Lima Tahun Riset, Lapangan Dallas Siap Ucapkan Selamat Tinggal Setelah Laga Semifinal Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Lapangan Dallas Stadium yang dibangun khusus untuk Piala Dunia 2026 akan dibongkar setelah laga semifinal antara Prancis dan Spanyol.
- Riset selama lima tahun melibatkan Universitas Tennessee dan Michigan State untuk menciptakan permukaan rumput yang konsisten di 16 venue.
- Rumput dari Colorado dan lampu tanam khusus digunakan untuk mengatasi tantangan stadion indoor tanpa sinar matahari langsung.

Laga semifinal Piala Dunia antara Prancis dan Spanyol di Dallas Stadium pada Selasa (12/7) tidak hanya menentukan siapa yang melaju ke final, tetapi juga menandai akhir dari sebuah proyek ambisius: lapangan rumput yang telah melalui lima tahun riset dan pengembangan. Setelah sembilan pertandingan dalam lebih dari empat pekan, permukaan lapangan yang dibangun di atas stadion kandang Dallas Cowboys itu akan segera dibongkar untuk memberi jalan bagi konser dan musim NFL berikutnya.
FIFA, melalui manajer lapangan Ian Craig, mengungkapkan bahwa persiapan lapangan untuk turnamen 48 tim ini dimulai sejak 2021. Tim ilmuwan rumput dan perawat lapangan bekerja sama dengan Universitas Tennessee dan Michigan State University untuk memastikan setiap lapangan di 16 venue serta lokasi latihan memiliki karakteristik yang seragam, terutama dalam hal guling dan pantulan bola. "Kami tidak hanya menanam rumput hijau. Kami harus memastikan lapangan ini bermain seperti yang biasa dirasakan pemain elite," ujar Craig.
Dallas, salah satu dari tiga stadion indoor dalam turnamen, menghadirkan tantangan unik. Minimnya sinar matahari dan penggunaan pendingin udara memaksa tim untuk mendatangkan rumput dari Colorado yang tahan suhu rendah. Selain itu, lampu tanam khusus dipasang di atap stadion dan dipindahkan pada hari non-pertandingan untuk menjaga pertumbuhan rumput. Lapangan tersebut dibangun setinggi 1,4 meter di atas permukaan lapangan artifisial milik Cowboys, dengan profil tanah lengkap dan elemen hibrida seperti yang lazim ditemukan di stadion elite Eropa.
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi pelajaran berharga dalam pengelolaan infrastruktur olahraga. Stadion-stadion di Indonesia, seperti Gelora Bung Karno atau Stadion Pakansari, sering menghadapi masalah kualitas rumput akibat cuaca tropis dan padatnya jadwal pertandingan. Pendekatan ilmiah yang digunakan FIFAโmulai dari pemilihan jenis rumput hingga teknologi pencahayaanโbisa menjadi referensi bagi pengelola stadion di Tanah Air untuk meningkatkan standar lapangan, terutama jika Indonesia berniat menjadi tuan rumah turnamen internasional di masa depan.
Setelah laga semifinal selesai, Craig dan timnya akan segera membongkar lapangan. "Stadion ini sangat sibuk, banyak acara. Lapangan ini sudah menyelesaikan tugasnya, dan selanjutnya akan ada konser serta NFL lagi," kata Craig. Pertanyaan yang tersisa: akankah teknologi serupa digunakan kembali jika Amerika Serikat menjadi tuan rumah Piala Dunia lagi? Atau justru akan ada inovasi baru yang lebih efisien?



