Messi di Titik Penalti: Antara Kejeniusan dan Kerapuhan dari 12 Langkah
Baca dalam 60 detik
- Lionel Messi gagal mengeksekusi dua penalti di Piala Dunia 2026, menjadikannya pemain pertama yang meleset dua kali dalam satu edisi turnamen.
- Tingkat konversi penalti Messi (78,8%) jauh di bawah rata-rata penyerang elite seperti Kane (90,7%) dan Ronaldo (85,2%), meski ia unggul dalam penyelesaian akhir dari permainan terbuka.
- Pelatih Argentina Lionel Scaloni tetap memberikan kepercayaan penuh kepada Messi sebagai algojo utama, meski alternatif seperti Paredes dan Mac Allister memiliki catatan lebih baik.

Lionel Messi kembali menjadi pusat perhatian di Piala Dunia 2026, bukan hanya karena aksi gemilangnya membawa Argentina bangkit dari ketertinggalan 2-0 melawan Mesir, melainkan juga karena dua kegagalannya dari titik putih. Untuk pertama kalinya dalam sejarah turnamen, seorang pemain melewatkan dua penalti dalam waktu normal di edisi yang sama. Pertanyaan yang semula tabu kini menggema: haruskah Argentina mencabut tugas penalti dari sang megabintang?
Dalam laga babak 16 besar melawan Mesir, Messi gagal menyamakan kedudukan saat Argentina tertinggal 1-0. Eksekusinya yang lemah dan tanpa arah jelas mudah diamankan kiper Mostafa Shobeir. Beruntung, Argentina mampu membalikkan keadaan lewat gol Cristian Romero, Messi sendiri, dan Enzo Fernández di masa injury time. Namun, kegagalan itu menjadi yang kedua setelah ia juga meleset saat melawan Austria di fase grup. Secara keseluruhan, dari delapan penalti yang diambil Messi di Piala Dunia (tidak termasuk adu penalti), hanya empat yang berbuah gol.
Data statistik mempertegas ironi tersebut. Sepanjang kariernya, Messi mengonversi 114 dari 148 penalti di luar adu penalti, atau sekitar 77%. Angka ini sedikit di bawah rata-rata historis yang diperkirakan Opta sebesar 79%. Sebagai perbandingan, Harry Kane mencatatkan akurasi 90,7%, Cristiano Ronaldo 85,2%, Erling Haaland 84,1%, dan Kylian Mbappé 81,0%. Sementara itu, dari permainan terbuka di Piala Dunia, Messi justru mencetak 17 gol non-penalti dari peluang bernilai 13,1 expected goals, menunjukkan kemampuannya yang luar biasa dalam menyelesaikan peluang.
Mengapa Messi, yang begitu brilian dalam permainan terbuka, justru kesulitan dari titik penalti? Analis menunjuk pada gaya bermainnya yang mengandalkan improvisasi. Messi kerap menunggu pergerakan kiper sebelum menentukan arah tembakan. Strategi ini berisiko tinggi: jika kiper tidak bergerak lebih dulu, Messi harus mengambil keputusan di detik terakhir sambil mengalihkan pandangan dari bola. Sebaliknya, penalti andal seperti Kane dan Robert Lewandowski mengandalkan rutinitas yang sangat terulang dan presisi tinggi. Di era modern, kiper dan analis memiliki akses ke data dan video yang memungkinkan mereka mempelajari kebiasaan lawan secara mendetail, membuat pendekatan improvisasi Messi semakin rentan.
Kendati demikian, mengganti eksekutor penalti bukanlah perkara mudah. Roy Keane, legenda Manchester United, menilai Messi "hampir kehilangan kepercayaan diri" dalam situasi penalti. Sementara Ian Wright mempertanyakan keberanian rekan setim untuk mengambil alih tugas tersebut. Pelatih Lionel Scaloni pun memberikan dukungan penuh: "Leo akan mengambil penalti jika dia mau. Kami punya pemain lain yang mampu, tapi jika dia mau, dia yang ambil."
Argentina memiliki sejumlah alternatif dengan catatan lebih baik: Leandro Paredes (92,9%), Alexis Mac Allister (91,7%), dan Enzo Fernández (91,7%). Namun, hierarki tim dan status legenda membuat perubahan sulit dilakukan. Messi sendiri mengakui kegagalannya sangat membebani: "Saya menangis karena merasa mengecewakan rekan setim."
Dengan Argentina yang akan menghadapi Swiss di perempat final, tekanan semakin besar. Tim Tango telah menerima delapan penalti dalam dua Piala Dunia terakhir — dua kali lipat dari tim lain. Jika Messi kembali mendapat kesempatan dari titik putih, akankah ia mampu mengatasi tekanan? Atau akankah Scaloni akhirnya mengambil keputusan sulit? Satu hal yang pasti: dalam turnamen dengan margin sekecil ini, setiap penalti bisa menjadi penentu antara langkah selanjutnya atau kepulangan lebih awal.



