Milei Klaim 'Angin Perubahan' Dukung Klaim Argentina atas Falklands di Tengah Tekanan AS ke Inggris
Baca dalam 60 detik
- Presiden Argentina Javier Milei menyatakan dukungan AS yang mulai meninjau sikap netralnya menjadi peluang baru bagi klaim Buenos Aires atas Kepulauan Falklands.
- Langkah Milei mengumumkan sanksi bagi perusahaan yang terlibat eksplorasi minyak di sekitar kepulauan itu memicu ketegangan diplomatik baru dengan Inggris.
- Dengan elektabilitas yang merosot, isu Falklands menjadi alat politik domestik Milei menjelang pemilihan umum, sekaligus ujian bagi hubungan transatlantik.

Presiden Argentina, Javier Milei, dalam pidato nasional yang disiarkan langsung, Kamis (3/9), menegaskan bahwa klaim negaranya atas Kepulauan Falklands—yang oleh Argentina disebut Las Malvinas—kini mendapat angin segar. Ia merujuk pada sinyal Amerika Serikat yang mulai mempertimbangkan untuk mengubah sikap netralnya dalam sengketa berkepanjangan antara Argentina dan Inggris. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan akibat proyek eksplorasi minyak lepas pantai yang melibatkan perusahaan Inggris dan Israel di dekat kepulauan tersebut.
Sengketa Falklands memang bukan persoalan baru. Pada 1982, kedua negara sempat terlibat perang selama sepuluh pekan yang menewaskan ratusan tentara. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, isu ini kembali memanas setelah Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan menarik dukungannya terhadap kedaulatan Inggris jika London tidak meningkatkan belanja pertahanan. Ancaman ini, menurut Milei, menjadi peluang yang tidak boleh disia-siakan Argentina.
Dalam pidatonya, Milei mengumumkan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam proyek minyak di wilayah yang diklaim Argentina, termasuk perusahaan Inggris Rockhopper dan perusahaan Israel Navitas. Ia menegaskan bahwa proyek tersebut melanggar resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyerukan kedua pihak untuk menahan diri dari tindakan sepihak. "Jika kita membiarkan ini, kita akan memberi insentif bagi pemerintah Inggris untuk memperdalam pendudukan dan eksploitasi sumber daya kita," ujar Milei, seperti dikutip media setempat.
Langkah Milei ini tidak lepas dari konteks politik domestik. Dengan tingkat persetujuan publik yang anjlok—hanya sekitar 34 persen—dan pemilihan umum yang tinggal setahun lagi, isu Falklands menjadi alat untuk menggalang dukungan nasionalisme. Milei, yang dikenal dengan kebijakan ekonomi liberalnya yang kontroversial, tampaknya mencoba mengalihkan perhatian dari masalah dalam negeri ke isu kedaulatan yang selalu emosional bagi warga Argentina.
Di sisi lain, sikap AS yang mulai goyah menjadi sorotan. Dalam wawancara dengan jaringan televisi Inggris GB News, Trump mengkritik kurangnya dukungan militer Inggris terhadap perangnya dengan Iran dan menolak mengonfirmasi apakah ia akan membela Inggris dalam potensi konflik baru dengan Argentina. "Perang terakhir itu sudah lama sekali," ujar Trump meremehkan. Tomas Mugica, direktur Pusat Studi Internasional di Universitas Katolik Argentina, menilai bahwa "isu Falklands melayani tujuan Trump untuk menekan Inggris agar mematuhi tuntutannya terkait pendanaan NATO dan kerja sama dalam perang di Iran."
Bagi Indonesia, dinamika ini menarik untuk dicermati. Sebagai negara yang juga memiliki sejarah panjang dalam memperjuangkan kedaulatan wilayah, sikap AS yang pragmatis dan mudah berubah menjadi pengingat bahwa politik internasional kerap kali ditentukan oleh kepentingan sesaat. Indonesia, yang tengah giat memperkuat diplomasi maritim, dapat mengambil pelajaran bahwa kedaulatan bukan sekadar klaim historis, tetapi juga membutuhkan dukungan geopolitik yang kuat dan strategi yang cerdas.
Milei, yang selama ini menjadi pendukung setia Trump, melihat peninjauan kembali sikap AS sebagai pembenaran atas kebijakannya. "Amerika Serikat mempertimbangkan perubahan posisi ini karena mereka tahu Argentina adalah mitra yang dapat diandalkan," katanya. Sebaliknya, ia menyebut Inggris berada "di jalur kemunduran" akibat berbagai krisis migrasi, demografi, dan ekonomi.
Namun, apakah "angin perubahan" yang dimaksud Milei benar-benar akan membawa hasil nyata? Atau justru hanya menjadi retorika politik yang meredup seiring berjalannya waktu? Yang jelas, sengketa Falklands kembali menjadi panggung tarik-menarik kepentingan global, dengan Argentina berusaha memanfaatkan celah di antara dua kekuatan besar, AS dan Inggris. Pertanyaannya, akankah Buenos Aires mampu mengubah dukungan retoris menjadi kedaulatan nyata di atas kepulauan yang jauh dari daratan utamanya itu?



