyenangkan. “Langkah proaktif ini dirancang untuk melindungi publik, mencegah aktivitas kriminal, dan memastikan warga serta pengunjung dapat menikmati acara bersejarah ini dengan aman,” demikian pernyataan resmi kepolisian Atlanta.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa euforia turnamen global kerap memicu perilaku berlebihan. Dengan banyaknya pemirsa Indonesia yang menonton siaran langsung Piala Dunia di jam tayang malam hingga dini hari, potensi insiden serupa—meski dalam skala lebih kecil—perlu diantisipasi. Pertanyaannya, akankah suporter Indonesia mampu menjaga ketertiban seperti rekan mereka di Miami, atau justru mengikuti jejak buruk fans di Inggris?



