Spanyol Gagalkan Mimpi Prancis: Dominasi Mutlak di Semifinal Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Spanyol menekuk Prancis 2-0 di semifinal Piala Dunia, menunjukkan superioritas penguasaan bola dan pressing ketat.
- Kemenangan ini membawa La Roja ke final pertama sejak 2010, berpeluang mengulang sukses era emas.
- Prancis gagal memanfaatkan ketajaman lini depan mereka, dan kini harus puas bertarung di perebutan tempat ketiga.

Spanyol memastikan tempat di final Piala Dunia setelah menundukkan Prancis dengan skor telak 2-0 di AT&T Stadium, Arlington, Texas, Selasa (14/7) dini hari WIB. Kemenangan ini bukan sekadar angka, melainkan pernyataan dominasi total atas tim yang sebelumnya dianggap memiliki serangan paling mematikan di turnamen.
Sejak peluit pertama dibunyikan, Spanyol langsung menerapkan strategi yang oleh banyak pengamat disebut sebagai "pelukan anakonda". Mereka menekan tanpa henti, menguasai bola, dan mematikan ruang gerak para pemain depan Prancis. Hasilnya, Les Bleus hanya mampu melepaskan dua tembakan tepat sasaran sepanjang lagaโsebuah rekor terburuk mereka di turnamen ini.
Gol pertama lahir pada menit ke-22 melalui penalti Mikel Oyarzabal setelah Lamine Yamal dilanggar Lucas Digne di kotak terlarang. Eksekusi Oyarzabal yang melambung tinggi tak mampu dijangkau Mike Maignan. Keunggulan tersebut membuat Prancis, yang sebelumnya tak pernah tertinggal di Piala Dunia ini, tampil gamang. Waktu istirahat minum yang dijadwalkan menjadi penyelamat sementara bagi pelatih Didier Deschamps untuk menata ulang timnya, namun upaya itu sia-sia.
Spanyol menggandakan keunggulan pada menit ke-58 melalui Pedro Porro. Berawal dari kerja sama apik dengan Dani Olmo, Porro dengan tenang menyelesaikan peluang menjadi gol. Bek sayap itu kemudian mengungkapkan kebahagiaannya: โIni mimpi yang menjadi kenyataan. Kami melakukan segalanya dengan benar melawan tim yang tampil brilian sepanjang Piala Dunia.โ
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Prancis, yang berharap merayakan Hari Bastille dengan tiket final. Pelatih Didier Deschamps mengakui keunggulan lawan: โSecara teknis, kami kalah kelas. Spanyol sangat pandai memotong aliran bola dan membaca permainan. Kami kurang presisi dan energi.โ Kapten Kylian Mbappe juga tak menampik kelemahan timnya: โKami gagal dalam pressing, dan saat merebut bola, sentuhan pertama tidak layak untuk semifinal Piala Dunia.โ
Bagi Spanyol, kemenangan ini membawa mereka selangkah lagi menuju gelar juara dunia kedua setelah 2010. Jika berhasil, mereka akan menjadi negara pertama sejak Jerman (2014) yang meraih gelar ganda Piala Dunia dan Kejuaraan Eropa secara beruntun. Kunci keberhasilan Spanyol terletak pada kolektivitas tim yang luar biasa. Mereka bermain seperti klub elit, dengan pergerakan dan umpan yang terasa telepatis. Lamine Yamal, yang menjadi inspirasi di lini depan, menunjukkan kematangan di luar usianya.
Di sisi lain, Prancis harus bangkit untuk laga perebutan tempat ketiga. Deschamps dihadapkan pada tugas berat memulihkan mental pemainnya yang hancur. Sementara itu, Spanyol menunggu pemenang laga Inggris vs Argentina untuk menentukan lawan di partai puncak, Minggu (18/7) mendatang.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, dominasi Spanyol ini menjadi tontonan menarik. Gaya bermain tiki-taka yang sempat dianggap usang ternyata masih ampuh di level tertinggi. Mampukah mereka mengulang kejayaan era 2008-2012? Atau justru lawan di final akan menjadi batu sandungan? Jawabannya akan segera terungkap.



